Bea Cukai Aceh Musnahkan 26 Ton Gula Impor Ilegal

Kompas.com - 19/12/2013, 21:20 WIB
Sebuah alat berat dikerahkan di TPA Kampung Jawa, untuk memusnahkan gula ilegal impor hasil sitaan Bea Cukai dan Polres Banda Aceh selama tahun 2011-2012. Sebanyak 26 ton gula impor ilegal dimusnahkan pada Kamis 19/12/2013. Kompas.com/ Daspriani Y ZamzamiSebuah alat berat dikerahkan di TPA Kampung Jawa, untuk memusnahkan gula ilegal impor hasil sitaan Bea Cukai dan Polres Banda Aceh selama tahun 2011-2012. Sebanyak 26 ton gula impor ilegal dimusnahkan pada Kamis 19/12/2013.
|
EditorFarid Assifa

BANDA ACEH, KOMPAS.com -
Sebanyak 26 ton gula impor ilegal akhirnya dimusnahkan oleh petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai TMP C Banda Aceh. Sebagian gula impor ini juga merupakan hasil tegahan Kepolisian Resor Banda Aceh.

Kepala KPPBC TMP C Banda Aceh, Beni Novri, mengatakan, gula-gula ini disita pada periode tahun 2011 dan 2012. "Gula-gula ini diimpor melalui pelabuhan bebas Sabang, dan melanggar ketentuan UU Nomor 37 tahun 2000 tentang kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas Sabang," kata Beni Novri seusai melakukan pemusnahan, Kamis sore (19/12/2013).

Beni Novri mengatakan, upaya pemusnahan ini dilakukan juga setelah mendapat persetujuan dari Kementrian Keuangan. "Pemusnahan barang bukti ini diizinkan karena barang buktinya sudah dalam kondisi rusak," jelasnya.

Barang bukti gula yang dimusnahkan berjumlah 114 karung gula isi 50 kg, 159 karung, 226 karung dan 42 potongan karung dengan jumlah total sebanyak 26 ton. Pemusnahan dilakukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kampung Jawa, Banda Aceh yang turut disaksikan oleh pejabat kepolisian dan militer setempat.

Diakui Novri, perairan Aceh banyak dimanfaatkan untuk kegiatan impor barang secara ilegal, terutama jalur masuk melalui Pelabuhan Bebas Sabang. "Kita memang terus meningkatkan pengawasan di kawasan pelabuhan bebas Sabang, dan untuk meminimalisasinya, kita juga terus berkoordinasi dengan militer kelautan dan polisi airud," jelasnya.

Selain pelabuhan bebas Sabang, beberapa pelabuhan tikus yang digunakan nelayan juga disinyalisasi sering membawa barang-barang impor ilegal berasal dari Malaysia dan Thailand, berupa gula, beras ketan dan bawang merah.

"Saat ini masih ada barang bukti yang belum dimusnahkan karena masih dalam proses hukum, seperti sisa gula pasir, bawang merah dan beras ketan," jelas Novri.

Sepanjang tahun 2011-2012, petugas juga sudah memastikan status hukum untuk empat tersangka terkait impor gula ilegal tersebut.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X