Buaya Masuk ke Permukiman Warga di Kutai Timur

Kompas.com - 25/10/2013, 21:06 WIB
Ilustrasi: buaya tangkapan warga Sungai Rengas, Kubu Raya, diikat di halaman rumah warga setempat, Rabu (16/10/2013). TRIBUNPONTIANAK/ZULKIFLIIlustrasi: buaya tangkapan warga Sungai Rengas, Kubu Raya, diikat di halaman rumah warga setempat, Rabu (16/10/2013).
|
EditorFarid Assifa

SAMARINDA, KOMPAS.com - Buaya sepanjang 145 centimeter dan lebar 19 centimeter mengusik permukiman warga di Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim), Kamis (24/10/2013). Untuk mencegah buaya tersebut menyerang manusia atau hewan ternak mereka, warga kemudian menangkapnya.

Buaya berjenis anakan buaya muara (crocodillus porosus) itu lalu diikat di bagian mulut dan kakinya. Setelah itu, warga kemudian menghubungi petugas Taman Nasional Kutai (TNK).

Dihubungi melalui telepon seluler, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Sangatta, Kutai Timur Hernowo Supriyanto mengatakan, saat mendapat laporan dari warga, ia bergegas menuju lokasi temuan buaya ditemani beberapa petugas TNK yang lain.

“Sebenarnya buaya masuk ke pemukiman warga ini merasa terganggu. Sebab warga yang bermukim di kawasan TNK sudah masuk sampai ke habitat buaya di sungai Kanibungan, sehingga terjadi konflik antara manusia dan habitat buaya. Sehingga mendorong mereka untuk berkeliaran di permukiman warga,” kata Hernowo, Jumat (25/10/2013).

Buaya yang berusia sekira 2 tahun ini kemudian dibawa petugas TNK untuk dilepaskan ke Danau Cermin, masih di Kecamatan Teluk Pandan. Danau Cermin dijadikan lokasi pelepasan karena, menurut Hernowo, kawasan itu merupakan habitat buaya yang tepat. Tak ada permukiman penduduk di sana. Selain itu, sudah banyak buaya yang direlokasi ke tempat tersebut.

“Dipastikan di Danau Cermin tidak ada permukiman warga, sehingga cocok untuk dijadikan habitat buaya. Jadi konflik antara buaya dengan manusia tak terjadi di sana,” katanya.

Hernowo mengimbau pada masyarakat, jika menemukan buaya atau satwa liar lainnya, agar jangan dibunuh. Sebaiknya langsung dilaporkan ke Balai TNK atau ke Badan Konservasi Sumber Daya Alam Kaltim.

“Masyarakat harus ikut menjaga kelestarian satwa liar seperti buaya. Untuk menghindari konflik dengan buaya, masyarakat kita imbau jangan melakukan aktivitas pembangunan di habitatnya sepanjang sungai,” harapnya.

Diketahui, Taman Nasional Kutai memang merupakan areal konservasi. Sayangnya, banyak penduduk membuka lahan di wilayah tersebut dan mengklaim itu sebagai tanahnya. Upaya pelepasan kawasan sudah dilakukan oleh pemerintah agar masyarakat bisa memiliki tanah di lokasi itu.

Masuknya buaya ke permukiman warga tidak hanya sekali ini saja. Sudah beberapa kali buaya ini mencari makan di permukiman warga. Bahkan menurut laporan warga, penyerangan buaya terhadap manusia di kawasan TNK juga sudah beberapa kali terjadi.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengakuan Pasien Covid-19 yang Sembuh : Corona Tak Hanya Kematian, tapi Ada Kehidupan di Dalamnya

Pengakuan Pasien Covid-19 yang Sembuh : Corona Tak Hanya Kematian, tapi Ada Kehidupan di Dalamnya

Regional
Bukannya Kabur Saat Dipergoki Polisi, Belasan Pembalak Liar Malah Santai

Bukannya Kabur Saat Dipergoki Polisi, Belasan Pembalak Liar Malah Santai

Regional
120 Boks Masker di Dinkes Cilegon Hilang Dicuri, Pelakunya PNS dan Honorer di Dinkes

120 Boks Masker di Dinkes Cilegon Hilang Dicuri, Pelakunya PNS dan Honorer di Dinkes

Regional
Saat Akan Ditangkap, Pelaku Ini Kelabui Polisi dengan Alasan Buang Air Kecil Lalu Melarikan Diri

Saat Akan Ditangkap, Pelaku Ini Kelabui Polisi dengan Alasan Buang Air Kecil Lalu Melarikan Diri

Regional
Enam Bulan Diselidiki,  Kapal Pengangkut Kayu Ilegal Berhasil Ditangkap di Riau

Enam Bulan Diselidiki, Kapal Pengangkut Kayu Ilegal Berhasil Ditangkap di Riau

Regional
Update Tracing Pelatihan Petugas Haji di Surabaya: 11 Orang Positif Covid-19, 1 Meninggal

Update Tracing Pelatihan Petugas Haji di Surabaya: 11 Orang Positif Covid-19, 1 Meninggal

Regional
Elemen Sipil Sebut Jam Malam Timbulkan Trauma Masa Konflik Aceh

Elemen Sipil Sebut Jam Malam Timbulkan Trauma Masa Konflik Aceh

Regional
Tiba di Solo, Pemudik Dijemput Bus Menuju Tempat Karantina

Tiba di Solo, Pemudik Dijemput Bus Menuju Tempat Karantina

Regional
Kronologi Puluhan Warga Kampung Hadang Polisi Setelah Pergoki Belasan Pembalak Liar

Kronologi Puluhan Warga Kampung Hadang Polisi Setelah Pergoki Belasan Pembalak Liar

Regional
Komunitas Kopi Jabar Bagikan 1.000 Botol Kopi ke Tenaga Medis Covid-19

Komunitas Kopi Jabar Bagikan 1.000 Botol Kopi ke Tenaga Medis Covid-19

Regional
Data Covid-19 Pemprov Sumbar Beda dengan Nasional

Data Covid-19 Pemprov Sumbar Beda dengan Nasional

Regional
Wali Kota Tasikmalaya Larang RW Tarik Pungutan Semprot Disinfektan ke Warga

Wali Kota Tasikmalaya Larang RW Tarik Pungutan Semprot Disinfektan ke Warga

Regional
Kesal Tak Diberi Uang untuk Beli Motor, Pemuda di Cianjur Bakar Rumah Orangtuanya

Kesal Tak Diberi Uang untuk Beli Motor, Pemuda di Cianjur Bakar Rumah Orangtuanya

Regional
Bantah Nikahi Anak 7 Tahun, Syekh Puji: Ada Skenario Permintaan Uang Rp 35 M dan Ancaman

Bantah Nikahi Anak 7 Tahun, Syekh Puji: Ada Skenario Permintaan Uang Rp 35 M dan Ancaman

Regional
Pergoki Pembalak Liar, Polisi Malah Dihadang Puluhan Warga Kampung

Pergoki Pembalak Liar, Polisi Malah Dihadang Puluhan Warga Kampung

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X