Kompas.com - 10/09/2013, 13:47 WIB
Seorang pekerja sedang merebus kedelai yang akan di olah menjadi tempe disebuah tempat pembuatan tempe di Singkawang, Kalimantan Barat (10/9/2013). KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWANSeorang pekerja sedang merebus kedelai yang akan di olah menjadi tempe disebuah tempat pembuatan tempe di Singkawang, Kalimantan Barat (10/9/2013).

SINGKAWANG, KOMPAS.com
- Melambungnya harga kacang kedelai, yang disusul dengan kelangkaannya menyulitkan para perajin tempe. Agar tetap bisa berproduksi di tengah tingginya harga bahan baku yang tinggi, mereka memilih memperkecil ukuran tempe. Dengan demikian mereka tidak perlu menaikkan harga jual.

Mereka juga menyiasati kelangkaan kedelai impor dengan menggunakan kedelai lokal meskipun kualitasnya berbeda. “Kita biasa pakai kedelai Amerika, itu bagus kualitasya, tapi sekarang harganya udah sebelas ribu perkilo, tapi barang lagi kosong. Sekarang kita pakai kedelai lokal dari Jawai Pemangkat, harganya masih sembilan ribu, tapi katanya mau naik lagi” kata Sutiana, Selasa (10/9/2013), seorang pengusaha tempe yang sudah sejak 50 tahun menjalankan usaha turun temurun keluarganya di Singkawang, Kalimantan Barat.

Sutiana mengaku tidak bisa menaikkan harga jual tempe lantaran belum ada kesepakatan dengan para pengusaha tempe lainnya. “Susah juga kita mau menaikkan harga, karena kita di sini tidak kompak. Kita mau naikkan harga, tapi kawan yang lain tidak, nanti pelanggan kita pada lari. Jadi kita kecilkan ukurannya, harga jual tetap seperti biasa, kalo saya naikkan harga nanti pedagang bisa protes, tempe kita ndak laku, bisa bangkrut saya," ujar Sutiana.

Pengusaha tempe lainnya, Rubiah, mengaku tidak terlalu terpengaruh dengan kenaikan harga kedelai di pasaran. “Kita produksi skala besar, kedelai memang lagi susah, tapi saya masih bisa dapat pasokan kedelai dari agen langganan. Kalau harga memang kita tidak naikkan, tapi ukurannya saja yang kita kecilkan, misal sebelumnya ukuran dua kilo per bungkus, kita turunkan timbangan jadi satu setengah kilo,” kata Rubiah yang sudah 13 tahun menekuni usaha pembuatan tempe.

Dalam sehari, usaha pembuatan tempe milik Rubiah bisa memproduksi tempe hingga 300 kg kedelai. Tempe tersebut didistribusikan ke daerah-daerah seperti di Sambas, Pemangkat, Sungai Duri, Bengkayang dan Serukam. Mereka berharap pemerintah bisa menstabilkan harga bahan baku kedelai dipasaran, supaya mereka bisa mempertahankan usaha mereka.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengusaha Langgar Aturan, Walkot Bobby Robohkan Bangunan di Atas Drainase

Pengusaha Langgar Aturan, Walkot Bobby Robohkan Bangunan di Atas Drainase

Regional
100 Hari Kerja Walkot Bobby Fokus Atasi Sampah, Walhi: Ini Langkah Tepat

100 Hari Kerja Walkot Bobby Fokus Atasi Sampah, Walhi: Ini Langkah Tepat

Regional
Kejar Medali Emas, Provinsi Papua Kirim 14 Atlet Sepak Takraw ke PON XX 2021

Kejar Medali Emas, Provinsi Papua Kirim 14 Atlet Sepak Takraw ke PON XX 2021

Regional
Wabup Luwu Utara Resmikan Program Air Bersih untuk 60 KK di Desa Pombakka, Malangke Barat

Wabup Luwu Utara Resmikan Program Air Bersih untuk 60 KK di Desa Pombakka, Malangke Barat

Regional
Tinjau Vaksinasi di Tanjung Emas, Walkot Hendi Pastikan Vaksin Covid-19 Aman Digunakan

Tinjau Vaksinasi di Tanjung Emas, Walkot Hendi Pastikan Vaksin Covid-19 Aman Digunakan

Regional
Kejari Semarang Bantu Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar, Pemkot Berikan Apresiasi

Kejari Semarang Bantu Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar, Pemkot Berikan Apresiasi

Regional
Penanganan Covid-19 di Kota Medan Dinilai Sudah “On the Track”, Pengamat Kesehatan Puji Kinerja Bobby

Penanganan Covid-19 di Kota Medan Dinilai Sudah “On the Track”, Pengamat Kesehatan Puji Kinerja Bobby

Regional
Ada 499 Pasien Covid-19 dari Luar Semarang, Walkot Hendi Siapkan Hotel untuk Karantina

Ada 499 Pasien Covid-19 dari Luar Semarang, Walkot Hendi Siapkan Hotel untuk Karantina

Regional
Apresiasi Penanganan Covid-19  di Luwu Utara, Kapolda Sulsel: Protokol Kesehatan Jangan Kendor

Apresiasi Penanganan Covid-19 di Luwu Utara, Kapolda Sulsel: Protokol Kesehatan Jangan Kendor

Regional
Bupati IDP Harap Kedatangan Pangdam XIV Hasanuddin dan Rombongan Bisa Bantu Pulihkan Luwu Utara

Bupati IDP Harap Kedatangan Pangdam XIV Hasanuddin dan Rombongan Bisa Bantu Pulihkan Luwu Utara

Regional
Antisipasi Kerumunan, Wali Kota Hendi Batasi Kuota Vaksinasi 'Drive Thru'

Antisipasi Kerumunan, Wali Kota Hendi Batasi Kuota Vaksinasi "Drive Thru"

Regional
Pemkab Luwu Utara Genjot Pembangunan 1.005 Huntap Bagi Korban Banjir Bandang

Pemkab Luwu Utara Genjot Pembangunan 1.005 Huntap Bagi Korban Banjir Bandang

Regional
Pastikan Luwu Utara Bebas BAB Sembarangan, Bupati IDP Harap Hasil Verifikasi Kabupaten ODF Valid

Pastikan Luwu Utara Bebas BAB Sembarangan, Bupati IDP Harap Hasil Verifikasi Kabupaten ODF Valid

Regional
Tercatat 217 UMKM Ajukan Surat PIRT, Bupati Lampung Timur: Jangan Dipersulit

Tercatat 217 UMKM Ajukan Surat PIRT, Bupati Lampung Timur: Jangan Dipersulit

Regional
Dua Bangunan di Kota Metro Jadi Cagar Budaya, Walkot Wahdi: Bisa Jadi Referensi Penelitian

Dua Bangunan di Kota Metro Jadi Cagar Budaya, Walkot Wahdi: Bisa Jadi Referensi Penelitian

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X