Kompas.com - 09/09/2013, 15:00 WIB
Iroakad (70) menata singkong yang dijemur di halaman depan rumahnya di Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, akhir September 2012 lalu. Singkong kering merupakan bahan baku utama pembuataan tiwul, makanan pokok pengganti beras.

KOMPAS/RUNIK SRI ASTUTIIroakad (70) menata singkong yang dijemur di halaman depan rumahnya di Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, akhir September 2012 lalu. Singkong kering merupakan bahan baku utama pembuataan tiwul, makanan pokok pengganti beras.
EditorKistyarini

KOMPAS.com - Tiwul identik dengan santapan harian warga miskin di daerah tandus. Namun, menu makanan yang terbuat dari ubi kayu itu sesungguhnya adalah cara masyarakat untuk mempertahankan diri dari ancaman kelaparan ketika musim kemarau berkepanjangan melanda.

Obrolan ringan mengiringi aktivitas 15 perempuan di teras sebuah rumah di Dusun Kalisonggo, Desa Karangmojo, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pekan lalu. Sambil duduk berselonjor di atas tanah, tangan mereka sibuk mengupas kulit singkong. Beberapa anak kecil ikut di dekat ibunya.

Potongan singkong berwarna putih yang selesai dikupas terhampar dijemur di dekat mereka. Pada musim kemarau, pemandangan perempuan mengupas ubi kayu untuk dijadikan gaplek, dan selanjutnya tiwul, menjadi hal lazim di dusun ini.

Sepanjang musim ini dimanfaatkan untuk membuat tiwul sebagai persediaan berbulan-bulan, bahkan setahun. Pembuatan tiwul membutuhkan sinar matahari berlimpah. Singkong yang sudah dikupas, dijemur hingga kering menjadi gaplek. Setelah dicuci, lantas ditumbuk menjadi tepung dan disimpan. Tepung ini dikukus menjadi tiwul.

”Kebiasaan warga di sini saat kemarau adalah membuat tiwul yang bisa disimpan hingga setahun,” ujar Sumiarsih (22), warga Kalisonggo.

Semangat gotong-royong

Tiwul adalah ketahanan pangan dan semangat gotong-royong warga Kalisonggo. Tanah Kalisonggo yang tandus membuat warga tidak bisa menanam padi. Mereka harus membeli beras jika ingin makan nasi. Padahal, penghasilan mereka yang rata-rata hanya lulusan SMP tak seberapa. Kebanyakan mengandalkan lahan yang hanya dapat ditanami palawija, seperti jagung, kedelai, dan kacang tanah. Panen palawija paling banyak dua kali dalam setahun. Itu pun jika curah hujan cukup banyak.

Pada musim kemarau, mereka menanam singkong yang harga jualnya tak lebih dari
Rp 2.000 per kilogram. Sebagian besar singkong hasil panen dikonsumsi sendiri, setelah diolah menjadi tiwul. Jika tanah terlalu kering karena hujan tak kunjung turun, mereka tidak bisa menanam apa pun. Beternak pun tidak lagi bisa diharapkan. Hampir tidak ada lagi warga yang memelihara kambing atau sapi karena sulit mencari rumput segar dan air minum ternak.

Banyak warga dusun itu yang lalu merantau menjadi kuli angkut, penjual jamu gendong, pedagang bakso, dan lainnya sehingga hanya menyisakan orang tua dan anak kecil. Ada yang berhasil, tetapi tak sedikit yang hanya bisa menyambung hidup. Namun, perantau ini akan langsung pulang jika mendengar tetangga mereka di kampung sakit atau menyelenggarakan hajatan. Ikatan antarwarga masih erat.

”Semua perantau pasti pulang meski saat itu kami hanya punya uang untuk ongkos perjalanan,” kata Yatmi (44), warga Kalisonggo yang menjadi kuli gendong di Pasar Giwangan, Yogyakarta.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Antisipasi Arus Balik di Bakauheni, Disiapkan 200.000 Alat Rapid Test

Antisipasi Arus Balik di Bakauheni, Disiapkan 200.000 Alat Rapid Test

Regional
Beberapa Titik di Medan Dilanda Banjir, Bobby Pastikan Warga Terdampak Tak Kekurangan Pangan

Beberapa Titik di Medan Dilanda Banjir, Bobby Pastikan Warga Terdampak Tak Kekurangan Pangan

Regional
Bupati Bener Meriah Alami Pecah Pembuluh Darah, Dibawa ke Medan

Bupati Bener Meriah Alami Pecah Pembuluh Darah, Dibawa ke Medan

Regional
Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Regional
Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Regional
Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Regional
H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

Regional
12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

Regional
Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Regional
Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Regional
Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Regional
Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Regional
Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Regional
Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Regional
Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X