Salin Artikel

Tangis Haru Nenek Supiyati Melihat Cucunya yang Terancam Putus Sekolah Bisa Masuk SMP

Bagaimana tidak, hampir saja cucunya terancam putus sekolah dan tak bisa menggapai cita-cita lantaran berbagai keterbatasan.

Nenek Supiyati sebelumnya kebingungan apakah cucunya yang baru lulus dari SDN 1 Kemendung, Muncar bisa melanjutkan sekolah atau tidak.

Ia bahkan sempat meminta cucunya untuk tidak sekolah terebih dahulu.

"Ya Allah terima kasih. Cucu saya akhirnya bisa sekolah. Setelah lulus SD, saya sudah bilang sama Irma, mungkin terpaksa tidak sekolah dulu. Saya sudah tua dan kesehatan menurun," kata Supiyati dikutip dari rilis Pemkab Banyuwangi, Kamis (27/5/2021).

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bahkan ikut menjemput Irmawati dan mendampinginya masuk ke SMPN 3 Muncar.

Hal ini dilakukan saat berkantor di Desa Kumendung, Muncar.

Tinggal dengan sang nenek sejak lahir

Irma adalah seorang anak yatim dan sejak lahir tinggal bersama neneknya.

Di rumah berukuran sekitar 5x5 meter itu keduanya tinggal bersama.

Supiyati hanya membuka warung kecil yang menjual makanan ringan di samping rumahnya.

Penghasilannya tidak seberapa. Situasi menjadi kian sulit karena kondisi kesehatan Supiyati mulai menurun.

Supiyati sebenarnya berharap pada ibu kandung Irmawati yang tinggal di kecamatan lain, namun tidak pernah ada kepastian.

"Sejak kecil anak ini sudah saya rawat. Ibunya masih ada, tapi juga tidak bekerja," kata Supiyati.

Irmawati juga terlambat sekolah beberapa tahun dibandingkan anak seusianya.

Selama ini, meski sekolahnya jauh, Irma tetap semangat sekolah. Biasanya dia berangkat sendiri mengendarai sepeda, meski matanya mengalami masalah.

"Tidak ada yang ngantar, berangkat sendiri naik sepeda," kata anak yang bercita-cita menjadi koki itu.

Supiyati mengatakan, Irma adalah anak yang penuh semangat. Selama ini dia terbiasa mandiri.

Selain berangkat sekolah sendiri, dia juga membuat sarapan sendiri. "Masakannya juga enak. Dia senang belajar masak," katanya.

Hati Irmawati pun kini lega karena bisa kembali bersekolah. "Senang rasanya akhirnya bisa sekolah," kata Irmawati.

Menjelang PPDB yang akan dibuka awal Juni 2021, Bupati Ipuk mengintruksikan kepada Dinas Pendidikan untuk jemput bola terutama kepada para pelajar kurang mampu.

Hal ini untuk memastikan mereka bisa mengakses PPDB dan tetap melanjutkan sekolah.

Selain dibantu untuk sekolah lagi, ia juga mengintruksikan kepada Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro untuk memasukkan warung Supiyati dalam progran Warung Naik Kelas (Wenak).

Warung Supiyati akan mendapat bantuan berbagai alat usaha dan pembenahan warung.

Ipuk juga meminta jajarannya untuk memfasilitasi bantuan kacamata kepada Irma, agar Irma bisa melihat lebih sempurna.

Ipuk mengatakan, PPDB tahun ini harus diikuti dengan program jemput bola kepada para pelajar kurang mampu.

Pandemi Covid-19 membuat potensi anak putus sekolah meningkat. Meski biaya dasar sekolah sudah gratis, ada beberapa kendala yang dihadapi keluarga kurang mampu, seperti mengajak anak untuk bekerja membantu orang tua.

“Dengan jemput bola, kita cegah anak putus sekolah," kata Ipuk.

Apalagi, sambung Ipuk, PPDB sebagai sebuah sistem memang terdiri atas beberapa mekanisme. Keluarga kurang mampu bisa jadi kesulitan mengikuti alur yang ada.

“PPDB ini sistem, di situ ada mekanisme yang harus dicermati, seperti pagu sekolah, kemudian harus buka website PPDB. Untuk buka website saja, kan keluarga kurang mampu bisa jadi kesulitan. Makanya harus jemput bola, harus kita dampingi,” ujar Ipuk.

Ipuk pun mengintruksikan jajaran Dinas Pendidikan lebih proaktif mencari anak yang berpotensi putus sekolah.

"Semua harus bergerak. Camat juga harus bantu dampingi pelajar kurang mampu. Termasuk seluruh warga, saling menginfokan, misal ada tetangganya belum daftar PPDB, infokan ke perangkat, agar ditindaklanjuti,” beber Ipuk.

Ada empat jalur pada PPDB tahun ini.

Pertama, zonasi dengan kuota 50 persen untuk pelajar di sekitar sekolah. Kedua, jalur prestasi 30 persen. Ketiga, jalur afirmasi pelajar kurang mampu 15 persen. Keempat, jalur perpindahan tugas orangtua/wali 5 persen.

https://regional.kompas.com/read/2021/05/27/160825678/tangis-haru-nenek-supiyati-melihat-cucunya-yang-terancam-putus-sekolah-bisa

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke