Ganjar Ingin Jateng Rutin Ngunduh Wayang dengan Anak-anak - Kompas.com

Ganjar Ingin Jateng Rutin Ngunduh Wayang dengan Anak-anak

Kompas.com - 13/11/2017, 18:31 WIB
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memberikan tantangan kepasa dua pelajar untuk nembang Macapat dalam acara Peringatan Hari Wayang Internasional di Halaman RRI Semarang, Senin (13/12/2017). Ganjar menegaskan, dirinya akan mengusulkan acara ngunduh wayang dan ketoprak setiap bulan diberbagai daerah di Jawa Tengah.KOMPAS.com/ ANDI KAPRABOWO Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memberikan tantangan kepasa dua pelajar untuk nembang Macapat dalam acara Peringatan Hari Wayang Internasional di Halaman RRI Semarang, Senin (13/12/2017). Ganjar menegaskan, dirinya akan mengusulkan acara ngunduh wayang dan ketoprak setiap bulan diberbagai daerah di Jawa Tengah.


SEMARANG, KOMPAS.com - Pemerintah Jawa Tengah berkomitmen melestarikan kesenian tradisional. Salah satu contoh kongkret upaya pelestarian kesenian tradisional itu adalah dengan menggelar pertunjukan seni secara rutin.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, pertunjukan seni tradisional khususnya acara ngunduh wayang dan ketoprak perlu digelar setiap bulan di berbagai daerah di Jawa Tengah.

Ngunduh wayang dan ketoprak lanjut bisa diselenggarakan bergantian di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Dalam setiap acara, ia melanjutkan, wajib menyertakan tokoh-tokoh setempat sebagai pemain, dikemas secara kolosal, dan melibatkan anak-anak.

“Kalau wayang ya wayang orang atau ketoprak bisa. Tiap bulan satu pertunjukan keliling di tiap kabupaten, bupati main, kapolres dan dandim main, kalau Saya diundang pasti ikut. Dan anak-anak harus ikut makanya kolosal,” katanya saat menghadiri Peringatan Hari Wayang Internasional di halaman Kantor RRI Semarang, Senin (13/12/2017).

Baca: Ketika Ganjar Pranowo Bermain Ketoprak..

Ngunduh wayang dan ketoprak diharapkan mampu membuka dimensi baru akan pelestarian kesenian tradisi. Selain itu, seniman akan dituntut berkreasi mengemas pertunjukan secara kolosal, memasukkan unsur-unsur modern, tanpa meninggalkan pakem tradisi.

Anak-anak yang ikut main akan memiliki pengalaman yang tidak terlupakan sampai mereka dewasa. Wah Saya pernah main ketoprak sama Pak Bupati dan Pak Bubernur,” imbuhnya sambil tersenyum.

Menurut dia, anak-anak mesti dilibatkan sebab generasi mudalah yang bakal melestarikan seni tradisi itu.

Ganjar tampak gembira ketika hadir di halaman Kantor RRI Semarang dan menyaksikan siswa-siswa SD berkarawitan.

Baca: Pariwisata Jateng Minim Inovasi

Ia memanggil dua siswa untuk unjuk kebolehan nembang macapat. Himatul Marwah Taher (12) siswa kelas enam SD Manyaran 3 Semarang pun maju dan nembang pucung. Sementara, Rafa Indra Waskito (10) siswa kelas lima SD Islam Terpadu Alfirdaus melantunkan dandanggula.

Usai unjuk kemampuan, Ganjar memberi hadiah tabungan pada kedua siswa itu. "Ini hadiahnya, ditabung ya," katanya.

Pelestarian kesenian tradisi bukan hanya sebagai tanggung jawab moral pada kekayaaan budaya leluhur, kata dia, namun erat kaitannya dengan internalisasi nilai-nilai kegamaan dan kebangsaan pada anak-anak.

Oleh karena itu, ia berharap cerita yang dibawakan selalu mengandung nilai-nilai agama, ajaran sopan santun, ajakan untuk bersatu dan bergotong-royong, dan mewaspadai bahaya narkoba, hoaks, dan radikalisme.

“Seperti Ki Enthus itu selalu memasukkan nilai-nilai agama dan cerita persatuan bangsa,” katanya.

Gubernur Jawa Tengah (tengah) Ganjar Pranowo mengenakan kostum (cosplay) salah satu tokoh pewayangan Werkudara, dalam parade budaya pembuyaan Festival Serayu Banjarnegara Rabu malam (23/8/2017). Bupati dan Wakil Bupati Banjarnegara pun tak ketinggalan mengenakan kostum tokoh pewayangan.dok. Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah (tengah) Ganjar Pranowo mengenakan kostum (cosplay) salah satu tokoh pewayangan Werkudara, dalam parade budaya pembuyaan Festival Serayu Banjarnegara Rabu malam (23/8/2017). Bupati dan Wakil Bupati Banjarnegara pun tak ketinggalan mengenakan kostum tokoh pewayangan.

Ketua Panitia Hari Wayang Nasional 2017 St. Sukirno mengatakan, acara bertema “Mencintai Wayang Bukti Nyata Bangsa yang Berbudaya” berlangsung sejak Selasa 7 November lalu.

Sebelumnya, pada Senin 6 November, panitia dan dalang melakukan ziarah kidung ke makam Ki Nartosabdho di Kompleks Makam Bergota Semarang

Berbagai tangkai acara telah terlaksana, seperti pergelaran wayang kulit dengan 14 dalang, pentas tari, karawitan, geguritan, hingga seminar wayang. Selain itu, ada lomba menggambar wayang dan pameran seni.

“Peringatan Hari Wayang ini melibatkan empat belas dalang, tujuh kelompok karawitan professional, kelompok karawitan dari tiga belas SD (sekolah dasar), satu SMK, dan empat perguruan tinggi,” katanya. (KONTRIBUTOR JAWA TENGAH/ ANDI KAPRABOWO)


EditorKurniasih Budi
Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM