Gus Mus: Jaga "Rumah" Kita, Jangan Ngotot - Kompas.com

Gus Mus: Jaga "Rumah" Kita, Jangan Ngotot

Kontributor Ungaran, Syahrul Munir
Kompas.com - 17/07/2017, 19:07 WIB
Mustofa BisriKOMPAS.com/SABRINA ASRIL Mustofa Bisri

SALATIGA, KOMPAS.com - Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil Gus Mus menegaskan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara harus dilandasi dengan semangat kebersamaan.

Hal itu disampaikan Gus Mus dalam acara Halalbihalal Kebangsaan yang diselenggarakan Komunitas Masyarakat Lintas Agama Kabupaten Semarang bekerjasama dengan Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPSNU) Pagar Nusa, Sabtu (15/7/2017) malam di Desa Klero, Tengaran, Kabupaten Semarang.

Gus Mus juga mengajak semua elemen masyarakat untuk menjaga Indonesia dan Nusantara ini sebagai rumah kita bersama.

"Kita jaga rumah kita bersama tanpa harus methentheng mentheleng (ngotot melotot) tetapi dengan senyum dan ramah rukun," kata kiai yang juga budayawan ini.

"Romo Aloys Budi Purnomo, Bikhsu Dammasubo dan semua yang lain yang non-Muslim ini saudara-saudara kita semua. Kita harus selalu menjaga kerukunan sebab kita tinggal di rumah bersama ibarat seperti kakak dan adik yang harus selalu hidup rukun," tambahnya.

(Baca juga: Gus Mus: Jadilah Kiai yang Mengemong Umat...)

 

Dengan gayanya yang khas, pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Rembang ini juga menerangkan makna Halal Bihalal. Ia mengatakan bahwa Halalbihalal sudah menjadi satu kata khas Nusantara atau Indonesia kendati kata halal berasal dari bahasa Arab.

Pesan damai

Halalbihalal dengan tema ”Menjalin Persaudaraan dalam Bingkai Kebhinnekaan” itu ditandai deklarasi damai para tokoh lintas agama yang hadir. Mereka adalah Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPSNU) Pagar Nusa Emha Nabil Haroen, Bhikku Dhamasubho Mahathera (Budha), Liem Ping An (Khonghucu), Romo Aloys Budi Purnomo Pr (Katolik), Pendeta Markus (Kristen) dan Nyoman Surahata (Hindu).

Deklarasi damai yang dibacakan oleh Emha Nabil Harun memuat tujuh pokok gagasan yang diserukan sebagai pesan damai dari Klero.

Pertama, tekad menjadi bangsa yang berasaskan Pancasila dan hidup damai dalam Bhinneka Tunggal Ika, karena itulah jaminan utama bagi kelangsungan kehidupan bersama.

Kedua, menolak sikap ekstremis, radikal, sikap menafikan yang lain, sikap mengkafirkan dan menyesatkan kelompok lain, karena pembiaran terhadap sikap-sikap seperti itu hanya akan berarti penghancuran masa depan bangsa dan negara.

Ketiga, membangun sikap saling menghargai, membela, menolong, duduk sama rendah, tegak sama tinggi, dalam pelukan Ibu Pertiwi yang damai. Keempat, menegakkan hukum sebagai ukuran keadilan yang setara bagi semua, tanpa diskriminasi, di antara anak bangsa.

Kelima, merajut kembali saling percaya di antara sesama anak bangsa yang kian tergerus oleh sikap intoleran sebagian kelompok di satu sisi dan invasi budaya asing di sisi lain.

Keenam, menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Nusantara seperti gotong royong, cinta Bumi Pertiwi, menyayangi tanah dan alam dan lain sebagainya. Ketujuh, mengedepankan rekonsiliasi, reintegrasi dan bina damai dalam menyelesaikan konflik horizontal.

Kegiatan ini juga disemarakkan oleh penampilan penyanyi religi Islam Haddad Alwi yang juga berkolaborasi dengan alunan saksofon Romo Aloys Budi Purnomo. Kegiatan yang digelar di lapangan Desa Klero ini dihadiri oleh ribuan warga, mulai dari anak-anak, remaja, orang muda hingga dewasa.

Sambil menunggu acara dimulai ditampilkanlah berbagai kreasi seni dan budaya lintas iman. Antara lain seni Barongsai dan Liong dari Genta Sakti Ambarawa dan Perkusi SMP Mater Alma Ambarawa.

Hadir dalam acara tersebut, Wakil Bupati Semaran Ngesti Nugraha, Danrem 073/Makutarama Salatiga Kolonel Inf Joni Pardede mewakili Pangdam IV Diponegoro dan AKBP Partono yang mewakili Kapolda Jateng.

 

 

Kompas TV Lebaran Jadi Ajang Silaturahim Bagi Menteri PUPR

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisKontributor Ungaran, Syahrul Munir
EditorCaroline Damanik

Komentar

Close Ads X