Saat Mantan Pangdam Meradang karena Dituduh Menyerobot Lahan - Kompas.com

Saat Mantan Pangdam Meradang karena Dituduh Menyerobot Lahan

Kontributor Medan, Mei Leandha
Kompas.com - 20/03/2017, 10:53 WIB
KOMPAS.com/Mei Leandha Plang nama Burhanuddin Siagian di halaman Yayasan Chong Wen atau Sekolah Nasional Plus Cinta Budaya, Senin (20/3/2017)

MEDAN, KOMPAS.com - Mayjen TNI (Purn) Burhanuddin Siagian meradang. Mantan Panglima Kodam I Bukit Barisan (Pangdam I/BB) ini merasa dizalimi Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut), Yayasan Chong Wen atau Sekolah Nasional Plus Cinta Budaya, dan Pancing Business Centre. Hampir tujuh bulan, dirinya menyandang status tersangka penyerobotan tanah.

Burhanuddin pun akan mengugat balik pihak-pihak tersebut, setelah Pengadilan Negeri (PN) Medan memenangkan praperadilan yang diajukannya.

"Saya akan gugat balik Polda Sumut, Sekolah Cinta Budaya, mereka sebenarnya yang menyerobot tanah saya. Prosedur hukum yang dilakukan Polda Sumut sudah mencemari nama baik saya sebagai mantan Pangdam. Di persidangan, mereka tidak bisa membuktikan sebagai pemilik tanah. Pihak sekolah jangan bohongi masyarakat," kata Burhanuddin, Senin (20/3/2017).

Dirinya merasa sebagai korban penzaliman dan kriminalisasi Polda Sumut. Ia menilai laporan yang dilakukan Dirut PT Pancing Business Centre, Anton Edison Panggabean tidak mempunyai legal standing

Burhanuddin menyebut, Polda Sumut juga telah menyalahi prosedur dengan membongkar dan menyita pagar tembok dan pos pengamanan yang dibangun di atas tanahnya.

"Dikabulkannya permohonan praperadilan saya membuktikan saya tidak tidak bersalah dan kesalahan prosedur dilakukan Polda Sumut," tegasnya.

Sebelumnya, Polda Sumut menetapkan Burhanuddin sebagai tersangka penyerobot lahan seluas 2,3 hektar di Jalan William Iskandar, Komplek MMTC Medan, Desa Medan Estate, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, tempat berdirinya sekolah tersebut sejak 2010 lalu.

(Baca juga: Mantan Pangdam Tutup Jalan Masuk Sekolah, Anggota DPR Minta Tentara Tidak Dibawa-bawa )

Tidak terima, bersama kuasa hukumnya dari Lembaga Bantuan Hukum Al-Jam'iyatul Washliyah Medan, Burhanuddin mengajukan permohonan praperadilan ke PN Medan.

Pada 14 Maret 2017 lalu, PN Medan menghadirkan saksi dari Polda Sumut, Sekolah Cinta Budaya dan PT Pancing Business Centre.

Dalam persidangan tersebut diketahui bahwa tanah milik Burhanuddin Siagian seluas 2,3 hektar, sebagian sudah dialihkan PT Pancing Business Centre kepada Yayasan Chong Wen. Sementar pengalihan lahan oleh PT Pancing Business ke Yayasan Chong Wen setelah Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) dibatalkan PTUN Medan.

Atas dasar itulah, hakim tunggal Morgat Simanjuntak mengabulkan seluruh permohonan pemohon.

Putusan dengan Register Nomor 15/Prapid/2017/PN-Mdn menyatakan, penetapan tersangka oleh termohon Polda Sumut kepada Burhanuddin Siagian tidak sah dan tidak berdasarkan hukum.

(Baca juga: Mantan Pangdam Tutup Jalan Masuk Sekolah, Siswa Resah Saat Jalani UN )

Sementara itu,  Direktur LBH Al-Wasliyah yang menjadi kuasa hukum Burhanuddin, Ibeng Syarifuddin Rani menimpali, pihaknya akan menyurati Polda Sumut terkait putusan praperadilan seraya meminta pengembalian barang-barang yang pernah disita.

"Barang-barang yang disita Polda Sumut, plang nama, tembok dan bangunan pos sekuriti, harus dikembalikan ke tanah Pak Burhanuddin," kata Ibeng.

Menurut dia, pertimbangan hukum yang diambil hakim berdasarkan aspek yuridis terhadap hak kepemilikan, bahwa tanah tersebut belum ada pemiliknya karena masih proses kasasi.

Selain itu, SHGB Nomor 3157 milik PT Pancing Bussiness Centre telah dibatalkan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan dan telah berkekuatan hukum tetap.

"Edison Pangabean tidak punya kapasitas sebagai pelapor. Sedangkan surat penjelasan dan penguasaan fisik yang dijadikan dasar penyidik menetapkan Pak Burhanuddin sebagai tersangka bukan alas hak atas dasar hukum dan perundang-undangan. Makanya dicabut status tersangkanya," ucap Ibeng.

Aspek lain, lanjutnya, adalah kesalahan administrasi dalam penanggalan laporan polisi, pertama tertulis tanggal 8 April 2016 dan kedua tanggal 11 April 2016 sehingga dinilai tidak profesional dalam menjalankan tugas dan fungsi administrasi.

Kemudian, banyak pihak yang mengetahui sejarah tanah yang dikuasai PT Pancing Bussiness Centre tapi tidak dimintai keterangannya sebagai saksi oleh penyidik.

"Setelah tidak sahnya status tersangka Pak Burhanuddin dikabulkan hakim, kami akan membuat laporan pencemaran nama baik dan mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap PT Pancing Bussiness Centre dan Polda Sumut," ucap Ibeng.

Sebelumnya, Ahok atas nama pihak sekolah mengaku membeli tanah dari pengembang, bukan dari Burhanuddin Siagian.

"Mungkin Pak Burhanuddin silap atau gimana. Sebenarnya masalah ini, kalau dari sekolah tidak ada urusannya dengan Pak Burhanuddin. Kami beli dari developer," ucapnya.

Sementara Kepala Sekolah Cinta Budaya Antonius Aritonang berharap konflik yang terjadi cepat selesai.

Baca juga: Pak Burhanuddin, Atas Nama 3.000 Siswa-siswi, Kami Minta Pagar Itu Dibongkar

PenulisKontributor Medan, Mei Leandha
EditorErlangga Djumena
Komentar