Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Observatorium Rp 300 Miliar Dibangun di Desa Fatumonas, NTT

Kompas.com - 11/03/2015, 09:08 WIB
Kontributor Bandung, Reni Susanti

Penulis

BANDUNG, KOMPAS.com – Terbatasnya teknologi di Observatorium Bosscha menjadi penyebab utama tertinggalnya perkembangan dunia astronomi di Indonesia. Demi mengejar ketertinggalan tersebut, peneliti Bosscha akan mengembangkan Observatorium Nasional di Desa Fatumonas, Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Ini program nasional, kami berharap sebelum ulang tahun Observatorium Bosscha yang ke-100, kami punya observatorium baru,” ujar Kepala Observatorium Bosscha, Mahasena Putra kepada Kompas.com di ruang kerjanya, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jalan Taman Sari Bandung, Selasa (10/3/2015) kemarin.

Mahasena menjelaskan, jika dilihat dari aspek cuaca, sebenarnya Lembang (Bosscha) kurang cocok dijadikan observatorium, karena kerap diselimuti mendung. Kondisi ini diperparah dengan besarnya polusi cahaya di langit Lembang. Nah, begitu proyek ini muncul, Bosscha pun mencari lokasi yang tepat, hingga diputuskanlah di daerah Timur Indonesia.

Menurut Mahasena, di NTT cuacanya cenderung kering, langit lebih gelap sehingga penelitian jauh lebih optimal, ditambah jumlah penduduk yang sangat sedikit. “Ada beberapa lokasi yang dibidik hingga akhirnya diputuskan di Bukit Timau, Kupang, NTT di atas ketinggian 1.300 mdpl,” ucap Mahasena.

Bangunan observatorium itu akan didirikan  dengan konsep modern, ringan, dan lebih menekankan ke fungsional. Observatorium ini diperkirakan akan menghabiskan dana sekitar Rp 300 miliar di luar biaya tanah.

Dana tersebut dianggarkan untuk pendirian bangunan, biaya operasional selama tiga tahun pertama, beasiswa SDM, hingga pembelian peralatan canggih. “50 persen dari anggaran itu akan tersedot untuk membeli peralatan berteknologi yang jauh lebih canggih dari Bosscha. Memang masih di bawah Eropa dan Amerika, setaralah dengan Thailand,” tutur Mahesa.

Proyek ini, sambung Mahasena, kini berada di tangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Rencananya, LAPAN tahun ini akan mengajukan dan membicarakan proyek ini dengan Bappenas. “Dalam grafik kegiatan, pembebasan lahan dilakukan tahun depan. Dan tahun 2018 mulai dengan instalasi tahap awal peralatan observatorium nasional. Kemungkinan, proyek ini membutuhkan waktu sekitar sembilan tahun,” ungkap dia.

Mahasena berharap, hadirnya observatorium nasional menarik minat perguruan tinggi lain untuk berpartisipasi. Sebab selama ini, ITB kerap menjadi pemain tunggal dalam hal astronomi. Selain itu, peneliti astronomi Indonesia kini tidak perlu jauh-jauh ke Eropa, Amerika, atau Jepang jika ingin melakukan penelitian.

“Sebenarnya tidak semua peneliti membutuhkan observatorium. Seperti saya yang bisa melakukan penelitian dari komputer yang tentunya terhubung ke internet. Namun sebagian peneliti yang membutuhkan teleskop, biasanya bekerjasama dengan Amerika, Eropa, dan Jepang,” tutupnya. 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com