Kamis, 18 September 2014

News / Regional

Banjir di Konawe, Dua Tewas dan 22 Kecamatan Terendam

Jumat, 19 Juli 2013 | 09:24 WIB
KOMPAS.com/ Kiki Andi Pati Jembatan yang menghubungkan lima Kabupaten di Sulawesi Tenggara putus setelah banjir menerjang Kabupaten Konawe Selatan.

KENDARI, KOMPAS.com — Banjir akibat hujan deras selama sepekan terakhir di Sulawesi Tenggara tak hanya menerjang wilayah Kendari, tetapi juga Kabupaten Konawe Selatan. Banjir di Kabupaten Konawe Selatan itu cukup parah karena hampir 80 persen wilayah terendam.

Bupati Konawe Selatan Imran menyatakan, banjir yang terjadi selama dua hari (16-17/7/ 2013) dini hari menyebar di 227 desa dan 22 kecamatan. Menurutnya, dalam bencana tersebut, tercatat dua orang meninggal akibat terseret arus banjir. Tak hanya itu, banjir juga memutuskan empat jembatan penghubung antarlima kabupaten. Banjir juga menimbulkan jalan poros putus akibat longsor.

"Dua orang meninggal itu yakni Dedy di Kecamatan Kolono dan Sudirman di Kecamatan Laeya. Hampir 80 persen wilayah kami terendam banjir, beberapa fasilitas infrastruktur rusak total, dan tidak bisa dilintasi oleh kendaraan," terang Imran di Kendari, Kamis (18/7/2013) malam.

Pihaknya mencatat sekitar 447 rumah warga hanyut dan 3.412 rumah terendam sehingga mengakibatkan 27.802 jiwa yang harus mengungsi ke balai desa, sekolah, dan sebagian ke rumah keluarganya.

"Sawah yang terendam 7.733 hektar, jembatan rusak 1.259 meter, bangunan sekolah 17 unit, perkebunan terendam 739 hektar, jalan rusak 122 kilometer, sedangkan ternak sapi mati 377 ekor dan kambing 60 ekor, perikanan dan tambak 964 hektar, serta tanaman palawija 111 hektar," rinci Imran.

Sementara empat jembatan yang putus itu ialah Jembatan Watumokala di Kecamatan Andoolo, jembatan penghubung Desa Ambolodangge di Kecamatan Laeya, jembatan penghubung di Kecamatan Moramo, dan Jembatan Lamomea di Kecamatan Konda.

"Empat jembatan itu merupakan jembatan beton. Ada juga jembatan kayu yang berada di beberapa desa. Ada yang putus dan hanyut terseret arus banjir," ujarnya.

Lanjut Imran, pihaknya akan mempriositaskan perbaikan Jembatan Pudahoa di Kecamatan Mowila yang menghubungkan Kabupaten Konawe Selatan dengan Bombana, Konawe, dan Kota Kendari.

"Kalau jembatan putus lainnya butuh waktu lama untuk diperbaiki. Ruas jalan yang mengalami longsor juga belum bisa diperbaiki sekarang, kemungkinan satu minggu ke depan baru bisa dikerjakan," jelas Imran.

Saat ini, pihaknya baru melaksanakan tanggap darurat dengan membantu evakuasi para korban banjir.

"Kita bangun posko pengungsian warga korban banjir dengan memberikan bantuan bahan makanan, obat-obatan, dan selimut," tegasnya.

Tanggap darurat bencana, tambah Imran, ditetapkan selama 10 hari. Jika kemudian terjadi hujan, pemerintah daerah akan memperpanjang masa tanggap darurat. Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan menaksir kerugian materi akibat banjir tersebut mencapai ratusan miliar rupiah.

Penulis: Kontributor Kendari, Kiki Andi Pati
Editor : Farid Assifa