Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menilik Sesaji Rewanda, Tradisi Memberi Makan Penghuni Goa Kreo Semarang

Kompas.com - 21/04/2024, 06:04 WIB
Sabrina Mutiara Fitri,
Dita Angga Rusiana

Tim Redaksi

SEMARANG, KOMPAS.com - Kota Semarang memiliki beragam tradisi kebudayaan yang unik dan khas. Salah satunya, Sesaji Rewanda yang digelar tiap tahun oleh warga Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

Sesaji Rewanda merupakan salah satu bentuk tradisi untuk menumpahkan rasa syukur kepada rahmat Tuhan dengan cara memberi sesaji untuk penghuni atau monyet-monyet di wisata Goa Kreo.

Baca juga: Mengenal Lebaran Mandura di Palu, Tradisi Unik untuk Mempererat Tali Persaudaraan

Dalam hal ini, warga setempat akan melakukan kirab dengan mengarak gunungan nasi kuning, buah-buahan atau hasil bumi, dan nasi kethek (monyet). Arak-arakan tersebut memanjang sekitar 800 meter menuju lokasi wisata Goa Kreo.

Ketua Pengelola Desa Wisata Kandri, Syaeful Ansori, mengatakan, biasanya tradisi Sesaji Rewanda dilakukan pada H+3 lebaran. Namun pada tahun ini, prosesi ritual ini dilakukan pada minggu kedua setelah lebaran.

"Untuk kirab budaya kita selenggarkan di hari Sabtu dan Minggu. Namun sudah ada serangkaian mahakarya sejak tadi malam," ucap Syaeful kepada KOMPAS.com, Sabtu (20/4/2024).

Lebih jelas Syaeful mengatakan, ada sejarah unik dibalik tradisi Sesaji Rewanda yakni kisah perjalanan Sunan Kalijaga mencari Saka Guru atau tiang utama untuk pembangunan Masjid Agung Demak.

Di tengah perjalanan, Sunan Kalijaga mengalami hambatan. Lalu datanglah para rewanda atau sekawanan kera untuk menggulirkan kayu jati besar dan dihanyutkan ke Sungai Kreo.

"Mulai dari Demak ke Jatingaleh. Lalu Jatibarang sampai di Sungai Kreo ini. Nah itu dibantu kera merah, putih dan kuning. Sehingga bisa dialihkan ke Masjid Agung Demak," tutur dia.

Saat hendak kembali ke Demak, para monyet ingin pergi mengikuti Sunan Kalijaga. Lantas, kanjeng sunan berpesan kepada kera dengan berkata "mangreho" yang berarti merawat atau menjaga wilayah ini.

"Karena mangreho agak sulit bagi orang Jawa, maka berubah jadi Kreo. Ya artinya merawat atau melestarikan wilayah ini. Karena wilayah ini nantinya akan jadi pusat kegaiatn ekonomi bagi masyarakat Kandri dan sekitarnya," ungkap Syaeful.

Disamping itu, Syaeful mengatakan, ada beberapa jenis gunungan dalam kirab budaya Sesaji Rewanda. Satu yang paling menarik yaitu gunungan sego kethek atau nasi kethek.

Dirinya menyebut, gunungan sego kethek berisi 600 hingga 1000 bungkus nasi. Bungkusan tersebut berisi nasi putih, oseng-oseng daun singkong dan pepaya, telur dadar, ebi kering atau ikan asin goreng, dan tahu bacem.

Baca juga: Tradisi Warga Brebes Usai Idul Fitri, Gadaikan Perhiasan Emas Setelah Dipakai Saat Lebaran

"Kenapa nasi kethek, karena kita masih mengutamakan budaya gotong royong. Kalau orang Jawa ketekan itu kalau kita bawa sesuatu digotong bareng-bareng, estafet," ungkap Syaeful.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kota Semarang, Wing Wiyarso, mengatakan, tradisi Sesajen Rawenda dinilai sebagai salah satu ritual yang wajib dilestarikan.

Selain sebagai tanda syukur, menurut Wing, Sesajen Rawenda memiliki potensi besar untuk menguatkan kebudayaan di Kota Semarang.

"Rasa syukur ini merupakamn tradisi budaya warga Talun Kacang, Kandri Semarang. Yang merupakan salah satu kekuatan potensi alam flora fauna yang harus kita lestarikan sektor wisata, khususnya dalam mengangkat budaya. Kita juga diwajibkan untuk melestarikan, memanfaatkan dan membina. Sehingga kedepan menjadi satu kekuatan kita," pungkas Wing.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

WN Bangladesh Ditangkap karena Selundupkan Orang dari NTT ke Australia, Tawarkan Jasa lewat TikTok

WN Bangladesh Ditangkap karena Selundupkan Orang dari NTT ke Australia, Tawarkan Jasa lewat TikTok

Regional
Prakiraan Cuaca Balikpapan Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Hujan Petir

Prakiraan Cuaca Balikpapan Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Hujan Petir

Regional
Prakiraan Cuaca Morowali Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Siang ini Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca Morowali Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Siang ini Hujan Ringan

Regional
Prakiraan Cuaca Batam Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Hujan Petir

Prakiraan Cuaca Batam Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Hujan Petir

Regional
Sosok Ayah di Empat Lawang yang Banting Bayinya hingga Tewas, Masih Berusia 18 Tahun, Sering Aniaya Istri

Sosok Ayah di Empat Lawang yang Banting Bayinya hingga Tewas, Masih Berusia 18 Tahun, Sering Aniaya Istri

Regional
Jadi Korban Banjir Sumbar, Ritawati: Saya Terus Memimpikan Suami yang Hilang

Jadi Korban Banjir Sumbar, Ritawati: Saya Terus Memimpikan Suami yang Hilang

Regional
Penampungannya Jadi Venue PON, Pengungsi Rohingya Dipindah dari Banda Aceh

Penampungannya Jadi Venue PON, Pengungsi Rohingya Dipindah dari Banda Aceh

Regional
Ada Perayaan Waisak 2024, Jam Kunjungan Wisata Candi Borobudur Berubah

Ada Perayaan Waisak 2024, Jam Kunjungan Wisata Candi Borobudur Berubah

Regional
Diduga Jadi Tempat Prostitusi, Belasan Warung Remang-remang di Brebes Disegel Warga

Diduga Jadi Tempat Prostitusi, Belasan Warung Remang-remang di Brebes Disegel Warga

Regional
Kala Prajurit Kopassus Dilantik Tanpa Didampingi Keluarga Usai Jalani Pendidikan di Nusakambangan

Kala Prajurit Kopassus Dilantik Tanpa Didampingi Keluarga Usai Jalani Pendidikan di Nusakambangan

Regional
Usai Santap Makanan Pengajian, Puluhan Warga di Brebes Keracunan Massal

Usai Santap Makanan Pengajian, Puluhan Warga di Brebes Keracunan Massal

Regional
Berkunjung ke Aceh, Menpora Diminta Tambah Anggaran PON Rp 531 Miliar

Berkunjung ke Aceh, Menpora Diminta Tambah Anggaran PON Rp 531 Miliar

Regional
Prakiraan Cuaca Semarang Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Malam Ini Cerah Berawan

Prakiraan Cuaca Semarang Hari Ini Minggu 19 Mei 2024, dan Besok : Malam Ini Cerah Berawan

Regional
Tak seperti Pemilu, Peminat PPK dan PPS di Pilkada Menurun

Tak seperti Pemilu, Peminat PPK dan PPS di Pilkada Menurun

Regional
Mengenal Megathrust dan Hubungannya dengan Potensi Gempa dan Tsunami di Indonesia

Mengenal Megathrust dan Hubungannya dengan Potensi Gempa dan Tsunami di Indonesia

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com