Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tradisi Pukul Sapu di Maluku Tengah, Ratusan Personel TNI dan Polri Dikerahkan

Kompas.com - 09/05/2022, 15:56 WIB
Rahmat Rahman Patty,
Andi Hartik

Tim Redaksi

AMBON, KOMPAS.com - Ratusan aparat gabungan Polri dan TNI dikerahkan untuk mengamankan acara adat pukul sapu di Desa Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Senin (9/5/2022).

Acara adat pukul sapu di Desa Morela telah menjadi tradisi tahunan secara turun-temurun yang selalu dilakukan setiap 7 Syawal Hijriah atau saat Lebaran hari ketujuh.

Acara yang berlangsung pada sore hari tersebut kerap ditonton ribuan warga yang datang dari berbagai desa di Pulau Ambon maupun Pulau Seram.

Baca juga: Tabrak Avanza dari Arah Berlawanan, Satu Anggota TNI Tewas di Ambon

Pengerahan ratusan aparat gabungan untuk mengamankan jalannya acara tersebut ditandai dengan apel gelar pasukan yang dipimpin langsung Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, Kombes Pol Raja Arthur Simamora di Mapolsek Leihitu, Senin.

Adapun personel gabungan yang mengamankan jalannya acara tersebut terdiri dari 2 satuan setingkat pelaton (SST) Brimob Polda Maluku, 3 SST Sat Samapta Polda Maluku, 1 SST  XVI Pattimura, 1 SST personel 733 Rider dan personel Polresta Pulau Ambon.

Menurut Raja Arthur, kegiatan adat pukul sapu telah menjadi tradisi di Desa Morela. Karena banyaknya warga yang datang menghadiri acara tersebut, pengamanan ekstra harus dilakukan.

Baca juga: 2 Warga Tertimpa Pohon Tumbang di Pantai Wisata Maluku Tengah

“Yang harus dilihat yakni pengaturan lalu lintas, baik untuk kendaraan maupun aktivitas masyarakat yang datang keluar masuk lokasi kegiatan. Pengaturan tersebut bertujuan untuk mengantisipasi orang-orang yang tidak berkepentingan yang dapat menganggu kegiatan adat tersebut,” kata Raja Arthur saat memberikan pengarahan di kantor Polsek Leihitu.

Selain masalah lalu lintas, Raja Arthur juga menginstruksikan para personel di lapangan untuk dapat mengamankan rangkaian kegiatan dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab.

“Sebelum kegiatan puncak, ada tradisi tari lenso dan bambu gila, kita hormati yang berada di lokasi Mamala maupun Morela dan di tempat acara puncak antisipasi jangan sampai ada benturan, apabila ada gejala gangguan kamtibmas agar segera dibubarkan secara humanis serta berdayakan tokoh pemudanya,” pintanya.

Ia berharap, dengan pengamanan yang dilakukan para personel, kegiatan tersebut dapat berjalan dengan aman dan tertib.

"Anggota juga harus selektif terhadap masyarakat yang berpotensi melakukan gangguan kamtibmas agar segera disuruh balik,” tegasnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com