Kisah Pengungsi Afganistan, Bertahun-tahun Terkatung-katung hingga Depresi

Kompas.com - 07/05/2021, 20:05 WIB
PHOTO:Para pengungsi asal Afghanistan saat berada di penginapan Kupang Inn, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur KOMPAS.COM/SIGIRANUS MARUTHO BEREPHOTO:Para pengungsi asal Afghanistan saat berada di penginapan Kupang Inn, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur

 

Menurut Rasikh, mereka ingin pindah ke sejumlah negara seperti Australia, Selandia Baru, Inggris, Amerika Serikat, atau Canada.

Rasikh mengatakan, mereka tidak bisa bekerja di Indonesia. Lapangan pekerjaan tak tersedia buat pencari suaka.

Ia bersama pengungsi lainnya, hanya tinggal di tempat penginapan tanpa ada masa depan yang pasti.

"Banyak anak-anak kami yang tidak sekolah. Apalagi kami setiap bulan hanya dikasih uang oleh IOM sebesar Rp 1,5 juta bagi yang sudah berkeluarga dan Rp 500.000 bagi yang masih muda," ujar dia.

Ia berharap, IOM bisa memperhatikan tuntutan mereka untuk segera pindah ke negara ketiga.

Pengungsi lainnya, Kubra Hasani mengaku, ingin segera pindah dari Indonesia menuju negara rujukan yang telah disepakati badan pengungsi dunia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Harapan kami, ingin pindah ke negara tujuan yang aman, karena kita pengungsi sehingga harus pindah. Kami juga belum tahu negara mana yang jadi rujukan karena masih dalam proses," ungkap Kubra di lokasi, Rabu.

Baca juga: Seorang WNA yang Diduga Gelar Kelas Orgasme di Bali Ditangkap

Kubra mengaku sudah tinggal di Kupang selama tujuh tahun. Ia butuh kepastian untuk menentukan masa depan anak-anaknya.

Ia menuturkan, akibat belum adanya kepastian, banyak pengungsi asal Afganistan yang mengalami gangguan mental.

"Banyak laki-laki muda di sini yang terganggu masalah mental dan setiap hari minum obat saraf. Tidak makan, minum dan tidak tidur hanya minum obat. Mereka semuanya hampir gila. Itu harus segera direspons IOM untuk segera tangani mereka dengan membawa mereka ke negara rujukan,"ujar dia.

Kubra mengaku, mereka tidak akan berhenti berjuang dan terus menggelar aksi sampai mendapatkan hasil.

"Yang pasti, kami akan terus gelar aksi demo, sampai tuntutan kami dipenuhi," ujar dia.

Dihubungi melalui email, National Media and Communications Officer IOM Ariani Hasanah Soejoeti menjelaskan, semua orang, termasuk migran (pengungsi) memiliki hak atas kebebasan berbicara.

Ariani menjelaskan, dalam konteks demonstrasi yang dilakukan oleh pengungsi Afganistan, IOM sebenarnya telah mengatur sebuah pertemuan dengan pengungsi bersama dengan UNHCR.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kades yang Gelar Hajatan Didenda Rp 48.000, PN Banyuwangi: Efek Jera Bukan dari Nilainya, tapi...

Kades yang Gelar Hajatan Didenda Rp 48.000, PN Banyuwangi: Efek Jera Bukan dari Nilainya, tapi...

Regional
RSUD Rasidin Padang Butuh Tambahan Nakes untuk Pasien Covid-19

RSUD Rasidin Padang Butuh Tambahan Nakes untuk Pasien Covid-19

Regional
Terdengar Ledakan, Pasar Mingguan Malanuza Bajawa Terbakar, 10 Warung Ludes

Terdengar Ledakan, Pasar Mingguan Malanuza Bajawa Terbakar, 10 Warung Ludes

Regional
Pemkot Cilegon Akan Sebar Paket Obat Herbal untuk Warga yang Isoman

Pemkot Cilegon Akan Sebar Paket Obat Herbal untuk Warga yang Isoman

Regional
PT HM Sampoerna Kena Sanksi Satgas Covid-19, Berjanji Patuhi Aturan Pemerintah

PT HM Sampoerna Kena Sanksi Satgas Covid-19, Berjanji Patuhi Aturan Pemerintah

Regional
Fakta Baru Kasus Vandalisme Baliho Puan Maharani, Pelaku Ditangkap

Fakta Baru Kasus Vandalisme Baliho Puan Maharani, Pelaku Ditangkap

Regional
PPKM Level 4 Diperpanjang, Jumlah Jalan Disekat di Tegal Berkurang

PPKM Level 4 Diperpanjang, Jumlah Jalan Disekat di Tegal Berkurang

Regional
Baliho Promo Kedai Ramen 'Beli 1 Gratis 1 Kecuali Presiden' Dicopot, Pemilik Diperiksa Polisi

Baliho Promo Kedai Ramen "Beli 1 Gratis 1 Kecuali Presiden" Dicopot, Pemilik Diperiksa Polisi

Regional
Menteri PUPR Sebut Penambahan Bed ICU RSUP Dr Sardjito Ditarget Rampung 5 Hari

Menteri PUPR Sebut Penambahan Bed ICU RSUP Dr Sardjito Ditarget Rampung 5 Hari

Regional
Soal Durasi Waktu Makan di Warteg Dibatasi 20 Menit, Ini Komentar Warga Surabaya

Soal Durasi Waktu Makan di Warteg Dibatasi 20 Menit, Ini Komentar Warga Surabaya

Regional
Menhub Budi Tinjau Vaksinasi Massal di Pelabuhan Merak, Harap Awak Kapal hingga Warga Pesisir Segera Divaksin

Menhub Budi Tinjau Vaksinasi Massal di Pelabuhan Merak, Harap Awak Kapal hingga Warga Pesisir Segera Divaksin

Regional
Sempat Kehabisan Oksigen Selama 3,5 Jam, RS Paru Jember Kewalahan Tangani Pasien

Sempat Kehabisan Oksigen Selama 3,5 Jam, RS Paru Jember Kewalahan Tangani Pasien

Regional
Polisi Tetapkan 2 Tersangka Kasus Korupsi Pasar Balung Jember, Ini Perannya

Polisi Tetapkan 2 Tersangka Kasus Korupsi Pasar Balung Jember, Ini Perannya

Regional
PPKM Level 4 di Tasikmalaya, Pedagang Bersyukur Jalan Dalam Kota Mulai Kembali Normal

PPKM Level 4 di Tasikmalaya, Pedagang Bersyukur Jalan Dalam Kota Mulai Kembali Normal

Regional
Gara-gara Ada Dooprize iPhone, Karyawan yang Awalnya Enggan Divaksin Jadi Antusias...

Gara-gara Ada Dooprize iPhone, Karyawan yang Awalnya Enggan Divaksin Jadi Antusias...

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X