Paguyuban Pesepeda Bogor: Rombongan yang Masuk Tol adalah Pesepeda Musiman, Tak Paham Aturan.

Kompas.com - 16/09/2020, 15:25 WIB
rombongan pesepeda dalam video tersebut teridentifikasi memasuki Jalan Tol Jagorawi tepatnya Km 46+500 (Polingga), kejadian ini terjadi pada Minggu (14/9) sekitar pukul 11.00 WIB. Dok. Istimewarombongan pesepeda dalam video tersebut teridentifikasi memasuki Jalan Tol Jagorawi tepatnya Km 46+500 (Polingga), kejadian ini terjadi pada Minggu (14/9) sekitar pukul 11.00 WIB.

KABUPATEN BOGOR, KOMPAS.com - Rombongan pesepeda yang masuk ke Jalan Tol Jagorawi tepatnya di kilometer 46 Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dinilai telah merusak citra buruk komunitas sepeda.

Hal itu membuat Paguyuban Pesepeda Bogor Raya (PPBR) mengecam keras aksi 7 orang pesepeda yang nekat melawan arah di jalan tol tersebut.

"Terus terang saja kami tersinggung dengan perilaku oknum pesepeda yang masuk ke jalan tol di daerah Ciawi itu. Mereka sudah merusak citra baik komunitas yang selama ini dijaga dengan baik," kata Ketua PPBR Hidayat Sabar saat dihubungi Kompas.com, Rabu (16/9/2020).

Baca juga: Terungkapnya Alasan Rombongan Pesepeda Masuk Tol Jagorawi, Mengaku Lelah hingga Tak Fokus...

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005, Pasal 38 Ayat 1 disebutkan bahwa jalan tol hanya diperuntukan bagi kendaraan roda empat atau lebih.

Ia pun sangat menyayangkan sikap pesepeda yang menggunakan jalan tol karena sudah membahayakan pengguna jalan lainnya.

Dia menyebut bahwa perbuatan rombongan pesepeda tersebut bukan tidak mungkin akan ditiru oleh orang lain ke depannya.

Sehingga ia meminta agar oknum tersebut beriktikad baik dengan membuat permintaan maaf secara tertulis kepada seluruh masyarakat Indonesia, terkhusus komunitas pesepeda.

Baca juga: Salah Satu Pesepeda yang Masuk Tol Jagorawi Mengaku Tak Melihat Rambu

"Jadi namanya jalan tol bukan untuk roda 2 apalagi sepeda kecepatannya rendah. Alangkah bahayanya di jalan tol banyak kendaraan kecepatan tinggi, terus ada pesepeda nyebrang, sudah gitu contra flow di jalur bebas hambatan lagi," ujar dia.

"Mungkin basic mereka itu pesepeda musiman sehingga dia sendiri tidak tahu aturan di jalan raya seperti apa dan bagaimana harusnya gowes pakai aturan. Pesepeda musiman ini asal bablas aja enggak pakai otak," imbuh dia.

Fenomena ini terjadi sejak memasuki normal baru, lanjut dia, sebab tren bersepeda semakin diminati masyarakat di wilayah Jabodetabek.

Namun sayangnya tak sedikit pengguna sepeda atau pegowes ini hanya berorientasi pada gengsi bukan substansi bersepeda itu sendiri.

Untuk paham sopan santun di jalan saja mereka tidak mengerti karena sudah tidak lagi melihat tujuan bersepeda.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gunung Semeru Meletus Keluarkan Awan Panas dan Guguran Lava, Mengarah ke Lumajang

Gunung Semeru Meletus Keluarkan Awan Panas dan Guguran Lava, Mengarah ke Lumajang

Regional
BNPB Minta Warga Waspadai Lahar Dingin Pasca-letusan Gunung Semeru

BNPB Minta Warga Waspadai Lahar Dingin Pasca-letusan Gunung Semeru

Regional
Mantan Pejabat BNN Sumut Jadi Tersangka Dugaan Penggelapan Rp 756 Juta

Mantan Pejabat BNN Sumut Jadi Tersangka Dugaan Penggelapan Rp 756 Juta

Regional
Harga Cabai Rawit Merah di Cianjur Tembus Rp 100.000 Per Kg

Harga Cabai Rawit Merah di Cianjur Tembus Rp 100.000 Per Kg

Regional
Sungai di Manado Meluap, Warga Diminta Mengungsi

Sungai di Manado Meluap, Warga Diminta Mengungsi

Regional
Kronologi Kejar-kejaran Satgas Bea Cukai Vs Kapal Rokok Ilegal, Kapal Satgas Sempat Dilempari Bom Molotov

Kronologi Kejar-kejaran Satgas Bea Cukai Vs Kapal Rokok Ilegal, Kapal Satgas Sempat Dilempari Bom Molotov

Regional
Di Tengah Pandemi, Lapangan Migas di Sumsel Bukukan Kenaikan Produksi

Di Tengah Pandemi, Lapangan Migas di Sumsel Bukukan Kenaikan Produksi

Regional
BPPTKG Rekomendasikan Pengungsi di Luar Daerah Bahaya Letusan Merapi untuk Pulang

BPPTKG Rekomendasikan Pengungsi di Luar Daerah Bahaya Letusan Merapi untuk Pulang

Regional
Marah Tanah Warisan Ayahnya Digarap, Keponakan Aniaya Paman Hingga Tewas

Marah Tanah Warisan Ayahnya Digarap, Keponakan Aniaya Paman Hingga Tewas

Regional
PLN Pasang Telepon Satelit, Perlancar Koordinasi Penanganan Pasca-gempa Sulbar

PLN Pasang Telepon Satelit, Perlancar Koordinasi Penanganan Pasca-gempa Sulbar

Regional
Sumbar Siapkan 5 RS Rujukan bagi Warga yang Alami Efek Samping Vaksinasi

Sumbar Siapkan 5 RS Rujukan bagi Warga yang Alami Efek Samping Vaksinasi

Regional
Gubernur NTB Promosikan Sepeda Listrik Buatan Lokal ke Menpar

Gubernur NTB Promosikan Sepeda Listrik Buatan Lokal ke Menpar

Regional
Pegiat Bahasa Sunda Bersiap Sambut Hari Bahasa Ibu Internasional

Pegiat Bahasa Sunda Bersiap Sambut Hari Bahasa Ibu Internasional

Regional
Kematian Pasien Covid-19 di Atas 50 Tahun di Kulon Progo Terus Bertambah

Kematian Pasien Covid-19 di Atas 50 Tahun di Kulon Progo Terus Bertambah

Regional
Alumni Sekolah dan Komunitas Sosial Gelar Aksi Teaterikal Doakan Rahmania, Korban Sriwijaya Air SJ 182 Asal Kediri

Alumni Sekolah dan Komunitas Sosial Gelar Aksi Teaterikal Doakan Rahmania, Korban Sriwijaya Air SJ 182 Asal Kediri

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X