Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Mbah Brambang, Membuat Wayang sejak 1965, Dikirim hingga ke Luar Negeri

Kompas.com - 09/03/2020, 11:40 WIB
Labib Zamani,
Khairina

Tim Redaksi

SOLO, KOMPAS.com - Usia bukan menjadi penghalang bagi seseorang untuk terus berkarya. Seperti kakek satu ini. Dia adalah Merto Wirejo (80), warga Godegan, Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Meski usianya sudah lanjut, kakek yang akrab disapa Mbah Brambang ini masih menekuni hobinya membuat kerajinan wayang dari bahan kertas.

Mbah Brambang mulai membuat kerajinan wayang tersebut sejak tahun 1965 bermula dari hobinya menonton pagelaran wayang kulit.

"Ceritanya saya senang sama wayang. Mau sekolah tidak punya biaya. Saya nekat beli wayang yang sudah jadi buat contoh buat wayang di rumah," kata Mbah Brambang ketika ditemui Kompas.com dalam acara Solo Art Market di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (7/3/2020).

Baca juga: Menjaga Roh Kesetaraan Gender Lewat Pentas Wayang Orang di Semarang

Didasari dengan keinginan kuat dan kerja keras, Mbah Brambang bisa mewujudkan keinginannya membuat kerajinan wayang.

Mbah Brambang menggunakan kertas wondertex ukuran 1,2 mm sebagai bahan utama pembuatan wayang. Menurut dia, kertas wondertex ini tahan air dan awet.

"Saya belajar buat wayang sama orang yang sudah bisa. Soalnya kalau suruh gambar (sketsa) wayang tidak bisa. Jadi, saya bisanya ngeblat (menjiplak)," terang dia.

Mbah Brambang menerangkan, dirinya pertama kali membuat wayang tokoh Pandawa Lima. Awalnya ia merasa sulit. Karena sudah sering, akhirnya menjadi terbiasa dan berkembang membuat tokoh Kurawa, Punokawan, dan tokoh wayang lainnya.

"Tokoh Pandawa, Kurawa yang paling banyak dicari. Kalau tidak ada orang yang pesan, saya tidak bikin. Karena jualnya susah," ungkapnya.

Hobi membuat wayang ini kemudian menjadi pekerjaan utama Mbah Brambang.

Hasil dari menjual wayang itu dia gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.

Wayang buatan Mbah Brambang tersebut dijual dengan harga bervariasi, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan dalam pembuatan.

Satu wayang dijual mulai dari harga Rp 85.000 hingga Rp 150.000.

"Paling mahal tokoh wayang Kumbokarno harganya Rp 150.000. Koleksi wayang yang saya buat sampai sekarang sudah banyak," tuturnya.

Baca juga: Kota Semarang Usung Wayang Potehi Jadi Tema Perayaan Imlek

Menurut dia, wayang buatannya tersebut tidak hanya dijual ke pasar tradisional. Pernah dirinya menjual wayang itu secara keliling sampai ke Sragen dengan menggunakan sepeda ontel.

Selain itu, ada orang yang datang ke rumahnya untuk membeli wayang buatannya. Mereka tidak hanya dari wilayah Solo dan sekitarnya, tetapi ada yang dari luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Belanda, dan Thailand.

"Mereka tahu saya bikin wayang dari internet," ungkap kakek berkacamata itu.

Mbah Brambang berharap keahliannya membuat wayang bisa diteruskan oleh anak-anaknya. Mbah Brambang memiliki dua orang anak. Setiap kali dirinya membuat wayang mereka selalu ikut membantu.

"Karena saya sudah tua, ya nanti biar teruskan sama anak-anak," terang Mbah Brambang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Regional
Komunikasi Politik 'Anti-Mainstream' Komeng yang Uhuyy!

Komunikasi Politik "Anti-Mainstream" Komeng yang Uhuyy!

Regional
Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Regional
Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Regional
Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Regional
Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Regional
Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Regional
Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Regional
Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Regional
BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

Regional
Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Regional
Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di 'Night Market Ngarsopuro'

Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di "Night Market Ngarsopuro"

Regional
Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Regional
Kisah Pengojek Indonesia dan Malaysia di Tapal Batas, Berbagi Rezeki di 'Rumah' yang Sama...

Kisah Pengojek Indonesia dan Malaysia di Tapal Batas, Berbagi Rezeki di "Rumah" yang Sama...

Regional
Menara Pengintai Khas Dayak Bidayuh Jadi Daya Tarik PLBN Jagoi Babang

Menara Pengintai Khas Dayak Bidayuh Jadi Daya Tarik PLBN Jagoi Babang

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com