Antraks Menyebar, 5.000 Liter Formalin Disiapkan

Kompas.com - 16/01/2020, 07:37 WIB
Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Veteriner Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul Retno Widiastuti (Jilbab) Rabu (15/1/2020) KOMPAS.COM/MARKUS YUWONOKepala Seksi Kesehatan Hewan dan Veteriner Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul Retno Widiastuti (Jilbab) Rabu (15/1/2020)

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, menyiapkan ribuan liter formalin untuk mencegah penyebaran penyakit antraks di wilayah positif antraks.

Sebab, ternak dan tanah di wilayah Dusun Ngrejek Wetan, Desa Gombang, positif antraks. 

Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Veteriner, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Retno Widiastuti menyampaikan, terhitung sejak Desember lalu, ada 21 sapi dan 15 kambing yang diketahui mati mendadak.

Baca juga: Puluhan Orang di Gunungkidul Positif Antraks

Dari pemeriksaan yang dilakukan, dari 10 ternak yang mati yang bisa diambil sampelnya ada 6 lokasi, yakni darah sapi 1 lokasi, sisanya tanah sisa penyembelihan.

"Pada saat kita datang itu yang bisa diambil sampelnya satu, dari Pak Giyarno itu. Tapi yang lainnya sudah hilang ternaknya. Yang kita ambil sampel tanah, kita mengirimkan 6 sampel ke balai besar veteriner (BBVET). Yang positif 4, yang negatif 2 darah sapi termasuk positif, sapi yang dipurak dimakan itu positif. Itu utamanya dari wilayah Dusun Ngrejek Wetan," kata Retno dalam jumpa pers "Penanganan Antraks di Kabupaten Gunungkidul" di Kecamatan Playen, Rabu (15/1/2020). 

“Untuk antisipasinya memang kami lakukan upaya layaknya penanganan pada sapi positif antraks. Untuk di (Dusun) Ngrejek (Wetan) sendiri uji lab kami ulang dan hasilnya masih positif, kalau untuk daerah lain karena negatif maka tidak diulang tapi tetap dipantau,” ujar Retno. 

Dijelaskan, meski belum terbukti negatif atau belum terbukti antraks, hewan yang mati dikubur sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Misalnya, petugas menggunakan baju khusus.

Kemungkinan besar untuk sapi ditemukan mati mendadak lantaran sekarang ini musim hujan atau masih tergolong pancaroba.

Di mana bisa saja sapi mengalami keracunan makanan ataupun karena faktor lain tetapi bukan karena penyakit antraks itu.

"Caranya penguburan, kedalaman penggalian tanah, proses penguburannya, kita anggap dia seperti kasus antraks. Kita tidak memastikan oh ini antraks oh ini bukan, kecuali kalau ada cerita (mati karena) keracunan, terjerat itu aman. Tetapi, bangkai harus dikubur," kata Retno.

Baca juga: Waspada Antraks, Kenali Penularan, Gejala, hingga Pencegahannya

Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Selama 2 Bulan Pemerintah Aceh Berlakukan Jam Malam Cegah Penyebaran Corona

Selama 2 Bulan Pemerintah Aceh Berlakukan Jam Malam Cegah Penyebaran Corona

Regional
UPDATE: 11 Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Bogor, 2 Pasien Sembuh, 1 Meninggal

UPDATE: 11 Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Bogor, 2 Pasien Sembuh, 1 Meninggal

Regional
Cerita Bupati Garut Lihat Sendiri ODP Corona Asyik Jalan-jalan Naik Motor

Cerita Bupati Garut Lihat Sendiri ODP Corona Asyik Jalan-jalan Naik Motor

Regional
Wabah Corona, Rumah Dinas Bupati Banyuwangi Dijadikan Ruang Isolasi Darurat

Wabah Corona, Rumah Dinas Bupati Banyuwangi Dijadikan Ruang Isolasi Darurat

Regional
Kasus Pertama di Banyuwangi, Satu PDP Positif Virus Corona

Kasus Pertama di Banyuwangi, Satu PDP Positif Virus Corona

Regional
Agar ODP Corona Tak Keluar Rumah, Pemkab Garut Berikan Biaya Hidup Rp 50.000 Per Hari

Agar ODP Corona Tak Keluar Rumah, Pemkab Garut Berikan Biaya Hidup Rp 50.000 Per Hari

Regional
3 PDP Corona yang Diisolasi di RSUD Kudus Meninggal Dunia

3 PDP Corona yang Diisolasi di RSUD Kudus Meninggal Dunia

Regional
Cegah Penularan Virus Corona, Bupati Bogor Minta Jakarta Dilockdown

Cegah Penularan Virus Corona, Bupati Bogor Minta Jakarta Dilockdown

Regional
Kisah Haru Perawat Positif Covid-19: Anak Sering Tanya Mama Kapan Pulang?

Kisah Haru Perawat Positif Covid-19: Anak Sering Tanya Mama Kapan Pulang?

Regional
Wali Kota Tegal: Saya Ajak Gubernur, Wali Kota, Isolasi Daerah Masing-masing Sebelum Menyesal

Wali Kota Tegal: Saya Ajak Gubernur, Wali Kota, Isolasi Daerah Masing-masing Sebelum Menyesal

Regional
Bupati Tolitoli Tutup Seluruh Akses Keluar Masuk ke Wilayahnya Cegah Penyebaran Corona

Bupati Tolitoli Tutup Seluruh Akses Keluar Masuk ke Wilayahnya Cegah Penyebaran Corona

Regional
Kronologi Mahasiswa Serang dan Caci Maki Polisi Saat Sedang Sosialisasi Pencegahan Corona

Kronologi Mahasiswa Serang dan Caci Maki Polisi Saat Sedang Sosialisasi Pencegahan Corona

Regional
1 Pasien Positif Covid-19 di Balikpapan Meninggal, Berasal dari Klaster Ijtima Ulama Dunia

1 Pasien Positif Covid-19 di Balikpapan Meninggal, Berasal dari Klaster Ijtima Ulama Dunia

Regional
Cegah Masuknya Virus Corona, Pemkab Tolitoli Tutup Jalur Masuk Wilayah Itu

Cegah Masuknya Virus Corona, Pemkab Tolitoli Tutup Jalur Masuk Wilayah Itu

Regional
Peta Sebaran Covid-19 di Denpasar Dibuka, 91 ODP di 33 Kelurahan, 2 Kasus Positif Corona

Peta Sebaran Covid-19 di Denpasar Dibuka, 91 ODP di 33 Kelurahan, 2 Kasus Positif Corona

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X