Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Misteri Ibis Sendok Raja, "Paruh Platypus" yang Tak Terlacak Asal Usulnya

Kompas.com - 24/10/2019, 18:26 WIB
Rosyid A Azhar ,
Khairina

Tim Redaksi

 

GORONTALO, KOMPAS.com – Meskipun statusnya berisiko rendah (least concern), burung ibis-sendok raja ternyata masih menyimpan sejumlah misteri, salah satunya adalah catatan perjumpaan di Indonesia yang belum banyak diketahui orang.

Ibis sendok raja yang bernama Inggris Royal Spoonbill ini sangat menarik secara fisik, karena paruhnya yang besar menyerupai sendok mengingatkan pada paruh platypus, mamalia benua Australia yang hidupnya banyak dihabiskan di perairan.

Para ahli burung (ornitolog) Indonesia masih belum banyak mendapatkan rekaman catatan keberadaan Platalea regia, nama latin burung ini.

Baca juga: Menghilang 155 Tahun, Ibis Sendok Raja Kembali Terlihat di Sulawesi

ED van Oort di tahun 1907 menjelaskan, seorang naturalis Belanda bernama Carl Benjamin Hermann Baron von Rosenberg pada tahun 1864 mengirim tengkorak yang tidak utuh burung ini ke Museum Leiden, Belanda, yang menyatakan berasal dari persawahan Langowan, Minahasa. Burung ini ditembak pemburu.

Kepala Platalea regia ini merupakan catatan pertama keberadaan ibis-sendok raja di Pulau Sulawesi. Setelah temuan ini, tidak terdengar lagi perjumpaan burung unik ini di Sulawesi.

Dalam situs Handbook of Birds of The World (HBW), sebaran global ibis-sendok raja ini berada di New Zealand, benua Australia, Timor Leste, Papua bagian selatan, Jawa, lengan utara Sulawesi, kalimantan bagian timur.

“Ahli burung Belanda A Hoogerwerf melaporkan jenis ini berbiak di Pulau Dua pada tahun 1950-an. Burung pengunjung yang umum di Pulau Timor. Saya sendiri pernah lihat pertama di Tanimbar tahun 2006,” kata Hanom Bashari, pengamat burung dari Perkumpulan Biodiversitas Gorontalo (BIOTA), Rabu (23/10/2019).

Hanom Bashari menyampaikan informasi bahwa di keberadaan burung ini di Pulau Timor bisa mencapai ratusan ekor.

Namun, belum ada informasi di lokasi ini menjadi tempat berbiak ibis-sendok raja. Ini yang menjadi tanda tanya banyak ahli burung.

Kehadiran di tempat ini masih dirasakan sebagai kunjungan burung berparuh unik ini.

“Informasi lain menjelaskan Pulau Papua bagian selatan mejadi bagian dari sebaran native ibis-sendok raja,” kata Hanom Bashari.

Dalam situs The International Union for Conservation of Nature (IUCN) disebutkan keberadaan ibis-sendok raja pada masa berbiak berada di Australia, Selandia Baru, Kepulauan Solomon. Burung ini pada masa di luar berbiak biasa mengunjungi Kaledonia Baru, Timor Leste, Indonesia dan Papua Nugini.

Meskipun IUCN menuliskan demikian, faktanya para pengamat burung kesulitan mendapatkan informasi keberadaannya, seperti pulau-pulau yang disebutkan di Indonesia.

Baca juga: Fakta Ibis Sendok Raja, Burung yang Muncul di Pos Jokowi Setelah Hilang 155 Tahun

Ferry Hasudungan, staf Biodiversitas Perhimpunan Burung Indonesia menyatakan ibis-sendok raja yang terlihat di Danau Limboto, Gorontalo menunjukkan bulu non-berbiak, ini menunjukkan individu pengunjung dari bagian selatan.

“Bulunya non-breeding, kemungkinan kumpulan individu pengunjung dari selatan,  Papua bagian selatan, Australia atau New Zealand,” kata Ferry Hasudungan.

Ferry Hasudungan menjelaskan, informasi yang pernah diterima sebelumnya mencatat ibis-sendok raja pernah tercatat di Pulau Dua, Banten atau Jawa bagian barat.

“Namun,sudah lama tidak terlaporkan perjumpaannya di bagian barat Jawa,” ujar Ferry Hasudungan.

Keterangan Ferry Hasudungan ini kemungkinan terkait dengan laporan A Hoogerwerf di tahun 1950-an.

Perjumpaan ibis-sendok raja dialami oleh Zulfikar Abdullah, seorang birdwatcher yang sedang melakukan birdbanding di beberapa pulau di Papua. Ia menjumpai 1 ekor ibis-sendok raja yang terlihat mencolok dari kerumunan beberapa ekor burung.

Di Indonesia, keberadaan ibis-sendok raja ini masih sulit dicari catatan keberadaannya. Kondisi ini seakan menjadi misteri burung yang memiliki paruh menyerupai sendok ini.

Kehadiran 3 ekor ibis-sendok raja di Danau Limboto, Gorontalo memberi harapan baru para pengamat burung di Indonesia untuk lebih mengenalnya.

Hingga Rabu (23/10/2019) pagi 3 ekor ibis-sendok raja  masih terlihat mencari makan di tepi Danau Limboto, namun bergeser beberapa ratus meter meter dari tempat awal diketahui dalam kawasan yang sama, berlumpur dengan air tergenang rendah.

Burung jenis lain terlihat mencari bersamanya, kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul besar (Ardea alba), trinil kaki hijau (Tringa nebularia), trinil semak (Tringa glareola), blekok sawah (Ardea speciosa) dan dara laut kumis (Chlidonias hybrid).

Meski terlihat asyik mencari makan, saat didekati pada radius tertentu, ketiganya terlihat terganggu.

Ketiganya mendongakkan kepalanya memperhatikan kehadiran manusia yang mencoba mendekat.

Dengan cepat ketiganya menjauh dengan tetap mencocor lumpur lembut yang dilaluinya.

“Pagi ini kami berhasil motret ketiganya saat mencari makan, ini peristiwa yang penting karena baru kali ini kami melihat burung dengan bentuk paruh yang menyerupai paruh bebek namun panjang,” ujar Ruri Irawan, warga Kota Gorontalo.

Awalnya, Ruri Irawan mengendap-endap di balik alat berat yang berada di tengah danau.

Alat berat ini sebelumnya digunakan untuk mengeruk lumpur hingga ke tengah danau dengan menggunakan ponton.

Di balik ponton yang menjadi tumpuan gerak inilah ia membidikkan beberapa kali ke arah ketiga satwa misterius ini.

Para pengamat burung yang berusaha mengabadikan ibis-sendok raja juga harus hati-hati dalam melangkah. Selain jangan menganggu satwa unik ini, kondisi lumpur yang mengering juga bisa menjebak.

Rekahan lumpur yang mengering seakan kuat untuk dipijak, namun di balik keringnya tanah pijakan ini berisiko amblas ke dalam.

Ini yang bisa menggagalkan pengamatan burung (birdwatching) di kawasan ini.

 

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com