Cerita Abah Landoeng, Kayuh Sepeda 7 Bulan ke Tanah Suci untuk Berhaji

Kompas.com - 14/08/2019, 11:06 WIB
Abah Landoeng, guru di zaman perang kemerdekaan yang mengajar keliling dengan sepeda tanpa digaji. KOMPAS.com/RENI SUSANTI Abah Landoeng, guru di zaman perang kemerdekaan yang mengajar keliling dengan sepeda tanpa digaji.

BANDUNG, KOMPAS.com — Abah Landoeng (94) menceritakan kisahnya saat mengayuh sepeda selama tujuh bulan dari Indonesia ke Arab Saudi untuk berhaji.

Saat itu, tahun 2002. Usianya menginjak 75 tahun. Meski tidak muda, ia bertekad untuk ke Tanah Suci menggunakan sepeda Federalnya.

“Sebenarnya niat awal untuk membantu bencana alam di Sumatera, tapi ada niat besar juga untuk berhaji,” ujar Abah Landoeng kepada Kompas.com di Bandung, Selasa (13/8/2019).

Dengan membawa uang Rp 1,2 juta, paspor, beberapa pakaian, dan makanan, ia melajukan sepeda dari Bandung.


Ia kemudian menyusuri Jakarta lalu masuk Palembang. Ia kemudian mengecek kondisi Sumatera. Kondisi daerah tersebut masih baik-baik saja. Banjir yang merendam Palembang hanya banjir kecil biasa.

Dari sana, keinginan untuk berhaji semakin kuat. Dengan mengucap bismallah, ia melanjutkan perjalanan.

Baca juga: Kisah Abah Landoeng Jadi Guru di Zaman Perang Kemerdekaan, Keliling Mengajar Pakai Sepeda Tanpa Digaji

Ia masuk Batam untuk menyeberang ke Singapura, Malaysia, Thailand, Myanmar, Bangladesh, India, Pakistan, menyeberangi Laut Merah, hingga akhirnya sampai di Arab Saudi pada 2003.

“Di perjalanan, kalau capek, saya istirahat di masjid. Tidur juga sering di masjid,” ungkapnya.

Sesampai di Mekkah, ia merasakan kebahagiaan luar biasa. Ia tidak menyangka bisa sampai ke Tanah Suci setelah tujuh bulan perjalanan.

Di Tanah Suci, selain melaksanakan rangkaian ibadah haji, ia juga berkeliling Mekah dengan sepeda. Ia mendapat banyak bantuan dari orang-orang yang bertemu dengannya.

Dari kamar hotel mewah hingga makanan, bahkan tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia dan taksi Jakarta-Bandung, ditanggung donatur.

“Tentu banyak cerita yang menyenangkan, ada juga kesedihan. Tapi banyak menyenangkan,” ungkapnya.

Jadi relawan tsunami Aceh 2004

Setahun kemudian, tepatnya tahun 2004, tsunami menerjang Aceh. Tanpa pikir panjang, Abah Landoeng mengayuh sepeda untuk pergi ke lokasi bencana.

Di Aceh, ia membantu proses trauma healing. Salah satunya dengan kemampuan dalam pijat tradisional.

Selain Aceh, ia pun kerap menjadi relawan di daerah bencana. Ia ingin mengabdikan hidup untuk kehidupan sosial lewat kemampuannya.

Jika masa mudanya ia dedikasikan untuk dunia pendidikan, di masa tua Abah Landoeng mengabdikan hidup di lokasi-lokasi bencana.

Ketika ditanya alasan dia kerap berbagi meski tidak dibayar, ia menjawab, dirinya orang yang sederhana dan tidak punya.

Karena itu, ia ingin berbagi melalui kemampuan yang ia miliki, dari mengajar hingga relawan bencana.

Baca juga: Kisah Candra, Caleg Terpilih yang Dulu Hendak Jual Ginjal dan Jadi Gelandangan

Jadi panitia Konferensi Asia Afrika 1955

Tak hanya itu, Abah Landoeng pun tercatat sebagai panitia Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955. Saat itu ia bertugas menyediakan kendaraan untuk para delegasi.

Ia tidak mengalami kesulitan dalam mengumpulkan kendaraan dari orang kaya yang ada di Bandung.

Sebab, sifat berbagi yang dimilikinya ini membuat ia mengenal orang dari berbagai kalangan dari kelas bawah hingga atas.

Bahkan, kini ia masih saling berkunjung dengan mantan Gubernur Jabar Solihin GP.

“Angkatan Abah dah pada ga ada. Tinggal saya dan Mang Ihin (Solihin GP),” ujarnya. 

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Cerita di Balik Disabilitas Dilarang Beribadah di Masjid Raya Sumbar hingga Mengadu ke Wagup

Cerita di Balik Disabilitas Dilarang Beribadah di Masjid Raya Sumbar hingga Mengadu ke Wagup

Regional
3 Ruko Berisikan Mobil dan 'Sparepart' Hangus Terbakar

3 Ruko Berisikan Mobil dan "Sparepart" Hangus Terbakar

Regional
Yenny Wahid dan Mahasiswa Papua Kirimkan Salam Damai dari Makam Gus Dur

Yenny Wahid dan Mahasiswa Papua Kirimkan Salam Damai dari Makam Gus Dur

Regional
Jokowi Sebut Garam NTT Lebih Bagus dari Madura dan Australia

Jokowi Sebut Garam NTT Lebih Bagus dari Madura dan Australia

Regional
Pernyataan Unsur soal Mahasiswanya Jadi Tersangka Kasus 4 Polisi Terbakar

Pernyataan Unsur soal Mahasiswanya Jadi Tersangka Kasus 4 Polisi Terbakar

Regional
Buron 10 Bulan, Otak Pembunuhan Sopir Taksi 'Online' Ditembak Polisi

Buron 10 Bulan, Otak Pembunuhan Sopir Taksi "Online" Ditembak Polisi

Regional
Main Lilin di Loteng, Seorang Balita Tewas Terbakar

Main Lilin di Loteng, Seorang Balita Tewas Terbakar

Regional
Ketika Daerah Lain Ekonominya Masih Sulit, Semarang Malah Melejit

Ketika Daerah Lain Ekonominya Masih Sulit, Semarang Malah Melejit

Regional
Waspada Terhadap Jenis Kayu Bajakah yang Mengandung Racun

Waspada Terhadap Jenis Kayu Bajakah yang Mengandung Racun

Regional
Pembunuh Taruna ATKP Makassar Terima Vonis 10 Tahun Penjara

Pembunuh Taruna ATKP Makassar Terima Vonis 10 Tahun Penjara

Regional
Muntah-muntah Setelah Makan Bersama, 10 Santri Dilarikan ke Rumah Sakit

Muntah-muntah Setelah Makan Bersama, 10 Santri Dilarikan ke Rumah Sakit

Regional
28 Mantan Anggota DPRD Gunungkidul Belum Kembalikan Laptop, Alasannya Sibuk

28 Mantan Anggota DPRD Gunungkidul Belum Kembalikan Laptop, Alasannya Sibuk

Regional
 Jokowi Telepon, Ini Pesan untuk Gubernur Papua Barat Pasca-Kerusuhan Manokwari hingga Timika

Jokowi Telepon, Ini Pesan untuk Gubernur Papua Barat Pasca-Kerusuhan Manokwari hingga Timika

Regional
Kepala Sekolah di Lombok Timur Ditemukan Tewas Tanpa Busana di Kamar Mandi Hotel

Kepala Sekolah di Lombok Timur Ditemukan Tewas Tanpa Busana di Kamar Mandi Hotel

Regional
Buaya Muncul di Pantai Carocok Diduga karena Pembuangan Sisa Hewan Kurban

Buaya Muncul di Pantai Carocok Diduga karena Pembuangan Sisa Hewan Kurban

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X