5 Fakta Penipuan Investasi Jamu Herbal, Tergiur Untung Besar hingga Pelaku Dijerat Pasal Pencucian Uang

Kompas.com - 17/07/2019, 16:18 WIB
Warga mendatangi Polres Klaten untuk melaporkan dugaan penipuan bermodus investasi jamu herbal yang mereka alami, Senin (15/7/2019). KOMPAS.com/LABIB ZAMANIWarga mendatangi Polres Klaten untuk melaporkan dugaan penipuan bermodus investasi jamu herbal yang mereka alami, Senin (15/7/2019).

KOMPAS.com - Ratusan warga Dukuh Kringinan, Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Klaten, Jawa Tengah, mendatangi Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Klaten, Jawa Tengah, Senin (15/7/2019).

Kedatangan mereka untuk melaporkan PT Krishna Alam Sejahtera yang bergerak di bidang distributor jamu herbal atas dugaan penipuan.

Polres Klaten tengah melakukan penyelidikan untuk menangkap pelaku dugaan penipuan dan penggelapan uang dengan modus investasi jamu herbal yang dilakukan oleh pimpinan PT Krisna Alam Sejahtera, berinisial AF.

Jumlah kerugian dugaan penipuan investasi jamu herbal cukup banyak. Diperkirakan mencapai Rp 17 miliar. Polisi menjerat pelaku dengan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Berikut fakta lengkap penipuan investasi jamu herbal yang mencapai 17 miliar:

 

1. Tergiur keuntungan besar

Korban dugaan penipuan investasi jamu herbal PT Krisna Alam Sejahtera menunjukkan kuitansi pembayaran syarat kemitraan di perusahaan tersebut, Senin (15/7/2019).KOMPAS.com/LABIB ZAMANI Korban dugaan penipuan investasi jamu herbal PT Krisna Alam Sejahtera menunjukkan kuitansi pembayaran syarat kemitraan di perusahaan tersebut, Senin (15/7/2019).

Suparmi (45) mengaku tertarik ikut investasi jamu herbal karena tergiur dengan keuntungan yang diterima. Dia mendaftar bergabung menjadi mitra kerja di perusahaan tersebut pada 27 Juni 2019.

Seharusnya Suparmi menerima hasil keuntungan dari investasi jamu herbal pada 11 Juli 2019. Namun, bukannya menerima keuntungan, perusahaan jamu tersebut sudah ditutup.

"Saya rugi Rp 8 juta. Karena baru masuk kemudian perusahaannya tutup," kata Suparmi.

Baca juga: Warga Klaten Laporkan Penipuan Investasi Jamu Herbal yang Rugikan Miliaran Rupiah

 

2. Akan ditindaklanjuti

Ilustrasi PolisiThinkstock/Antoni Halim Ilustrasi Polisi

Kapolres Klaten AKBP Aries Andi mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti laporan dugaan penipuan berkedok investasi jamu herbal PT Krishna Alam Sejahtera.

Menurut Aries, korban dugaan penipuan investasi jamu herbal tersebut mencapai ribuan orang dengan jumlah kerugian sekitar Rp 17 miliar.

"Tim sudah bekerja dan fokus kita sesegera mungkin melakukan penangkapan terhadap pelaku," kata Aries.

Baca juga: Cerita Nenek 72 Tahun Gagalkan Aksi Penipuan, Korban Terseret 20 Meter dan Pelaku Tiba-tiba Tewas

 

3. Warga diminta tetap tenang

Ilustrasi warga korban banjir mengantre saat ada pembagian makanan dan pakaian layak pakaiRODERICK ADRIAN MOZES Ilustrasi warga korban banjir mengantre saat ada pembagian makanan dan pakaian layak pakai

Aries meminta kepada masyarakat yang menjadi korban dugaan penipuan investasi jamu herbal untuk menyerahkan penanganan kasus tersebut kepada kepolisian.

"Kami mengimbau masyarakat tetap tenang. Artinya, tidak usah melaksanakan kegiatan-kegiatan lain, percayakan penanganan kepada Polri untuk mengungkap kasus ini," terang Aries.

Menurut Aries, ada tiga orang korban yang melaporkan kasus dugaan penipuan investasi jamu herbal. Laporan itu jelas Aries telah mewakili terhadap korban penipuan lainnya.

Baca juga: 100 Korban Penipuan Bermodus Poin Travel Online Melapor ke OJK Kalbar

 

4. Kerugian Rp 17 miliar

Ilustrasi uangSHUTTERSTOCK Ilustrasi uang

Aries mengungkapkan, jumlah kerugian dugaan penipuan investasi jamu herbal cukup banyak. Diperkirakan mencapai Rp 17 miliar.

"Karena paket yang ditawarkan juga cukup besar. Ada tiga paket yang ditawarkan pelaku kepada para korban," jelasnya.

Ketiga pekat yang ditawarkan tersebut terdiri dari paket A Rp 8 juta dengan keuntungan Rp 1 juta per minggu, paket B Rp 16 juta keuntungan Rp 2 juta per minggu, dan paket C Rp 24 juta dengan keuntungan Rp 3 juta per minggu.

Baca juga: Penipuan Investasi Jamu Herbal di Klaten Rugikan Ribuan Korban, Total Rp 17 M

 

5. Dijerat pasal pencucian uang

IlustrasiKOMPAS/TOTO S Ilustrasi

Polres Klaten akan menjerat pelaku dugaan penipuan dan penggelapan uang bermodus investasi jamu herbal, AF yang tak lain pimpinan PT Krisna Alam Sejahtera, dengan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

AF diduga melarikan uang yang diinvestasikan para korban sebagai syarat kemitraan di perusahaannya.

"Kami akan fokus ke tindak pidana pencucian uangnya nanti," terang Kapolres Klaten AKBP Aries Andi di Klaten, Jawa Tengah, Senin (15/7/2019).

Pihaknya akan menelusuri aliran dana yang dihimpun pimpinan PT Krisna Alam Sejahtera dari para mitra kerjanya.

"Uang-uang masyarakat ini setelah dikumpulkan dikemanakan. Apakah ada investasi bentuk lain atau dialihkan atau dibelikan barang-barang lain," katanya.

Menurut Aries, dengan fokus ke TPPU, paling tidak uang yang disetorkan masyarakat kepada pelaku dugaan penipuan dan penggelapan uang bermodus investasi jamu herbal bisa kembali.

Baca juga: Pelaku Penipuan Investasi Jamu Herbal Dijerat Pasal Pencucian Uang

Sumber: KOMPAS.com (Labib Zamani)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Regional
Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Regional
Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Regional
Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Regional
Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Regional
Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Regional
Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Regional
Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi 'Landscape' Menarik

Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi "Landscape" Menarik

Regional
Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Regional
Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Regional
Hampir Rampung, Pembangunan Venue PON XX di Mimika Sudah 90 Persen

Hampir Rampung, Pembangunan Venue PON XX di Mimika Sudah 90 Persen

Regional
Beberapa Tempat di Medan Dijadikan Lokasi Isolasi, Walkot Bobby Protes Keras Gubernur Sumut

Beberapa Tempat di Medan Dijadikan Lokasi Isolasi, Walkot Bobby Protes Keras Gubernur Sumut

Regional
Kesawan City Walk Ditutup Sementara, Begini Penjelasannya

Kesawan City Walk Ditutup Sementara, Begini Penjelasannya

Regional
Ingin Warga'Survive' di Masa Pandemi, Dompet Dhuafa Kembangkan Budidaya Ikan Nila

Ingin Warga"Survive" di Masa Pandemi, Dompet Dhuafa Kembangkan Budidaya Ikan Nila

Regional
6 Kali Raih WTP, Pemkab Wonogiri Catat Penurunan Rekomendasi dalam LHP

6 Kali Raih WTP, Pemkab Wonogiri Catat Penurunan Rekomendasi dalam LHP

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X