Warga Klaten Laporkan Penipuan Investasi Jamu Herbal yang Rugikan Miliaran Rupiah

Kompas.com - 15/07/2019, 15:26 WIB
Warga mendatangi Polres Klaten untuk melaporkan dugaan penipuan bermodus investasi jamu herbal yang mereka alami, Senin (15/7/2019). KOMPAS.com/LABIB ZAMANIWarga mendatangi Polres Klaten untuk melaporkan dugaan penipuan bermodus investasi jamu herbal yang mereka alami, Senin (15/7/2019).

KLATEN, KOMPAS.com - Ratusan warga Dukuh Kringinan, Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Klaten, Jawa Tengah, mendatangi Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Klaten, Jawa Tengah, Senin (15/7/2019).

Berdasarkan pantauan Kompas.com, warga yang berinvestasi di PT Krisna Alam Sejahtera itu ditemui Kepala Bagian Operasional (Kabagops) Polres Klaten, AKP Didik Sulaiman.

Kedatangan mereka untuk melaporkan PT Krishna Alam Sejahtera yang bergerak di bidang distributor jamu herbal atas dugaan penipuan.

Seorang warga, Suparmi (45) meminta polisi untuk mengusut dugaan penipuan yang dilakukan perusahaan tersebut. Dia mengatakan, jumlah korban dugaan penipuan ini mencapai ribuan orang dengan jumlah kerugian mencapai miliaran rupiah.


"Ada ribuan warga yang menjadi korban penipuan ini. Kami meminta polisi untuk mengusutnya," kata Suparmi di Mapolres Klaten, Jawa Tengah, Senin.

Baca juga: 100 Korban Penipuan Bermodus Poin Travel Online Melapor ke OJK Kalbar

Suparmi menyampaikan, jumlah kerugian yang dialami para mitra kerja investasi jamu herbal tersebut berbeda-beda. Mulai dari Rp 8 juta hingga ratusan juta rupiah. 

Menurut Suparmi, setiap mitra kerja diwajibkan menyetor modal minimal Rp 8 juta untuk bergabung di perusahaan tersebut. Mitra kerja akan memeroleh paket pekerjaan sesuai modal yang dimiliki.

Ada tiga paket yang ditawarkan perusahan kepada para mitra kerja. Paket A senilai Rp 8 juta dengan keuntungan Rp 1 juta per minggu.

Kemudian, paket B senilai Rp 16 juta dengan keuntungan Rp 2 juta per minggu. Selain itu, paket C senilai Rp 24 juta dengan keuntungan Rp 3 juta per minggu.

"Saya ambil yang paket A Rp 8 juta. Sampai sekarang belum dapat keuntungan. Tahu-tahu dapat kabar kalau perusahaannya tutup," ungkap Suparmi.

Suparmi mengaku tertarik ikut investasi jamu herbal karena tergiur dengan keuntungan yang diterima. Dia mendaftar bergabung menjadi mitra kerja di perusahaan tersebut pada 27 Juni 2019.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X