Tangis Haru Nenek Wa Musaani, Dukun Beranak yang Naik Haji Setelah Menabung 31 Tahun

Kompas.com - 17/07/2019, 05:46 WIB
Nenek Wa Musaani bersama putranya, La Azami, membuka koper haji usai diterimanya dari Kementrian Agama Buton Selatan.  Walaupun pekerjaannya sebagai dukun beranak, tak menyurutkan niat seorang nenek berumur 80 tahun  untuk berangkat haji bersama jamaah calon haji lainnya.DEFRIATNO NEKE Nenek Wa Musaani bersama putranya, La Azami, membuka koper haji usai diterimanya dari Kementrian Agama Buton Selatan. Walaupun pekerjaannya sebagai dukun beranak, tak menyurutkan niat seorang nenek berumur 80 tahun untuk berangkat haji bersama jamaah calon haji lainnya.

BUTON SELATAN, KOMPAS.com - Walaupun pekerjaannya hanya sebagai dukun beranak dengan penghasilan tidak seberapa, tak menyurutkan niat seorang nenek berumur 80 tahun  untuk berangkat haji. 

Sedikit demi sedikit, selama 31 tahun, nenek  yang bernama Wa Musaani ini menyisihkan sebagian uangnya dari hasil membantu persalinan warga di Desa Laminanggara, Kecamatan Siompu Barat, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. 

Keluarga nenek Wa Musaani menangis terharu ketika Kementerian Agama Kabupaten Buton Selatan datang membawakan koper haji di desanya. 


 “Kita sangat bangga, karena sudah lama juga tunggu-tunggu, dan kondisi ibu juga sudah tua dan alhamdulillah tahun ini sudah naik (haji),” kata putra Nenek Wa Musaani, La Azama, Selasa (16/7/2019). 

Baca juga: Kisah Nenek 107 Tahun Naik Haji, Shalat Tahajud Jadi Rahasia Panjang Umur

Nenek Wa Musaani sangat dikenal baik warga desa karena hampir selama 40 tahun membantu persalinan warga bersama bidan setempat. 

Hampir setiap hari,  nenek yang masih suka mengunyah sirih ini, berjalan menuju ke rumah warga selain itu membantu persalinan warga desa.

Penghasilan tidak menentu

Nenek Wa Musaani, mengurut seorang warga. dari hasil urut ii ia menabung sebagian uangnya untuk berangkat haji. KOMPAS.com/DEFRIATNO NEKE Nenek Wa Musaani, mengurut seorang warga. dari hasil urut ii ia menabung sebagian uangnya untuk berangkat haji.
Namun sayangnya, nenek Wa Musaani yang tidak bisa berbahasa Indonesia, sehingga wawancara diwakilkan kepada putra dan cucunya. 

Menurut keterangan putranya, Nenek Wa Musaani pandai mengurut perut wanita untuk memudahkan kehamilan.

Usai mengurut, ia memberikan minuman kepada pasiennya yang telah dibacakan doa. 

“Dari pasiennya, ia terima tidak menentu kadang Rp 10.000, Rp 50.000 dan bahkan Rp 100.000. Tapi dia sisihkan, sebagian ia simpan dalam celengan di kamarnya dan sebagian dia gunakan untuk keperluannya,” ucap La Azama. 

Baca juga: Kisah Tukang Bakso Keliling Naik Haji Setelah 41 Tahun Menabung

Setelah tabunggan sudah cukup, di tahun 2013, nenek Wa Musaani mulai mendaftarkan haji di kantor kementrian agama dengan membayar sebesar Rp 25,5 juta.  

“Pada bulan enam kemarin, kami keluarga dihubungi oleh kementerian agama untuk naik haji. Kami sangat senang dan bangga karena ini yang sudah kami tunggu-tunggu,” ujar cucu Nenek Wa Musaani, Vinci. 

Nenek Wa Musaani akan berangkat menuju Mekah bergabung dengan jemaah calon haji lainnya di kloter 25 melalui embarkasi Makassar pada akhir bulan Juli ini. 

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X