Jaringan Pipa Gas 1.732 Kilometer Akan Dibangun di Trans Kalimantan

Kompas.com - 16/06/2019, 06:48 WIB
Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa saat meninjau depot BBM Pertamina di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Sabtu (15/6/2019).KOMPAS.com/HENDRA CIPTA Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa saat meninjau depot BBM Pertamina di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Sabtu (15/6/2019).

PONTIANAK, KOMPAS.com - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas ( BPH Migas) merencanakan pengembangan jaringan pipa gas Trans Kalimantan sepanjang 1.732 kilometer yang membentang dari Pontianak, Kalimantan Barat, hingga Bontang, Kalimantan Timur.

Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa mengatakan, berdasarkan kajian, ada kelebihan produksi 40 kargo gas alam cair atau liquified natural gas (LNG), yang belum ada pembelinya.

Dengan menggunakan asumsi bahwa 1 kargo LNG Tangguh adalah sebesar 137.700 meter kubik gas alam cair, maka 40 kargo tersebut diperkirakan setara dengan 116.769,6 MMSCF atau 319,9 MMSCFD.

Baca juga: Gerak Cepat PGN Tanggulangi Pipa Gas Bocor di Kawasan City Tower Thamrin


"Jika disepakati, maka akan terwujud green energy di Kalimantan dengan mengalihkan kebutuhan listrik dari batu bara dan diesel ke gas bumi," kata Fanshurullah saat mengunjungi Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (15/6/2019).

Jaringan pipa gas ini akan melalui empat daerah di Kalimantan Barat, yakni Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Kayong Utara, dan Kabupaten Ketapang.

"Untuk ke depan, tentu ada peningkatan pemanfaatan gas bumi untuk masyarakat rumah tangga, melalui jaringan gas kota," ucapnya.

Baca juga: Jaringan Pipa Gas di Indonesia Jadi yang Terpanjang di ASEAN

Oleh karena itu, pada September mendatang, BPH Migas bakal menggelar focus grup discussion (FGD) di Kota Pontianak yang melibatkan seluruh gubernur dan bupati serta anggota DPR RI asal Kalimantan, untuk meningkatkan sinergitas dalam mewujudkan pembangunan pipa gas Trans Kalimantan.

Geser minyak bumi

Fanshurullah mengatakan, data energi nasional menunjukkan, sumber energi minyak bumi (BBM) masih menjadi tumpuan utama masyarakat Indonesia, yang mencapai lebih dari 40 persen diikuti energi batubara yang mendekati 30 persen.

"Sementara itu, penggunaan gas bumi baru tercatat sebesar 22 persen," ujar Fanshurullah. 

Meski menjadi sumber utama, penggunaan BBM menjadi dilematis akibat harga yang fluktuatif dan akhir-akhir ini cenderung terus naik.

Baca juga: DEN: Dorong PGN Membangun dan Mengembangkan Jaringan Pipa Gas Sebanyak-banyaknya

Akibatnya, BBM menjadi sumber energi yang semakin tidak efisien.

Kondisi ini diperparah dengan problem distribusi di banyak wilayah di Indonesia seperti di Indonesia bagian tengah dan timur.

Di sisi lain, gas bumi sebagai sumber energi alternatif belum banyak dimanfaatkan.

Baca juga: PGN Rampungkan Proyek Jaringan Pipa Gas 18,3 Km di Batam

"Gas bumi merupakan pilihan sumber energi yang lebih bersih serta ramah lingkungan dan efisien, terutama jika dibandingkan dengan BBM dan batubara," katanya. 

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X