Kisah Orangutan Diimbah dan Hamidah yang Bertukar Tempat dengan 2 Harimau

Kompas.com - 20/02/2019, 22:51 WIB
Empat malam menempuh perjalanan darat yang melelahkan, pasangan Diimbah dan Hamidah tiba di Medan Zoo, Rabu (20/2/2019) KOMPAS.com / MEI LEANDHAEmpat malam menempuh perjalanan darat yang melelahkan, pasangan Diimbah dan Hamidah tiba di Medan Zoo, Rabu (20/2/2019)

Penambahan koleksi yang sedang dalam proses adalah lumba-lumba. Putrama mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan infrastruktur dan pembiayaannya. Pilihan pembiayaan, kata dia, bisa melalui kerja sama dengan pihak swasta atau corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan, BUMN dan BUMD, atau skema lain.

"Atraksi lumba-lumba tak boleh dibawa berkeliling, kalau di kebun binatang boleh. Alternatif kerja sama untuk mendatangkan lumba-lumba dengan Ancol,” kata dia.

Kandang tak layak

Kandang yang disediakan Medan Zoo untuk pasangan Diimbah dan Hamidah dinilai tidak layak. Meski ukuran kandang cukup besar, namun tidak ada sebatang pohon pun yang tumbuh di dalamnya.

Kondisinya juga terlalu terbuka sehingga terpapar matahari langsung. Memang ada tempat tempat berteduh di tengah kandang yang dibatasi pagar besi itu, tapi jauh mendekati habitat aslinya.

"Kandang itu tidak cukup enrichment untuk memungkinkan orangutan dapat berperilaku alami seperti mengayun di cabang pohon. Harusnya, jika tidak ada pohon asli di dalam kandang, pengelola bisa menyiasati dengan menyusun balok-balok kayu sedemikian rupa. Supaya orangutan tetap aktif dan tidak kehilangan sifat alamiahnya," kata Ketua Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), Panut Hadisiswoyo melalui pesan singkat kepada Kompas.com, Rabu (20/2/2019).

Tak sampai di situ, soal jarak pagar yang dipisahkan dengan parit di dalam kandang pun tak lepas dari kritiknya. Menurut Panut, jaraknya terlalu dekat dengan pengunjung sehingga bisa diberi makan.

Bukan hanya makanan, benda-benda lain yang bisa membahayakan orangutan harusnya jadi pertimbangan.

Kandang yang ideal baginya tidak berpatokan pada ukuran yang luas. Yang paling penting adalah wahana pendukung karena orangutan merupakan satwa arboreal atau lebih banyak menghabiskan waktu di atas pepohonan.

"Bisa dibuat dari balok kayu bekas, ban bekas, atau selang pemadam kebakaran bekas. Jadi mereka tetap beraktivitas," tegas Panut.

Baca juga: Bayi Orangutan Lahir di Batam dan Dinamai Bintan

Kepala tim dokter Kebun Binatang Ragunan Syafri Edwar mengatakan, sebelum melakukan pertukaran satwa, pihaknya telah melakukan survei ke Medan Zoo. Hasilnya dinyatakan layak.

"Kandangnya nyaman, sudah hampir samakan dengan kandang di Ragunan. Tidak masalah, tidak ada pohon di dalam kandang karena sudah ada bangunan untuk berteduh," ucap Syafri.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X