Ridwan Kamil Sebut Ketidakkompakan Jadi Sebab Pemulihan Citarum Belum Berhasil

Kompas.com - 29/12/2018, 22:48 WIB
Menteri KLHK Siti Nurbaya bersama Gubernur Jabar Ridwan Kamil tengah menyimak penjelasan mengenai kondisi DAS di Jawa Barat di Persemaian Permanen Purwakarta, Sabtu (29/12/2018). KOMPAS.com/FARIDA FARHANMenteri KLHK Siti Nurbaya bersama Gubernur Jabar Ridwan Kamil tengah menyimak penjelasan mengenai kondisi DAS di Jawa Barat di Persemaian Permanen Purwakarta, Sabtu (29/12/2018).

 

KARAWANG, KOMPAS.com-Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyebut ketidakkompakan menjadi penyebab pemulihan Daerah Aliran Sungai Citarum belum berhasil.

"Selama ini uang sudah mengalir, sudah dibelanjakan, tapi kan enggak berdampak karena dimensinya terlalu banyak," ujar Ridwan Kamil usai Pencanangan Gerakan Nasional Pemulihan DAS tahun 2018 di Persemaian Permanen Purwakarta, Desa Jomin Timur, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang, Sabtu (29/12/2018).

Menurutnya, kunci dari permasalahan tersebut ialah persoalan kepemimpinan. Sehingga, pada Januari 2019 mendatang,  Ridwan Kamil akan menerjemahkan kekompakan, persatuan, dalam pemulihan Sungai Citarum, yang dicap sebagai sungai terkotor di dunia itu.


"Kemarin itu kerja masing-masing. Kaya orkestra, semua main musik tapi enggak jadi musik yang bagus," katanya.

Baca juga: Fakta di Balik Limbah Radioaktif di Karawang, Ditimbun Dekat Sungai Citarum hingga Ketakutan Warga

Sebagai Komandan Satuan Tugas Pemulihan Sungai Citarum (Dansatgas) Citarum, Ridwan Kamil berharap dalam lima hingga tujuh tahun ke depan, Sungai Citarum bisa menjadi lebih baik.

"Saya enggak mau janji-janji yang susah dipegang secara ilmiah. Saya kira yang paling penting ada perbaikan, ada progres. Kalau langsung bisa diminum saya kira berlebihan," katanya.

Pernyataan mantan Walikota Bandung soal kekompakan itu juga diakui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya.

Menteri mengungkapkan, makna kekompakan tersebut yakni interaksi multi stakeholder.

"Dan yang nanya daerah aliran sungai kekuatannya ada di forum multi stakeholder itu," katanya.

Terlebih, kata dia, banyak pihak yang mempunyai kepentingan terhadap sumber daya alam (SDA) misalnya ilmuwan, pemerintah daerah, masyarakat, hingga pelaku usaha.

"Jadi (diperlukan) diskusi antarkelompok antarkomponen," katanya.

Kompas TV Ada pemandangan tidak biasa di bantaran Sungai Citarum di kawasan Bojongsoang. Puluhan santri yang mondok di daerah ini terlibat dalam pembersihan sampah di bantaran sungai mendukung gerakan Citarum Harum. Para peserta juga diberi pemahaman tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai terpanjang di Jawa Barat itu dengan cara sederhana memunguti sampah yang ada. Para santri juga diajak untuk tidak membuang sampah ke sungai guna mengubah status Sungai Citarum sebagai sungai terkotor di dunia. Bersih-bersih Sungai Citarum digelar sebagai pengisi waktu liburan sekolah para santri yang bersifat positif. Diharapkan kesadaran mereka selaku generasi penerus bangsa berlanjut mewujudkan sungai Citarum yang bersih bebas dari sampah.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X