Rekanan PT Dok Surabaya Ditahan dalam Kasus Dugaan Korupsi "Floating Crane"

Kompas.com - 12/12/2018, 08:20 WIB
Rekanan PT Dok Surabaya ditahan di ruang tahanan Kejati Jatim, Selasa (11/12/2018) KOMPAS.com/ACHMAD FAIZALRekanan PT Dok Surabaya ditahan di ruang tahanan Kejati Jatim, Selasa (11/12/2018)


SURABAYA, KOMPAS.com - Antonius Aris Saputra, rekanan PT Dok dan Perkapalan Surabaya (PT DPS) Persero, ditahan penyidik Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati Jatim), Selasa (11/12/2018).

Dia ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan korupsi pengadaan floating crane senilai Rp 60 miliar.

Antonius diperiksa penyidik Kejati Jatim sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 16.30 WIB. Usai diperiksa, Antonius langsung diantar ke ruang tahanan di ruangan berbeda di komplek Kejati Jatim.

Pria berkacamata itu tidak menjawab satu pun pertanyaan wartawan soal kasusnya.


Baca juga: Jokowi Ingin PT Dok Koja Bahari Mampu Membuat Kapal Selam

Kata Asisten Pidana Khusus Kejati Jatim, Didik Farkhan Alisyahdi, tersangka sudah 3 kali dipanggil sebagai saksi, namun baru hari ini bersedia mendatangi.

"Kami meyakini tersangka punya peran dalam dugaan korupsi itu," jelasnya.

Alasan teknis lainnya mengapa tersangka harus ditahan, kata Didik, karena tersangka berdomisili di Singapura, sehingga penahanan akan mempermudah pemeriksaan oleh penyidik.

"Dari kalangan direksi sedang kami periksa," ujarnya.

Kejati Jatim memproses kasus tersebut menindaklanjuti laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyebutkan ada masalah dalam proses pengadaan floating crane PT DPS Persero.

Perangkat servis kapal itu dibeli dari luar negeri dengan nilai pengadaan Rp 100 miliar. Uang yang sudah dibayar Rp 60 milliar, namun kelanjutan proses jual beli itu tidak jelas.

Baca juga: Jepang Siap Tingkatkan Kapal Induknya untuk Angkut Jet Tempur

Perusahaan pelat merah itu bukan kali pertama tersandung masalah hukum dalam pengadaan infrastruktur kapal.

Pada 12 Oktober lalu, 2 mantan petingginya divonis 4 tahun lebih penjara karena perkara korupsi pengadaan tangki pendam di Muara Sabak, Jambi dengan kerugian negara Rp 33 milliar.

Keduanya adalah M Firmansyah Arifin yang merupakan Dirut PT DPS dan M Yahya sebagai mantan Direktur Pemasaran dan Pengembangan Usaha.

Dua pejabat lainnya sudah menjalani hukuman dalam perkara tersebut, yakni Nana Suyarna Tahir selaku direktur keuangan nonaktif dan I Wayan Yoga Djunaedy sebagai direktur produksi nonaktif. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengakuan Pekerja Lokalisasi Sunan Kuning Sebelum Penutupan

Pengakuan Pekerja Lokalisasi Sunan Kuning Sebelum Penutupan

Regional
Walau Palembang Diguyur Hujan Lebat, Tapi Lokasi Karhutla Masih Membara

Walau Palembang Diguyur Hujan Lebat, Tapi Lokasi Karhutla Masih Membara

Regional
Mari Bantu Siswa-siswi SD di Flores Agar Tak Lagi Pikul Air 5 Km untuk Siram Toilet

Mari Bantu Siswa-siswi SD di Flores Agar Tak Lagi Pikul Air 5 Km untuk Siram Toilet

Regional
Kisah Dua Nenek Buta Kakak-Beradik yang Sakit-sakitan dan Setia Tinggal Bersama

Kisah Dua Nenek Buta Kakak-Beradik yang Sakit-sakitan dan Setia Tinggal Bersama

Regional
Bupati Madiun Jamin Anak-anak Pengungsi Wamena Tak Putus Sekolah

Bupati Madiun Jamin Anak-anak Pengungsi Wamena Tak Putus Sekolah

Regional
Kisah Bocah 3,5 Tahun Penderita Tumor Ganas, Hanya Bisa Terbaring dengan Perut Sebesar Bola Basket

Kisah Bocah 3,5 Tahun Penderita Tumor Ganas, Hanya Bisa Terbaring dengan Perut Sebesar Bola Basket

Regional
Fakta Ajudan Nekat Curi Uang Kapolres, Terdesak Cicilan Mobil hingga Terancam 5 Tahun Penjara

Fakta Ajudan Nekat Curi Uang Kapolres, Terdesak Cicilan Mobil hingga Terancam 5 Tahun Penjara

Regional
Kecanduan Game Online, Puluhan Pelajar Diobati di Rumah Sakit Jiwa Solo

Kecanduan Game Online, Puluhan Pelajar Diobati di Rumah Sakit Jiwa Solo

Regional
Kisah Relawan Jelajahi Gua Vertikal untuk Cari Air Bersih: Puluhan Tahun Akhirnya Kami Tidak Kekeringan Lagi

Kisah Relawan Jelajahi Gua Vertikal untuk Cari Air Bersih: Puluhan Tahun Akhirnya Kami Tidak Kekeringan Lagi

Regional
Dicabuli Guru Les Vokal hingga Hamil 8 Bulan, Siswi SMP Alami Trauma, Pilih Berhenti Sekolah

Dicabuli Guru Les Vokal hingga Hamil 8 Bulan, Siswi SMP Alami Trauma, Pilih Berhenti Sekolah

Regional
Joki Cilik Meninggal Saat Pacuan Kuda, Aktivis Kampanyekan #Stopjokicilik

Joki Cilik Meninggal Saat Pacuan Kuda, Aktivis Kampanyekan #Stopjokicilik

Regional
Kopi Sumowono, Awalnya untuk Panti Asuhan Kini Harganya Rp 5 Juta Per Kg

Kopi Sumowono, Awalnya untuk Panti Asuhan Kini Harganya Rp 5 Juta Per Kg

Regional
Daftar 20 Desa di Sleman yang Dilewati Tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen

Daftar 20 Desa di Sleman yang Dilewati Tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen

Regional
Duduk Perkara OTT Wali Kota Medan, demi Tutupi Biaya Perjalanan ke Jepang ...

Duduk Perkara OTT Wali Kota Medan, demi Tutupi Biaya Perjalanan ke Jepang ...

Regional
[POPULER NUSANTARA] Rumah Ayah Tiri Kapolri Tito Terbakar | Cerita Driver Ojol Lulus Cum Laude S2

[POPULER NUSANTARA] Rumah Ayah Tiri Kapolri Tito Terbakar | Cerita Driver Ojol Lulus Cum Laude S2

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X