Warga Ramai-ramai Pikul Mobil Pikap untuk Terobos Banjir

Kompas.com - 11/12/2018, 21:37 WIB
Tangkapan layar video saat warga menggotong mobil untuk menerobos banjir di Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan BaratDok. Jon Esra Tangkapan layar video saat warga menggotong mobil untuk menerobos banjir di Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat

SINTANG, KOMPAS.com - Sebuah mobil jenis pikap warna putih terpaksa dipikul ramai-ramai oleh warga untuk melewati jalan yang terendam banjir di Desa Monbai Begunung, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Minggu (9/12/2018).

Mobil tersebut terpaksa digotong karena hanya itu satu-satunya akses yang bisa dilewati dan digunakan masyarakat untuk beraktivitas.

Aksi warga menggotong mobil demi menerobos banjir itu pun terekam video yang diunggah di akun Instagram @jonesratefi milik Jon Esra Tefi yang kemudian diviralkan akun Instagram @sintanginformasi.

"Greget, jalan Banjer di Desa Monbai Begununk masyarakat angkat mobil yang mogok pakai pikol," bunyi kutipan yang menyertai unggahan video di akun Instagram @sintanginformasi.

Baca juga: Banjir dan Longsor di Probolinggo Sebabkan 2 Orang Tewas, 63 Rumah Rusak, 7 Jembatan Putus

Kepada Kompas.com, Jon Esra menceritakan bahwa saat itu dirinya yang bekerja di koperasi kredit CU Lantang Tipo sedang melakukan perjalanan melalui desa tersebut untuk mengunjungi nasabah.

"Sebenarnya ada beberapa titik lokasi banjir, tapi yang sempat saya videokan hanya yang di Desa Monbai Begunung itu dan lokasi itu juga langganan banjir setiap tahunnya," ujar Jon melalui seluler, Selasa (11/12/2018) malam.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Greget ???? Jalan Banjer Di Desa Monbai Begununk Masyarakat Angkat Mobil Yang Mogok Pakai Pikol ???????? By @jonesratefi #sintanginformasi #sintang

A post shared by | BERITA SINTANG | (@sintanginformasi) on Dec 10, 2018 at 4:49am PST

Jon menambahkan, biaya untuk menggotong mobil agar bisa melewati banjir cukup besar, yakni Rp 1,3 juta untuk mobil pikap tanpa penumpang dan Rp 1,5 juta untuk mobil pribadi. Biaya cukup mahal itu karena kedalaman banjir mencapai satu meter atau setinggi pinggang orang dewasa.

"Kalau warga yang sudah biasa, mereka akan berhenti dan menunggu sampai banjir surut. Tapi kalau yang buru-buru ya terpaksa dipikul," ungkapnya.

Baca juga: Terendam Banjir, Rapor 120 Siswa SMPN 18 Kota Malang Rusak

Jalur tersebut merupakan satu-satunya akses yang menghubungkan Desa Nanga Mau dengan Desa Nanga Tebidah serta desa-desa lainnya di Kecamatan Kayan Hilir, Sintang.

Beberapa waktu yang lalu, tambah Jon, kondisi jalan di jalur tersebut bahkan sempat rusak parah.

"Truk lewat jalan itu sampai gak kelihatan lagi karena jalan rusak. Untungnya saat itu langsung diperbaiki jalannya," papar Jon.

Saat ini, banjir di lokasi tersebut mulai berangsur surut dan warga kembali beraktivitas normal seperti biasa.



Terkini Lainnya


Close Ads X