Di Balik Aksi PKL di Pamekasan, Bupati Kesal Ada Caleg Ikut Demo hingga PKL Boleh Jualan Lagi

Kompas.com - 06/12/2018, 14:27 WIB
Aksi unjuk rasa PKL area monumen Arek Lancor Pamekasan di depan kantor Bupati Pamekasan, Kamis (6/12/2018). KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMAN Aksi unjuk rasa PKL area monumen Arek Lancor Pamekasan di depan kantor Bupati Pamekasan, Kamis (6/12/2018).

PAMEKASAN, KOMPAS.com - Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh puluhan pedagang kaki lima ( PKL) area Taman Arek Lancor Pamekasan, Jawa Timur, di kantor Bupati Pamekasan, Kamis (6/12/2018), diwarnai pengusiran oleh Bupati Pamekasan, Badrut Tamam.

Badrut terpaksa mengusir salah satu peserta aksi setelah diketahui bahwa yang bersangkutan merupakan calon legislatif asal Partai Demokrat bernama Samhari.

Dia meminta kepada aparat kepolisian yang sedang mengamankan menjalankan aksi untuk mengusir Samhari karena dianggap sebagai provokator dalam aksi PKL.

"Tolong keluarkan orang itu. Itu caleg Demokrat jangan jadi provokator," pinta Badrut kepada polisi.


Namun permintaan Badrut tidak dihiraukan polisi. Samhari pun tetap bertahan di tengah-tengah massa pengunjuk rasa.

Samhari beralasan menjadi pendamping PKL dalam menjalankan aksinya karena prihatin dengan nasib PKL yang diusir dan dilarang berjualan.

Aksi kali ini digelar karena para pedagang diusir oleh Polisi Pamong Praja (Pol PP) dari area monumen Arek Lancor. Akibatnya, mereka tidak bisa berjualan selama empat hari.

Padahal, berjualan di area Arek Lancor sudah dijalani mereka sejak tahun 2013 dan tidak pernah ada aparat yang mengusirnya.

"Saya heran, ketika sudah bupati baru, kami semua diusir dan dilarang berjualan. Kami sangat menderita jika dilarang berjualan. Katanya bupati kita pro-rakyat, sampai malam-malam datang ke PKL minta dukungan waktu mau mencalonkan diri," ungkap Mahmud, salah satu PKL.

Mahmud menambahkan, jika memang area monumen Arek Lancor dilarang untuk berjualan, mengapa baru diberlakukan saat ini. Padahal dari dulu tidak pernah ada larangan. Jika PKL dilarang berjualan, seharusnya pemerintah menyediakan lahan baru untuk relokasi.

"Kalau kami diusir, sediakan dulu tempat untuk relokasi. Kalau ditertibkan tanpa ada solusi, itu namanya kezaliman yang terstruktur karena menggunakan perangkat pemerintah," imbuhnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Badrut berjanji akan membuat tempat berjualan di sejumlah lokasi di Pamekasan yang dilengkapi dengan taman baca.

Namun, rencana tersebut masih membutuhkan kajian yang serius dari beberapa pihak karena rencana tersebut tidak langsung jadi tanpa perencanaan yang matang.

"Doakan saya dan para PKL jangan buruk sangka ke saya agar saya bisa bekerja dengan baik untuk Pamekasan," kata Badrut.

Dia juga mengimbau agar masyarakat tidak perlu teriak-teriak di jalan menggunakan pengeras suara dengan berunjuk rasa untuk menyampaikan aspirasi.

Pasalnya, dia akan meluncurkan program pengaduan secara online atau perwakilan warga bisa bertemu langsung dengannya di rumah dinas.

Politisi PKB ini akhirnya memutuskan, sampai ada relokasi yang nyaman untuk PKL, kegiatan PKL di area monumen Arek Lancor bisa terus berjalan. Keputusan ini disambut gembira para PKL. Aksi pun kemudian berakhir.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Peduli Literasi Anak, 4 Pemuda Jalan Kaki Wonogiri-Jakarta untuk Temui Jokowi

Peduli Literasi Anak, 4 Pemuda Jalan Kaki Wonogiri-Jakarta untuk Temui Jokowi

Regional
Sultan Bubohu Bongo Gorontalo Yosep Tahir Maruf Mangkat

Sultan Bubohu Bongo Gorontalo Yosep Tahir Maruf Mangkat

Regional
Fakta di Balik Ni Luh Djelantik Laporkan Lisa Marlina, Sebut Pelecehan Seks di Bali Biasa hingga Minta Maaf

Fakta di Balik Ni Luh Djelantik Laporkan Lisa Marlina, Sebut Pelecehan Seks di Bali Biasa hingga Minta Maaf

Regional
Rabu Pagi, Gunung Merapi Keluarkan Awan Panas Guguran

Rabu Pagi, Gunung Merapi Keluarkan Awan Panas Guguran

Regional
25 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot, Mak Aroh Dapat Hibah Lahan dari Babinsa

25 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot, Mak Aroh Dapat Hibah Lahan dari Babinsa

Regional
Tipu 30 Orang, Dua Anggota BIN Gadungan Ditangkap

Tipu 30 Orang, Dua Anggota BIN Gadungan Ditangkap

Regional
Pekerja Migran asal Karimun Dibunuh di Malaysia, Bupati Koordinasi dengan KBRI

Pekerja Migran asal Karimun Dibunuh di Malaysia, Bupati Koordinasi dengan KBRI

Regional
Kontak Senjata, TNI Sebut Ada Kelompok Separatis Terluka di Nduga

Kontak Senjata, TNI Sebut Ada Kelompok Separatis Terluka di Nduga

Regional
Fakta KPK Geledah Rumah Gubernur Kepri Nonaktif, Bongkar Paksa Pintu hingga Diduga Terima Gratifikasi Senilai Rp 6,1 Miliar

Fakta KPK Geledah Rumah Gubernur Kepri Nonaktif, Bongkar Paksa Pintu hingga Diduga Terima Gratifikasi Senilai Rp 6,1 Miliar

Regional
Pekerjakan WN Filipina, 8 Kapal Ikan Indonesia Ditangkap KKP

Pekerjakan WN Filipina, 8 Kapal Ikan Indonesia Ditangkap KKP

Regional
Penyebab Kebakaran Rumah yang Tewaskan 4 Bocah Masih Simpang Siur

Penyebab Kebakaran Rumah yang Tewaskan 4 Bocah Masih Simpang Siur

Regional
6 Fakta Proyek 'Underpass' Kentungan Yogyakarta Ambles, WNA Australia Jadi Korban hingga Proyek Dihentikan Sementara

6 Fakta Proyek "Underpass" Kentungan Yogyakarta Ambles, WNA Australia Jadi Korban hingga Proyek Dihentikan Sementara

Regional
Duduk Perkara Dokter Gigi Romi Gagal Jadi PNS karena Penyandang Disabilitas

Duduk Perkara Dokter Gigi Romi Gagal Jadi PNS karena Penyandang Disabilitas

Regional
Duduk Perkara Cerita Viral Perempuan Pendaki Gunung Rinjani Disetubuhi Saat Hipotermia...

Duduk Perkara Cerita Viral Perempuan Pendaki Gunung Rinjani Disetubuhi Saat Hipotermia...

Regional
Geger Bayi Meninggal karena Ditolak Rumah Sakit, Ini Penjelasannya

Geger Bayi Meninggal karena Ditolak Rumah Sakit, Ini Penjelasannya

Regional
Close Ads X