9 Desa di Karawang Dilanda Kekeringan, Setiap Hari Dikirim 25.000 Air Bersih - Kompas.com

9 Desa di Karawang Dilanda Kekeringan, Setiap Hari Dikirim 25.000 Air Bersih

Kompas.com - 29/08/2018, 16:19 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KARAWANG, KOMPAS.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang setiap hari mengirim bantuan 25.000 liter air ke sembilan desa di Kecamatan Tegalwaru dan Pangkalan, Kabupaten Karawang.

Kasi Kedaruratan BPBD Karawang Muhammad Jaenudin mengatakan, bantuan air tersebut dikirimkan kepada warga di Karawang bagian selatan yang masih terdampak kekeringan.

"Setiap hari kita mengirimkan air ke warga sebanyak lima rit mobil. Satu rit itu sebanyak 5.000 liter air. Jadi sekitar 25.000 liter air bersih kita kirim ke warga yang terdampak," ujarnya, Rabu (29/8/2018).

Jaenudin mengungkapkan, di Kecamatan Tegalwaru dan Pangkalan, sedikitnya 2.000 warga terdampak kekeringan. Mereka mengalami kekurangan air bersih lantaran mata air dan sumur di daerah tersebut mengering.

Wilayah di Kecamatan Tegalwaru yang terdampak kekeringan, yakni Desa Cintawargi, Kutalanggeng, Cintalaksana, Cintalanggeng. Sedangkan untuk wilayah Kecamatan Pangkalan yakni Desa Mulangsari, Cintasih, Tamansari, Tamanmekar, dan Jatilaksana.

"Tidak semudah wilayah desa terdampak kekeringan. Melainkan hanya beberapa dusun saja," tandasnya.

Baca juga: Kisah di Balik Kekeringan, Warga Rela Menunggu Air Sisa Telaga

Selain dari BPBD, kata dia, bantuan air bersih juga datang dari pihak PDAM, kepolisian, dan TNI di Karawang.

Wacih, warga RT 002 RW 001, Dusun Palasari, Desa Kutalanggeng, Kecamatan Tegalwaru, menyebut, kekeringan melanda desanya sejak dua bulan lalu.

Sumur miliknya sudah kering. Setiap hari ia harus menempuh jarak satu kilometer untuk sekadar mencuci pakaian di Sungai Cicaban.

"Nyuci di ditu (di sana), di Kali Cicaban," ujar Wacih dengan logat sunda.

Sementara untuk makan dan minum, Wacih memilih membeli dari warga. Maklum ia sudah kerepotan jika harus menggotong jeriken berisi air dari Sungai Cicaban ke rumahnya. Sementara suami Wacih sudah sepuh.

"Meuli sajeriken dua rebu. Sapuluh rebu lima jeriken (beli air satu jeriken Rp 2.000. Sepuluh ribu rupiah jadi lima jeriken)," tambahnya.

Baca juga: Musim Kemarau, Ini 8 Wilayah yang Alami Kekeringan

Wacih sendiri tinggal bersama anaknya yang berdagang. Sedangkan suaminya sudah meninggal. Setiap kemarau, desanya memang kerap mengalami kekeringan hingga air bersih sulit didapat.

Kompas TV BMKG mengimbau masyarakat menjaga cadangan air agar tidak terjadi kelangkaan pangan yang mengakibatkan inflasi.



Close Ads X