Tahun Politik, Kapolda Jatim Minta Pendekar Tunda Gelar Tradisi Suran Agung - Kompas.com

Tahun Politik, Kapolda Jatim Minta Pendekar Tunda Gelar Tradisi Suran Agung

Kompas.com - 10/08/2018, 16:35 WIB
Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin meminta para pendekar di Madiun raya menunda pelaksanaan tradisi Suran Agung lantaran tahun ini dan tahun 2019 masih menjadi tahun politik sehingga rawan dengan gesekan.KOMPAS.com/Muhlis Al Alawi Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin meminta para pendekar di Madiun raya menunda pelaksanaan tradisi Suran Agung lantaran tahun ini dan tahun 2019 masih menjadi tahun politik sehingga rawan dengan gesekan.

MADIUN, KOMPAS.com - Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin meminta para pendekar di wilayah Madiun raya menunda pelaksanaan tradisi Suran Agung.

Jenderal polisi bintang dua ini berdalih tahun ini menjadi tahun politik sehingga rawan gesekan.

"Kan ini tahun politik. Pernah terjadi juga beberapa tahun yang lalu tidak ada Suran Agung. Walaupun itu tradisi, kan bisa ditunda tahun depan," ujar Arifin usai meletakkan batu pertama pembangunan perumahan polisi di Sawahan, Kabupaten Madiun, Jumat ( 10/8/2018).

Tradisi Suran Agung merupakan tradisi yang dilakoni para pendekar di wilayah Madiun setiap tahun baru Hijriah setiap tahunnya.

Ribuan pendekar biasanya berduyun-duyun berziarah ke makam leluhurnya di beberapa tempat pemakaman di Kota Madiun.

Arifin menyatakan, permintaan yang disampaikan itu tidak bisa bersifat paksaan, melainkan imbauan karena tahun 2018/2019 menjadi tahun politik menyusul perhelatan pilkada, pilpres dan pileg.

"Ini imbauan, kalau bisa. Karena ini tahun politik, rawan gesekan. Kalau enggak ya dilaksanakan dengan tertib saja," ujar Arifin.

Baca juga: Suran Agung di Madiun, Polisi Tilang Ratusan Pesilat

Arifin menambahkan bila tradisi Suran Agung tetap dilaksanakan, syaratnya harus tertib dan tidak ada gesekan. Ia khawatir bila terjadi gesekan akan menjadikan situasi menjadi panas.

"Kalau ada gesekan, nanti kan bisa bikin panas. Padahal Jawa Timur relatif aman dan kondusif," ungkap Arifin.

Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pusat Madiun, R Moerdjoko yang dikonfirmasi terpisah menyatakan, tetap melaksanakan tradisi Suran Agung. Hanya saja skala kegiatannya lebih kecil.

"Tahun ini dan tahun 2019 adalah tahun politik. Kalau menggelar kegiatan skala besar rawan dibenturkan dengan saudara-saudara kita sendiri," ujar Moerdjoko.

Kendati demikian, kata Moerdjoko, Suran Agung merupakan kegiatan ritual yang diselenggarakan setiap tahun dan dilakukan turun temurun. Untuk itu, pihaknya tetap menggelar Suran Agung meski dengan skala kecil.

"Kami mengajak kepada pesilat meskipun mengadakan kegiatan dalam skala kecil, jangan mengerahkan anggota yang banyak. Tetapi kita sebar kegiatan itu di masing-masing wilayah," ujar Moerdjoko.

Baca juga: Mencekam, Massa Bonek Hampir Bentrok Lawan Para Pendekar Perguruan Silat

Ia menambahkan, para pendekar bersama paguyuban perguruan pencak silat dan IPSI tetap berkomitmen mendukung pelaksanaan tahapan pilkada, pilpres dan pileg secara aman, damai dan netral.



Close Ads X