Adu Sound System, Tradisi Warga Desa Sumbersewu Muncar Sambut Lebaran - Kompas.com

Adu Sound System, Tradisi Warga Desa Sumbersewu Muncar Sambut Lebaran

Kompas.com - 14/06/2018, 22:01 WIB
Sound system Idola Blitar yang disewa komunitas pemuda timur Pasar Komis Bagorejo Kecamatan Srono seharga Rp 30 juta.KOMPAS.COM/Ira Rachmawati Sound system Idola Blitar yang disewa komunitas pemuda timur Pasar Komis Bagorejo Kecamatan Srono seharga Rp 30 juta.

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Masyarakat Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, punya tradisi unik untuk menyambut Lebaran, yaitu adu sound system yang di ikuti puluhan pemilik sound system yang sebagian besar berasal dari luar kota.

Sound system tersebut di sewa oleh komunitas-komunitas pemuda yang ada disekitar kecamatan Muncar secara swadaya. Harga sewa bisa sangat fantastis, satu set soundsystem disewa hingga harga puluhan juta rupiah.

Satu set sound system yang disewa oleh Pemuda Timur Pasar Komis Bagorejo Kecamatan Srono misalnya. Mereka mengeluarkan dana Rp 30 juta untuk mendatangkan sound system Idola Music dari Blitar.

Ari sumiyandono (31), ketua Pemuda Timur Pasar Komis Bagorejo Kecamatan Srono kepada Kompas.com, Kamis (14/6/2018), mengatakan uang untuk menyewa sound system tersebut diperoleh secara urunan dari 30 anggota komunitas. Rata rata mereka menyumbang antara 700 ribu rupiah sampai 1 juta rupiah.

Baca juga: Puter Kayun, Tradisi Lebaran Kusir Dokar di Banyuwangi

"Uang sebanyak itu dikumpulkan selama setahun secara iuran. Jadi jika ada yang punya uang disetorkan ke bendahara. Ada yang Rp 50 ribu bahkan Rp 10 ribu . Semuanya di catat sampai terkumpul 30 juta. Kalau ada anggota yang nggak punya uang ya nggak kami paksa," kata Ari.

Menurut dia, ada anggota mereka yang rela tidak beli baju Lebaran agar bisa ikut menyumbang.

"Bahkan ada yang jual ayam peliharaan," kata Ari sambil tertawa.

Komunitasnya menyewa sound system Idola dari Blitar sejak 3 tahun lalu. Pada tahun pertama dan kedua harga sewa Rp 28 juta dan pada tahun 2018 ini tarif sewa naik jadi Rp 30 juta.

"Sejak pertama nyewa di sound Idola Blitar. Kami dapat satu set mulai dari truk puso, satu set sound system bahkan lighting. Mereka tiba di Banyuwangi tiga hari sebelum Lebaran. Nginap di rumah warga," ujar Ari.

Ia mengatakan, komunitasnya sengaja ikut kegiatan adu sound karena kesenangan dan hobi. Kegiatan tersebut juga untuk menyatukan anak-anak muda di wilayah Muncar.

"Setelah adu sound, malamnya kami takbir keliling menggunakan sound itu dan semua anggota ikut takbiran, " jelas Ari.

Adu sound system tersebut dimulai siang hingga sore hari. Masing masing truk memutar musik secara bergantian diiring sorak sorai para pendukung. Ribuan orang juga berkumpul di tengah lapangan sementara puluhan truk tersebut diparkir mengelilingi lapangan yang berada tepat di tengah desa Sumbersewu Muncar.

"Tidak ada yang menang dan kalah. Ini bukan perlombaan, buat senang-senang saja. Tapi biasanya kalau di sini diliat bagus nanti banyak yang pesan," kata Andi Wahyu Prasetyanto (28), pemilik sound system Idola Blitar.

Andi membawa 12 krus, dan satu truk puso yang berisi 40 unit subwoofer, midhigh sebanyak 16 unit dan lowhigh 4 unit.

Selain itu sebuah truk puso sepanjang 8 meter dan setinggi 4 meter yang dilengkapi dengan sistem pencahayaan yang dinyalakan saat takbir keliling malam hari.

"Kekuatan sound kami 165 ribu watt dan bisa didengar sampai radius 7 kilometer," jelas Andi.

Dia mengatakan, selama tiga tahun terakhir ikut acara adu sound system dan disewa oleh komunitas Pemuda Timur Pasar Komis Bagorejo Kecamatan Srono. Selain karena disewa, kedatangannya ke acara itu juga untuk ajang silaturahmi dengan para pemilik sound system di Jawa Timur.

"Hampir sebagian besar yang disewa berasal dari luar Banyuwangi. Ada yang dari Sidoarjo, Malang, Surabaya. Semua pengusaha sound kumpul di sini," ujar Andi.

Setelah adu sound system, mereka akan takbiran hingga tengah malam. Lalu Andi dan krus pulang ke Blitar.

Sementara itu Slamet Riyadi, salah satu panitia kegiatan menjelaskan tradisi takbiran menggunakan sound system sudah ada sejak tahun 1980-an. Nnamun kebiasaan menggunakan sound system dengan kekuatan ribuan watt baru ada sejak tahun 2000-an.

"Saat saya masih muda tahun 80-an masih menggunakan sound system kecil-kecilan pakai  gerobak atau mobil pickup. Tapi kemudian berubah seperti ini. Masing-masing komunitas pemuda mengeluarkan sound dengan sewa menggunakan uang sendiri," kata dia.

Ia mengatakan, mereka biasanya keliling takbir sendiri. Beberapa tahun terakhir dikoordinir oleh panitia dan ada beberapa aturan yang harus di taati semua kelompok pemuda, salah satunya adalah selama takbiran keliling hanya diperbolehkan memutar takbir tidak boleh musik lain.

Selain itu para peserta dilarang mengkonsumsi minuman keras dan alkohol.

"Selain itu saat malam takbiran suaranya harus seperempat dari suara maksimal. Soalnya ada yang sampai kaca rumahnya pecah karena getaran suara. Nah maksimal suaranya ya dilakukan di adu sound siang hari ini. Kalau pas malam takbiranhanya diputar pelan" kata Slamet.

Ia mengatakan saat malam takbiran, semua peserta adu sound yang terdiri dari 40 truk puso akan berkeliling di desa Sumbersewu dan sekitarnya mulai jam 8 malam hingga tengah malam. Kendaraan bermotor milik warga baik mobil dan sepeda motor akan ikut mengiringi puluhan truk puso di malam takbiran.

"Lebaran di Desa Sumbersewu ini sangat terasa sekali. Mungkin baru ada di desa sini, malam takbiran dirayakan dengan puluhan sound bermuatan ribuan watt," kata Slamet.


Komentar
Close Ads X