2.906 Sekolah di Yogyakarta Berada di Wilayah Rawan Bencana

Kompas.com - 24/04/2018, 17:30 WIB
Ilustrasi gempa bodnarchukIlustrasi gempa

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Ribuan sekolah di Yogyakarta berada di daerah rawan bencana. Untuk itu setiap tahun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) DIY akan melatih puluhan sekolah sesuai dengan potensi bencananya.

Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana mengatakan, dari 5.297 sekolah ada 2.906 yang berada di wilayah rawan bencana. Potensi yang ada di antaranya banjir, tanah longsor, dan gempa bumi.

"Hampir separuh. Hingga 2017 di DIY telah berdiri 71 sekolah dan 6 di antaranya ada di Gunung Kidul, salah satunya SMAN 1 Pathuk," katanya seusai peresmian Sekolah Siaga Bencana (SSB) SMAN 1 Patuk, Gunung Kidul, Selasa (24/4/2018).

Setiap tahun, BPBD DIY menargetkan puluhan sekolah menjadi SSB. Caranya dengan memberikan pelatihan kesiapsiagaan bencana. Hal ini sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DIY 2017-2022.

 

(Baca juga : Longsor dan Banjir Bandang Setinggi 1 Meter Landa 8 Desa di Gorontalo)

"Penanggulangan bencana masuk kurikulumnya dan juga masuk materi pengajaran di sekolah. Tahun ini ada 10 sekolah, tahun depan ada 25 sekolah. Kalau provinsi kan kewenangannya hanya SMA," imbuh dia

Selain kurikulum, infrastruktur dibenahi sesuai karakter bencana. Misalnya sekolah yang ada di wilayah rawan longsor maka bangunan harus sesuai standar bencana longsor. Mulai bangunan hingga jalur evakuasi.

"Segala pihak perlu partisipasinya untuk membentuk SSB. Kesiapsiagaan adalah tanggung jawab kita semua,"ucapnya.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur Paku Alam X mengatakan DIY memiliki potensi bencana. Karena itu, masyarakat harus membiasakan diri hidup di lokasi rawan bencana dan mengantisipasi.

"Semua harus disiapkan. Memahami karakter bencana perlu dipahami sehingga bisa mengantisipasi," jelasnya.

(Baca juga : Jokowi Gelar Kuis Berhitung untuk Anak-anak Korban Gempa, Jawabannya Selalu Sembilan )

Metigasi bencana harus menjadi bagian kearifan lokal masyarakat terutama wilayah berpotensi bencana. Harapannya para siswa bisa diajarkan penanggulangan bencana sejak dini.

"Sekolah bisa mandiri dan tangguh menghadapi bencana," ucapnya.

Kepala SMAN 1 Patuk, Mujiyono mengatakan, sekolahnya dijadikan SSB karena berada di perbukitan Batur Agung atau zona utara. Sedikitnya, ada 350 siswa dan 47 pegawai SMAN 1 Patuk.

"Sekolah dilatih untuk tanggap, tangkas, dan tangguh bila bencana terjadi tiba-tiba. Hal itu guna meyelamatkan warga sekolah karena mereka adalah aset bangsa. Melihat kondisi seperti itu tepat jika SMAN 1 Patuk sebagai sekolah siaga bencana," pungkasnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X