Elemen Muslim Solo Raya Minta Sukmawati Diproses Hukum karena Dinilai Langgar KUHP

Kompas.com - 06/04/2018, 17:17 WIB
Elemen muslim Solo Raya yang tergabung dalam DSKS membawa poster Sukmawati dalam aksi damai di depan Mapolresta Surakarta di Jalan Adi Sucipto Manahan, Solo, Jawa Tengah, Jumat (6/4/2018). KOMPAS.com/Labib ZamaniElemen muslim Solo Raya yang tergabung dalam DSKS membawa poster Sukmawati dalam aksi damai di depan Mapolresta Surakarta di Jalan Adi Sucipto Manahan, Solo, Jawa Tengah, Jumat (6/4/2018).

SOLO, KOMPAS.com - Elemen muslim Solo Raya yang tergabung dalam Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) di Solo, Jawa Tengah, meminta kepada pihak kepolisian untuk memproses hukum Sukmawati Soekarnoputri terkait puisinya berjudul "Ibu Indonesia".

Puisi yang dibacakan Sukmawati dalam acara peringatan 29 tahun Anne Avantie Berkarya itu dinilai telah melanggar Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 156 A terkait dengan penodaan agama.

"Kami menyampaikan surat kepada Kapolri (Jenderal Pol Tito Karnavian) tentang dukungan untuk proses hukum terhadap Sukmawati terkait puisinya yang berpolemik dan kontroversial itu," kata Divisi Advokasi DSKS Surakarta, Endro Sudarsono, dalam aksi damai di depan Mapolresta Surakarta di Jalan Adi Sucipto Manahan, Solo, Jawa Tengah, Jumat (6/4/2018).

Melalui surat tersebut, kata Endro, Kapolri dapat segera memproses hukum Sukmawati, memanggil saksi-saksi, mengumpulkan barang bukti, serta memanggil saksi ahli yang berkompeten, baik dari MUI maupun ahli bahasa dan pidana.

Baca juga: Terkait Puisi Ibu Indonesia, Aliansi Muslimah Aceh Laporkan Sukmawati ke Polisi

 

Menurut Endro, apabila Sukmawati terbukti bersalah maka polisi harus melakukan gelar perkara secara jujur, independen, dan profesional.

"Jika telah memenuhi unsur pasal yang disangkakan maka pihak kepolisian harus segera melakukan penahanan terhadap Sukmawati," jelas dia.

Dia menilai, puisi berjudul "Ibu Indonesia" itu telah melecehkan karena membandingkan antara konde dengan cadar dan kidung dengan azan. Sebab, perbandingan atau pertentangan dalam puisi itu konotasinya adalah negatif.

"Selaku umat Islam, permintaan maaf Ibu Sukmawati tentu kami maafkan. Karena kita negara hukum maka harus diproses hukum dan berlanjut," tutur Endro.

Ada ratusan umat muslim yang ikut terlibat dalam aksi damai tersebut. Mereka melakukan orasi secara bergantian dengan pengamanan polisi.

Baca juga: Lagi, Sukmawati Dilaporkan ke Polisi karena Puisi Ibu Indonesia

 

Massa aksi berasal dari Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM), Laskar Hizbullah, dan lainnya.

Mereka turut membentangkan spanduk bertulis "Sukmawati Sombong, Menolak Kebenaran, dan Merendahkan Orang Lain".

Koordinator lapangan (korlap) Ahmad Sigit menambahkan, aksi damai tersebut tidak hanya diselenggarakan di Solo, tetapi juga di beberapa kota besar di Indonesia, di antaranya Poso, Banten, dan Tegal.

"Kami lawan dalih yang mengatakan seni bebas dari norma dan bebas di mana saja," ungkap Ahmad.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tak Cuma Online, Pelajar SD dan SMP di Surabaya Bisa Belajar lewat Televisi

Tak Cuma Online, Pelajar SD dan SMP di Surabaya Bisa Belajar lewat Televisi

Regional
Bayi Usia 8 Hari di Kudus Meninggal, Terkonfirmasi Positif Covid-19

Bayi Usia 8 Hari di Kudus Meninggal, Terkonfirmasi Positif Covid-19

Regional
4 Orang Tertimbun Longsor di Sibolga, 2 Tewas

4 Orang Tertimbun Longsor di Sibolga, 2 Tewas

Regional
Rekor Baru Penambahan Kasus Covid-19 di Riau

Rekor Baru Penambahan Kasus Covid-19 di Riau

Regional
Kapolda Maluku Menyuapi Sejumlah Taruna Akpol, Ingatkan Jangan Serakah

Kapolda Maluku Menyuapi Sejumlah Taruna Akpol, Ingatkan Jangan Serakah

Regional
Pengunjung Pulau Komodo Dibatasi Maksimal 50.000 Orang Setahun

Pengunjung Pulau Komodo Dibatasi Maksimal 50.000 Orang Setahun

Regional
Satu Penumpang Positif Corona, Lion Air: Bukan Kesalahan dan Kesengajaan Maskapai

Satu Penumpang Positif Corona, Lion Air: Bukan Kesalahan dan Kesengajaan Maskapai

Regional
Erick Thohir: Bio Farma Siap Produksi 250 Juta Dosis Vaksin Covid-19, Tersedia Mulai Desember 2020

Erick Thohir: Bio Farma Siap Produksi 250 Juta Dosis Vaksin Covid-19, Tersedia Mulai Desember 2020

Regional
Masuk Zona Hijau Covid-19, Pemkot Kupang Pertimbangkan Buka Sekolah

Masuk Zona Hijau Covid-19, Pemkot Kupang Pertimbangkan Buka Sekolah

Regional
Kronologi Lengkap Temuan Kerangka Wanita Berjaket Merah Wonogiri, Hilang Jejak Usai Jual Motor

Kronologi Lengkap Temuan Kerangka Wanita Berjaket Merah Wonogiri, Hilang Jejak Usai Jual Motor

Regional
Soal Klaim Risma Surabaya Jadi Hijau, Kadis: Yang Berubah Bukan Zona, tapi Reproduksi Efektif

Soal Klaim Risma Surabaya Jadi Hijau, Kadis: Yang Berubah Bukan Zona, tapi Reproduksi Efektif

Regional
Anggota DPRD Maluku Positif Covid-19: Sebelum Swab, Saya Ikut Rapat di Kantor

Anggota DPRD Maluku Positif Covid-19: Sebelum Swab, Saya Ikut Rapat di Kantor

Regional
Mahasiswa Unnes Adukan Mendikbud Nadiem Makarim ke Komnas HAM

Mahasiswa Unnes Adukan Mendikbud Nadiem Makarim ke Komnas HAM

Regional
Pegunungan Menoreh Akan Dilengkapi Kereta Gantung

Pegunungan Menoreh Akan Dilengkapi Kereta Gantung

Regional
Keluar Masuk Makassar Tak Perlu Lagi Surat Bebas Covid-19

Keluar Masuk Makassar Tak Perlu Lagi Surat Bebas Covid-19

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X