Daftar Pemilih Sementara Pilkada Jabar Capai 31,7 Juta

Kompas.com - 18/03/2018, 10:22 WIB
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat menetapkan Pilkada Jawa Barat 2018 diikuti oleh empat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. KOMPAS.com/Putra Prima Perdana.Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat menetapkan Pilkada Jawa Barat 2018 diikuti oleh empat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur.

BANDUNG, KOMPAS.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat menggelar Rapat Pleno terbuka Rekapitulasi Data Pemilih Sementara (DPS) pada Pilkada Jabar 2018 di Aula Setia Permana, Jalan Garut, Bandung, Sabtu (17/3/2018) dini hari.

Hasilnya, KPU menetapkan 31.708.330 jiwa sebagai pemilih sementara di Pilkada Jawa Barat 2018 dengan rincian, 15.941.296 laki-laki dan 15.767.034 perempuan. Para pemilih tersebar di 627 kecamatan, 5.957 desa/kelurahan dan akan memilih di 74.944 TPS. Jumlah tersebut belum termasuk pemilih disabilitas.

"Pentapan paling cepat bulan April. Menjelang pencoblosan biasanya ada penambahan tapi tidak signifikan, hanya ribuan," ujar Ketua KPU Jabar, Yayat Hidayat saat dihubungi Kompas.com via sambungan telepon, Minggu (18/3/2018).

Yayat merinci, dari total 31,7 juta pemilih sementara, 30 persen di antaranya berstatus sebagai pemilih pemula.  "Pemilih pemula 10 jutaan lah atau 30 persen," katanya.

Jumlah pemilih pemula juga diprediksi bakal bertambah menjelang pencoblosan. Apalagi, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru bagi warga yang akan berusia 17 tahun sebelum atau saat pencoblosan pada 23 Juni nanti bisa membuat KTP lebih awal agar bisa memberikan hak pilihnya.

"Itu sudah saya imbau ke Disdukcapil dan respons Disduk bagus. Jadi yang 17 tahun pada 27 juni sudah bisa langsung merekam KTP dari sekarang. Pas nyoblos pemilih wajib membawa KTP kalau gak bawa KTP gak bisa, makanya ada kebijakan baru jadi mereka boleh mengurus perekaman KTP di awal," tuturnya.

Yayat mengaku ada beberapa kendala yang dihadapi petugas dalam melakukan pendataan. Salah satunya, sulit mendata masyarakat yang tinggal di apartemen atau perumahan mewah khususnya di kawasan Bekasi.  "Yang sulit itu biasanya bukan daerah biasanya di apartemen, perumahan mewah," ucapnya.

Selain itu, Yayat juga mendapati laporan dari petugas yang kesulitan mendata pemilih di Pesantren Al Zaytun Indramayu. Dari laporan petugas, kata Yayat, pihak pesantren tak memberi izin petugas untuk melakukan pendataan langsung.

"Mereka enggak mau didata langsung, enggak tahu alasannya. Setiap Pilkada selalu begitu. Saya sudah suruh KPU Indramayu untuk menjelaskan kepada pesantren bahwa pendataan pemilu itu langsung ke pemilih ke santri, tinggal dikumpulkan saja santrinya," katanya

"Nah ini mah enggak jadi didata pesantrennya lalu diserahkan petugas, prosedurnya salah. Kalau pesantren lain terbuka," tambah dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi Tangkap 4 Pelajar Terduga Penganiaya Anggota TNI di Bulukumba

Polisi Tangkap 4 Pelajar Terduga Penganiaya Anggota TNI di Bulukumba

Regional
Ada 2 Status Kepala Dinas, Kantor PU Disegel oleh DPRD Jember, Ini Penjelasannya

Ada 2 Status Kepala Dinas, Kantor PU Disegel oleh DPRD Jember, Ini Penjelasannya

Regional
Provinsi Jabar Kembali Berlakukan PSBB Proporsional

Provinsi Jabar Kembali Berlakukan PSBB Proporsional

Regional
Kata Pejabat di Banyumas Usai Vaksinasi Covid-19, dari Lapar hingga Ngantuk Berat

Kata Pejabat di Banyumas Usai Vaksinasi Covid-19, dari Lapar hingga Ngantuk Berat

Regional
Seorang Wanita di Sumedang Ditemukan Tewas Bersimbah Darah

Seorang Wanita di Sumedang Ditemukan Tewas Bersimbah Darah

Regional
Cek Tol Demak, Ganjar: Desainnya untuk Kendalikan Banjir dan Kelola Air

Cek Tol Demak, Ganjar: Desainnya untuk Kendalikan Banjir dan Kelola Air

Regional
5.400 Vaksin Covid-19 Tiba di Banyuwangi, Diprioritaskan untuk Tenaga Kesehatan

5.400 Vaksin Covid-19 Tiba di Banyuwangi, Diprioritaskan untuk Tenaga Kesehatan

Regional
Diduga Terima Suap untuk Pengadaan Alkes Covid-19, Seorang Dokter Jadi Tersangka

Diduga Terima Suap untuk Pengadaan Alkes Covid-19, Seorang Dokter Jadi Tersangka

Regional
Suliyati Meninggal di Malaysia, Keluarga Malah Terima Jenazah Orang Lain, Ini Ceritanya

Suliyati Meninggal di Malaysia, Keluarga Malah Terima Jenazah Orang Lain, Ini Ceritanya

Regional
Polisi Buru Pasangan Remaja yang Video Mesumnya di Atas Motor Viral di Medsos

Polisi Buru Pasangan Remaja yang Video Mesumnya di Atas Motor Viral di Medsos

Regional
Kabupaten Cianjur Berlakukan PSBB Proporsional

Kabupaten Cianjur Berlakukan PSBB Proporsional

Regional
Cerita Ramisah, Digugat Anak Kandung yang Puluhan Tahun Merantau ke Malaysia

Cerita Ramisah, Digugat Anak Kandung yang Puluhan Tahun Merantau ke Malaysia

Regional
Jadi Tersangka, Pria dan Oknum ASN di Jatim yang Mesum Dalam Mobil Tidak Ditahan, tetapi...

Jadi Tersangka, Pria dan Oknum ASN di Jatim yang Mesum Dalam Mobil Tidak Ditahan, tetapi...

Regional
Tabrak Monyet Menyeberang Jalan, 2 Perempuan Dibawa ke Rumah Sakit

Tabrak Monyet Menyeberang Jalan, 2 Perempuan Dibawa ke Rumah Sakit

Regional
Tes Psikologi untuk Syarat Mengurus SIM Bisa via Aplikasi, Begini Caranya

Tes Psikologi untuk Syarat Mengurus SIM Bisa via Aplikasi, Begini Caranya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X