Batik Besurek dalam Pusaran Peradaban Bengkulu

Kompas.com - 13/11/2017, 11:30 WIB
Aktifitas pembatik besurek Bengkulu. KOMPAS.com/FIRMANSYAHAktifitas pembatik besurek Bengkulu.
|
EditorReni Susanti

BENGKULU, KOMPAS.com - "Batik adalah sebuah proses. Batik bukanlah kain tradisional dan batik bukanlah fesyen. Batik adalah kain peradaban. Batik dibuat secara beradab, ada curahan rasa, hati, doa, kelembutan, jiwa, harmoni dan cinta dalam setiap goresannya.”

Ungkapan tersebut disampaikan desainer batik Indonesia, Edward Hutabarat. Prof Dr Koentjaraningrat menyebutkan, peradaban adalah bagian-bagian yang halus dan indah layaknya seni, menekankan unsur nurani dan akal.

Batik Besurek menjalani proses peradaban panjang di Provinsi Bengkulu. Besurek dalam bahasa Bengkulu adalah bersurat, kain yang ditulisi dengan huruf kaligrafi arab tanpa makna.

Batik Besurek dalam sejarah Bengkulu nyaris punah. Menyisakan batik tua yang tersimpan di museum dan beberapa orangtua, lalu mulai dibuat ulang di sekitar tahun 1983.

(Baca juga : Diplomasi Batik Jokowi-Presiden Korsel yang Nyaris Tak Terbayar)

Kurator Museum Negeri Bengkulu, Muhardi mengisahkan, batik besurek bercirikan kaligrafi tanpa makna. Batik tersebut masuk ke Bengkulu pada abad XVI bersamaan dengan Islam.

Ini ditengarai dengan sudah digunakannya besurek dalam tradisi Bengkulu. Mulai dari ayunan anak, acara pernikahan, penggunaan selendang motif besurek saat ziarah kubur, hingga ritual pengantin perempuan meratakan gigi di mana mempelai ditutup dengan kain besurek.

"Ritual-ritual budaya itu telah ada sejak abad XVI dan kain besurek telah dipakai," jelasnya.

batik besurek yang dibuat dari tanganKompas.com/Firmansyah batik besurek yang dibuat dari tangan
Ia menjelaskan, jauh sebelum Islam masuk, Bengkulu memiliki kain tenun Delamak asal Kabupaten Kaur. Bahan dasarnya benang Kloi yang berasal dari tumbuhan menjalar sebagai benang.

Motif yang digunakan tenun Delamak yakni garis pantai, pucuk rebung, siku keluang, perahu dan manusia.

"Saat Islam masuk, tenun delamak mendapatkan sentuhan dari batik besurek, semacam berakulturasi kira-kira begitu," jelas Muhardi.

Ada banyak tambahan motif saat Tenun Delamak dan Batik Besurek bersatu, yakni kaligrafi yang dipadu dengan motif-motif garis pantai, pucuk rebung, dan lainya.

"Tenun Delamak dipadu dengan kaligrafi maka semakin kaya motif," ujar Muhardi.

Muhardi mengaku, dalam beberapa motif besurek terkadang muncul ciri batik Jawa. Belum diketahui secara pasti kenapa motif batik Jawa kadang muncul di besurek.

"Ada dugaan saat Sentot Ali Basya, panglima perang Pangeran Diponegoro diasingkan ke Bengkulu 1833 terdapat beberapa pengrajin batik asal Jawa yang turut memperkaya motif batik besurek. Tapi ini masih hipotesis perlu penelitian mendalam," tegas Muhar.

Baginya, usaha konservasi dan pelestarian batik besurek harus dilakukan oleh semua kalangan. Menurut dia, besurek merupakan pakaian yang membungkus peradaban Bengkulu.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X