Memecahkan Misteri Situs Purbakala Liyangan di Lereng Gunung Sindoro

Kompas.com - 03/10/2017, 10:37 WIB
Situs Liyangan di kaki Gunung Sindoro, Desa Purbosari, Ngadirejo, Temanggung, Jateng, Sabtu (22/11/2014). Dalam ekskavasi lanjutan yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta ditemukan reruntuhan rumah hunian yang diperkirakan berasal dari abad ke-6. KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYATSitus Liyangan di kaki Gunung Sindoro, Desa Purbosari, Ngadirejo, Temanggung, Jateng, Sabtu (22/11/2014). Dalam ekskavasi lanjutan yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta ditemukan reruntuhan rumah hunian yang diperkirakan berasal dari abad ke-6.
|
EditorReni Susanti

TEMANGGUNG, KOMPAS.com - Para ahli terus berupaya memecahkan misteri situs purbakala Liyangan di lereng Gunung Sindoro, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Kepala Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta, Sugeng Riyanto mengatakan, masih banyak "pekerjaan rumah" yang harus dikerjakan dari seluruh area situs tersebut, terutama terkait sistem dan jenis pertanian yang dipakai masyarakat kala itu.

"PR masih banyak, kami meneliti baru sekitar 15 - 20 persen dari seluruh area maupun seluruh informasi yang ada," ujar Sugeng di Temanggung, Senin (2/10/2017).

Penelitian terakhir dilakukan September 2017. Saat itu, tim ekskavasi melakukan penelitian di teras halaman empat dan tiga. Hasilnya diketahui bahwa keduanya terhubung cukup rapat dengan benteng bambu yang ditancapkan ganda, dengan jarak 30 sentimeter.

"Itu artinya, benteng bambu tersebut kalau dari halaman empat ke halaman tiga tidak bisa langsung dan harus melalui tangga. Tapi, tangganya belum ditemukan sampai saat ini," jelas Sugeng.

(Baca juga: Situs Purbakala yang Diduga Bekas Kolam Permandian Ditemukan di Malang)

Di samping bangunan fisik situs, tim juga meneliti sistem pertanian purbakala di pemukiman Liyangan. Di area ini diperkirakan ada lahan pertanian dengan sistem yang matang.

Hal ini merujuk pada jejak-jejak yang ditemukan, seperti keberadaan Yoni pipih bundar setebal sekitar 20 sentimeter dan diameter 2 meter.

Menurut Sugeng, Yoni ini termasuk unik dan hanya ditemukan di Liyangan. Yoni tersebut berada di struktur bolder. Seperti struktur pertanian era sekarang yang berteras dan yoni berada di teras paling tinggi.

"Bahkan, di depan cerat yoni juga ada saluran air. Artinya yoni itu berkaitan langsung dengan pertanian dan irigasi. Yoni ini jantung pertanian kuno, karena berada di tempat paling tinggi. Di lokasi ini juga sering dilakukan upacara sebelum bertani," paparnya.

(Baca juga: Situs Purbakala di Lereng Merapi Diduga Tempat Pemandian Para Raja)

Sugeng melanjutkan, situs Liyangan bukan sekedar peninggalan leluhur berupa susunan bebatuan belaka. Namun diduga ada peradaban yang pernah hidup di situs yang letaknya sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Temanggung tersebut.

Para ahli menginginkan generasi saat ini dan yang akan datang belajar tentang hal itu.

"Orang ke sana tidak sekedar melihat candi, tapi melihat peradaban leluhurnya. Bisa belajar dari leluhurnya untuk kebanggaan jati diri. Ini bukti bahwa leluhur kita itu hebat," tandas dia.




Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

KPU Akan Umumkan 16 Kepala Daerah Terpilih di Jawa Timur, Ini Rinciannya...

KPU Akan Umumkan 16 Kepala Daerah Terpilih di Jawa Timur, Ini Rinciannya...

Regional
Kakek Renta di Bandung Digugat Anaknya Rp 3 Miliar, Dedi Mulyadi Siap Bela

Kakek Renta di Bandung Digugat Anaknya Rp 3 Miliar, Dedi Mulyadi Siap Bela

Regional
Seorang Ibu Nekat Jadi Pengedar Sabu Setelah Dibujuk Anaknya yang Dipenjara, Ini Alasannya

Seorang Ibu Nekat Jadi Pengedar Sabu Setelah Dibujuk Anaknya yang Dipenjara, Ini Alasannya

Regional
Antisipasi Banjir Susulan, BPBD Kabupaten Bogor Bangun Tenda Darurat

Antisipasi Banjir Susulan, BPBD Kabupaten Bogor Bangun Tenda Darurat

Regional
Ruang Isolasi Penuh, RSUD Kota Madiun Sementara Tidak Terima Pasien Covid-19

Ruang Isolasi Penuh, RSUD Kota Madiun Sementara Tidak Terima Pasien Covid-19

Regional
Pengungsi Longsor Sumedang Butuh Makanan Siap Saji hingga Selimut

Pengungsi Longsor Sumedang Butuh Makanan Siap Saji hingga Selimut

Regional
Kristen Gray Tawarkan Jasa Konsultasi Cara Masuk Indonesia Saat Pandemi, Tarifnya Rp 700.000

Kristen Gray Tawarkan Jasa Konsultasi Cara Masuk Indonesia Saat Pandemi, Tarifnya Rp 700.000

Regional
Diguyur Hujan Semalaman, Puluhan Rumah di Batang Terendam Banjir

Diguyur Hujan Semalaman, Puluhan Rumah di Batang Terendam Banjir

Regional
UPDATE Gempa Sulbar: Korban Tewas Bertambah Jadi 89, 3 Orang Masih Hilang

UPDATE Gempa Sulbar: Korban Tewas Bertambah Jadi 89, 3 Orang Masih Hilang

Regional
Bahaya Banjir Susulan di Puncak Bogor, Warga Dilarang Kembali ke Rumah

Bahaya Banjir Susulan di Puncak Bogor, Warga Dilarang Kembali ke Rumah

Regional
Ponorogo Zona Merah Covid-19, Angka Kematian di Atas Rata-rata Nasional

Ponorogo Zona Merah Covid-19, Angka Kematian di Atas Rata-rata Nasional

Regional
Semua Kecamatan di Kabupaten Bogor Zona Merah

Semua Kecamatan di Kabupaten Bogor Zona Merah

Regional
Sebelum Dipulangkan, Pengungsi Konflik KKB Vs Aparat Keamanan Jalani Tes Kesehatan

Sebelum Dipulangkan, Pengungsi Konflik KKB Vs Aparat Keamanan Jalani Tes Kesehatan

Regional
Pengakuan Kristen Gray: Visa Tidak Overstay dan Tidak Bekerja Mencari Uang di Indonesia

Pengakuan Kristen Gray: Visa Tidak Overstay dan Tidak Bekerja Mencari Uang di Indonesia

Regional
Kristen Gray Dideportasi, Imigrasi Beberkan Twit yang Dianggap Meresahkan

Kristen Gray Dideportasi, Imigrasi Beberkan Twit yang Dianggap Meresahkan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X