Sultan HB X: PKL Tak Akan Hilang dari Malioboro, tetapi Harus Ditata - Kompas.com

Sultan HB X: PKL Tak Akan Hilang dari Malioboro, tetapi Harus Ditata

Kompas.com - 26/09/2017, 19:00 WIB
Suasana kawasan wisata Malioboro saat tanpa ada Pedagang Kali Lima (PKL), Becak dan Andong di Malioboro, Yogyakarta, Selasa (26/9). Pemerintah setempat berencana akan meliburkan aktivitas pedagang kaki lima, seniman jalanan, andong, becak dan pedagang asongan di sepanjang Jalan Malioboro setiap 35 hari sekali tepatnya hari Selasa Wage guna melakukan pembersihan dan perawatan rutin kawasan Malioboro yang merupakan destinasi wisata andalan Yogyakarta. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko Suasana kawasan wisata Malioboro saat tanpa ada Pedagang Kali Lima (PKL), Becak dan Andong di Malioboro, Yogyakarta, Selasa (26/9). Pemerintah setempat berencana akan meliburkan aktivitas pedagang kaki lima, seniman jalanan, andong, becak dan pedagang asongan di sepanjang Jalan Malioboro setiap 35 hari sekali tepatnya hari Selasa Wage guna melakukan pembersihan dan perawatan rutin kawasan Malioboro yang merupakan destinasi wisata andalan Yogyakarta.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menggusur pedagang kaki lima dari kawasan Malioboro karena keduanya tidak dapat dipisahkan.

"Pedagang kaki lima tidak dihilangkan, tetap ada karena mereka adalah bagian dari perekonomian masyarakat. Hari ini, mau menikmati Malioboro tanpa ada kotak-kotak biru itu, ternyata bisa juga," kata Sultan saat meninjau Malioboro di Yogyakarta, Selasa (26/9/2017).

Sultan didampingi Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah DIY dan Pemerintah Kota Yogyakarta berjalan kaki dari kantor Gubernur DIY ke arah Titik Nol Kilometer saat Malioboro bebas dari PKL.

Pemerintah Kota Yogyakarta bersama seluruh PKL dan komunitas di Malioboro sepakat melaksanakan program "Selasa Wage", sebuah program dari komitmen bersama agar PKL tidak berjualan di Malioboro pada waktu yang sudah ditentukan tersebut.

(Baca juga: Selasa Wage, Pedagang Stop Jualan untuk Bersih-bersih Malioboro)

Seluruh komunitas pedagang kaki lima dan komponen masyarakat lain mengisi hari itu dengan membersihkan Malioboro dan merawat fasilitas yang ada.

"Tetapi perlu dipikirkan bersama agar PKL tersebut tetap bisa berjualan dengan baik namun tertata. Harus dicari jalan keluarnya, misalnya mendekatkan stok dagangan PKL sehingga mereka tidak perlu membawa stok saat berjualan," katanya.

Selain itu, Sultan HB X juga berharap ada pemisahan antara pedagang yang menjual barang-barang "basah" seperti kuliner dengan pedagang barang "kering" yang menjual berbagai jenis cinderamata.

Pemerintah sudah menyiapkan lokasi di lokasi bekas Bioskop Indra untuk PKL dengan membangun gedung tiga lantai.

Sultan pun kembali menandaskan bahwa seluruh kegiatan revitalisasi Malioboro harus dapat diselesaikan pada 2019.

Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan tujuan kegiatan Selasa Wage bukan untuk mengosongkan Malioboro dari pedagang kaki lima.

"Tujuannya adalah melakukan perbaikan dan pembenahan terhadap Malioboro setiap 35 hari sekali. Jika tidak demikian, maka tidak ada waktu untuk membersihkan atau melakukan perbaikan fasilitas di Malioboro," katanya.

Dia pun mengapresiasi para pedagang yang mengikhlaskan waktu dan peluang memperoleh pendapatan dengan menutup usahanya selama satu hari penuh.

Kegiatan "Selasa Wage", lanjut Haryadi, juga bisa dimanfaatkan oleh komunitas untuk beraktivitas di Malioboro misalnya dengan menggelar kegiatan budaya atau pariwisata asalkan tidak bertentangan dengan tujuan awal kegiatan.

 

Kompas TV Andong di Jalan Malioboro Diperiksa Petugas


EditorCaroline Damanik
Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X