Menteri Susi: Uang Asuransi Jangan untuk Cari Suami Lagi...

Kompas.com - 20/09/2017, 16:38 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Semarang, Rabu (20/9/2017). KOMPAS.com/Nazar NurdinMenteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Semarang, Rabu (20/9/2017).
|
EditorErlangga Djumena

SEMARANG, KOMPAS.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyerahkan secara simbolis klaim asuransi kepada keluarga nelayan yang mengalami korban kecelakaan kerja. Santunan asuransi yang diberikan jumlahnya mencapai Rp 1,2 miliar.

"Uang asuransi jangan untuk cari suami lagi lho," kata Susi, di depan para nelayan Pantura di Semarang, Rabu (20/9/2017).

Menurut Susi, nelayan yang umumnya laki-laki khawatir asuransi yang diberikan kepada pihak istri nantinya akan mencari suami lagi. Hal itu jika sang suami mengalami insiden kecelakaan kerja saat melaut.

Susi pun menegaskan bahwa karakter perempuan terutama dari nelayan tidak seperti itu. "Jadi, ada kekhawatiran bapak-bapak (nelayan) nanti istrinya kawin lagi. Enggak gitu," ucapnya.

Baca juga: Menteri Susi: Kapal 10 GT Jangan Dibebani Izin Lagi Pak Ganjar...

Peraih doktor honoris causa dari Undip Semarang ini menegaskan bahwa asuransi nelayan penting untuk memberi jaminan bagi keluarga nelayan untuk dapat menyambung hidup. Nelayan yang mengalami insiden baik di darat, laut atau mengalami cacat tetap dapat santunan dari asuransi.

Pihak nelayan sendiri tidak perlu khawatir untuk membayar premi asuransi. Sebab, premi dibayarkan oleh Pemerintah. "Pemerintah sekarang memperhatikan dan memastikan perlindungan nelayan. Jadi, Pemerintah perhatikan nelayan agar untung, kalau ada kecelakaan tidak takut anak istri tidak makan karena asuransi, pemerintah yang bayar," sebut dia.

Dalam pemberian asuransi itu, keluarga nelayan menerima klaim asuransi yang jumlahnya variatif mulai dari Rp 50 juta. Dalam klaim asuransi sendiri, ada ketentuan yang mengatur soal kecelakaan kerja bagi nelayan. Apabila nelayan meninggal saat melakukan aktivitas penangkapan ikan diberi santunan Rp 200 juta, cacat tetap Rp 100 juta, biaya pengobatan Rp 20 juta.

Sementara jaminan untuk santunan kecelakaan akibat selain aktivitas penangkapan ikan Rp 160 juta ketika meninggal dunia, Rp 100 juta untuk cacat etap dan Rp 20 juta untuk biaya pengobatan. 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

Regional
Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Regional
'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X