Prosesi "Grebeg Gethuk", Mengenang Sejarah Kota Magelang

Kompas.com - 17/04/2017, 11:11 WIB
Kompas.com/Ika Fitriana Prosesi grebeg gethuk HUT ke-1111 Kota Magelang, Minggu (16/4/2017).

MAGELANG, KOMPAS. com - Grebeg Gethuk menjadi tradisi yang selalu dinantikan masyarakat Kota Magelang, Jawa Tengah dan sekitarnya. Ribuan orang menyemut di Alun-alun setempat mengikuti tradisi yang biasanya digelar pada puncak perayaan HUT Kota Magelang.

Seperti pada perayaan HUT ke-1.111 Kota Magelang, Minggu (16/4/2017). Dua gunungan yang disusun atas ribuan gethuk menjadi ikon utama tradisi ini. Gethuk adalah makanan terbuat dari singkong khas kota ini.

Dua gunungan gethuk tersebut mewakili laki-laki dan perempuan. Keduanya hidup berdampingan sama halnya kondisi Kota Magelang yang diharap selalu harmonis. Kedua gunungan gethuk lalu digrebeg atau direbutkan oleh ribuan warga yang hadir.

Tradisi itu mirip dengan tradisi grebeg di Yogyakarta dan Solo. Hanya saja grebeg gethuk memiliki makna sendiri.


Gepeng Nugroho, salah satu penggagas grebeg gethuk, mengungkapkan bahwa tradisi ini merupakan catatan singkat bagaimana Kota Magelang ini berdiri sejak ribuan tahun yang lalu.

Catatan itu kemudian divisualisasikan dalam wujud prosesi seni dan budaya yang atraktif, melibatkan ratusan seninam.

Prosesi diawali dengan iring-iringan Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito, dan sejumlah pejabat daerah setempat, menaiki kereta kencana. Selanjutnya mereka berkumpul di panggung di tengah Alun-alun bersama warga.

Lalu, prosesi kirab 17 gunungan palawija dan potensi dari 17 kelurahan di Kota Magelang. Kirab ini diringi penampilan seni tari untuk menarik dewan juri yang menilainya.

"Secara historis, kirab gunungan palawija ini merupakan simbol persembahan atau upeti rakyat kepada pemimpin," ujar Gepeng.

Usai kirab, digelar upacara yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Sigit Widyonindito. Pesertanya adalah ratusan perwakilan warga dan pejabat yang seluruhnya mengenakan busana adat jawa, termasuk aba-aba yang dipakai juga Bahasa Jawa.

Proses dilanjutkan dengan tarian kolosal “Babad Mahardika” oleh 200 pelajar dan seniman Magelang.

Tari yang dimainkan dengan atraktif itu menceritakan tentang sejarah Kota Magelang. Ada bermacam tarian , yakni tari kerakyatan, ritual, rampok, dan tari prajurit.

Sejarah dimulai ketika banyak musuh luar menyerbu untuk menguasai Magelang. Wilayah ini dahulu dikenal dengan wilayah "transit" orang-orang luar Magelang yang hendak beribadah di dataran tinggi atau puncak gunung-gunung yang mengelilingi Magelang.

Halaman:


EditorErlangga Djumena

Terkini Lainnya


Close Ads X