Gempa Pidie Jaya akibat Pergerakan Sesar Aktif

Kompas.com - 07/12/2016, 22:58 WIB
Pusat gempa di Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12/2016). USGSPusat gempa di Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12/2016).
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

SLEMAN, KOMPAS.com - Gempa berkekuatan M 6,5 di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12/2017) pagi tadi merupakan dampak dari pergerakan sesar aktif mendatar dan dekstral (menganan).

Ahli gempa dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Gayatri Indah Marliyani, mengatakan bahwa sesar aktif yang bergerak di Pidie Jaya ini merupakan cabang dari sesar Sumatera di bagian utara. Sesar ini berorientasi barat laut-tenggara.

"Ada tekanan dari zona subduksi atau penunjaman di selatan Sumatera memberikan gaya tekan yang kuat ke daerah permukaan. Akibatnya membentuk sesar-sesar yang aktif, gempa terjadi akibat pergerakan dari sesar-sesar ini," kata Gayatri dalam keterangan pers Humas UGM, Rabu.

Ia menyebutkan, guncangan gempa terasa kuat karena wilayah tersebut tersusun oleh batuan yang tidak kompak.


Ketika melewati daerah dengan batuan yang lepas-lepas, amplitudo gelombang gempa akan membesar untuk bisa merambatkan energi yang sama sehingga getaran yang dirasakan pada daerah ini lebih kuat.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Situasi rumah yang runtuh akibat gempa di Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya, Aceh, Jumat (9/12/2016). Desa Kuta Pangwa adalah titik desa terparah dan menyebabkan puluhan rumah warga hancur dan memakan 15 orang dari 9 kepala keluarga.
"Gempa yang terjadi bersifat merusak, terutama disebabkan oleh kedalamannya yang dangkal dan terjadi di kawasan pemukiman padat penduduk," kata dia.

Namun, karena pergerakan sesar yang bersifat mendatar dan terjadi di kedalaman yang dangkal, maka gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Anggota tim revisi peta gempa nasional ini meminta masyarakat tetap waspada dan mengantisipasi kejadian gempa susulan, walapun kekuatannya lebih kecil dan akan terus menurun.

"Yang harus dilakukan adalah memeriksa kondisi bangunan karena jika bangunan sudah rusak atau retak parah, getaran gempa yang kecil pun mampu merubuhkan bangunan," kata dia.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Situasi rumah yang runtuh akibat gempa di Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya, Aceh, Jumat (9/12/2016). Desa Kuta Pangwa adalah desa yang mengalami kerusakan terparah dan menyebabkan puluhan rumah warga hancur dan memakan korban tewas sebanyak 15 orang.
Gayatri juga menyampaikan pentingnya upaya mitigasi bencana gempa. Salah satunya dengan memetakan jalur sesar atau patahan aktif di seluruh kawasan Indonesia, terutama di kawasan padat penduduk atau perkotaan.

"Indikasi bahwa sesar ini aktif adalah adanya kegempaan di daerah sesar tersebut. Ketika sesar bergerak dan menimbulkan gempa, sesar ini akan cenderung bergerak lagi di masa yang akan datang," ujarnya.

Ia mengatakan perlunya penelitian geologi secara mendalam tentang sejarah kegempaan di sepanjang sesar tersebut. Penelitian ini untuk menyingkap sejarah gempa di masa lalu dan mengetahui potensi gempa di masa datang.

Baca tentang
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X