Stok Lokal Tak Cukup, Perajin Tahu Terpaksa Gunakan Kedelai Impor

Kompas.com - 07/09/2016, 11:38 WIB
KOMPAS.COM/ M Wismabrata Perajin tahu sedang bekerja.

KULONPROGO, KOMPAS.com - Perajin industri tahu di Desa Tuksono, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggunakan kedelai impor karena ketersediaan kedelai lokal tidak mencukupi kebutuhan produksi mereka.

Ketua Perajin Tahu Murni Tuksono Ponimin di Kulon Progo, Rabu, mengatakan jumlah perajin tahu di Tuksono ada 108 orang dengan rata-rata kebutuhan kedelai 1,5 ton per hari.

"Setiap perajin tahu membutuhkan kedelai antara satu kuintal hingga dua kuintal atau sekitar 1,5 ton per hari. Ketersediaan kedelai lokal tidak mampu mencukupi kebutuhan perajin tahu dalam waktu satu tahun," kata Ponimin.

Ia mengatakan tahu berbahan kedelai lokal memiliki kelebihan yakni lebih kenyal dan tahan lama, dibandingkan kedelai impor. Meski demikian, perajin tahu lebih memilih kedelai impor karena ketersediaannya lebih banyak dan mudah didapat.


"Perajin tahu di Desa Tuksono sudah bekerjasama dengan penjual kedelai, sehingga sewaktu-waktu perajin kehabisan, langsung dikirim. Selain itu, perajin tahu tidak harus langsung membayar kedelai yang telah disetor," katanya.

Ia mengatakan sampai saat ini, ada sekitar 30 jenis makanan berbahan dasar tahu mulai dari tahu putih, kripik tahu hingga brownis tahu. Nantinya ketika mega proyek di Kulon Progo seperti bandara baru dan kawasan industri telah selesai dibangun, diharapkan mampu mendongkrak penjualan dan angka produksi tahu di Tuksono.

"Kami pengrajin tahu di Tuksono sekarang ini siap siap meningkatkan kualitas serta aneka macam jenis tahu. Kami ingin adanya bandara juga semakin banyak tahu yang terjual," katanya.

Ponimin mengatakan keberadaan sentra tahu di Desa Tuksono, khususnya di Pedukuhan Kaliwiru dan Wonobroto mampu mendongkrak perekonomian masyarakat dan mengurangi pengangguran.

Jumlah tenaga kerja yang terserap dengan adanya industri tahu sekitar 500 orang dengan rata-rata upah berkisar Rp70 ribu per hari setiap orangnya.

"Sejak tahun 1970-an, industri tahu di Desa Tuksono berkembang pesat. Hampir setiap rumah di Dusun Kaliwiru dan Wonobroto, masyarakat memproduksi tahu. Hal ini dikarenakan masyarakat mampu meningkatkan kesejahteraan mereka," kata dia.

Kepala Desa Tuksono Panut Hadi Santoso mengatakan pengrajin tahu merupakan mata pencarian pokok warga Wonobroto dan Kaliwiru. "Sejak dulu menjadi perajin tahu dan penjual tahu adalah mata pencaharian pokok warga Tuksono," kata Panut.

Sebagai salah satu bentuk pendampingan dari desa kepada perajin tahu, pemerintah desa selalu menyiapkan anggaran BUMDes atau pinjaman kepada pengrajin tahu untuk mengembangkan usaha.

"Kami mendukung industri tahu di Desa Tuksono karena mampu menggerakan perekonomian masyarakat," katanya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorCaroline Damanik
SumberANTARA
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Pindad Bongkar Rahasia TNI AD Juarai Lomba Tembak Internasional 12 Kali Berturut-turut

Pindad Bongkar Rahasia TNI AD Juarai Lomba Tembak Internasional 12 Kali Berturut-turut

Regional
Kesaksian Satu Keluarga asal Australia Saat Mobil Terguling ke Underpass Kentungan yang Ambles

Kesaksian Satu Keluarga asal Australia Saat Mobil Terguling ke Underpass Kentungan yang Ambles

Regional
Peduli Literasi Anak, 4 Pemuda Jalan Kaki Wonogiri-Jakarta untuk Temui Jokowi

Peduli Literasi Anak, 4 Pemuda Jalan Kaki Wonogiri-Jakarta untuk Temui Jokowi

Regional
Sultan Bubohu Bongo Gorontalo Yosep Tahir Maruf Mangkat

Sultan Bubohu Bongo Gorontalo Yosep Tahir Maruf Mangkat

Regional
Fakta di Balik Ni Luh Djelantik Laporkan Lisa Marlina, Sebut Pelecehan Seks di Bali Biasa hingga Minta Maaf

Fakta di Balik Ni Luh Djelantik Laporkan Lisa Marlina, Sebut Pelecehan Seks di Bali Biasa hingga Minta Maaf

Regional
Rabu Pagi, Gunung Merapi Keluarkan Awan Panas Guguran

Rabu Pagi, Gunung Merapi Keluarkan Awan Panas Guguran

Regional
25 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot, Mak Aroh Dapat Hibah Lahan dari Babinsa

25 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot, Mak Aroh Dapat Hibah Lahan dari Babinsa

Regional
Tipu 30 Orang, Dua Anggota BIN Gadungan Ditangkap

Tipu 30 Orang, Dua Anggota BIN Gadungan Ditangkap

Regional
Pekerja Migran asal Karimun Dibunuh di Malaysia, Bupati Koordinasi dengan KBRI

Pekerja Migran asal Karimun Dibunuh di Malaysia, Bupati Koordinasi dengan KBRI

Regional
Kontak Senjata, TNI Sebut Ada Kelompok Separatis Terluka di Nduga

Kontak Senjata, TNI Sebut Ada Kelompok Separatis Terluka di Nduga

Regional
Fakta KPK Geledah Rumah Gubernur Kepri Nonaktif, Bongkar Paksa Pintu hingga Diduga Terima Gratifikasi Senilai Rp 6,1 Miliar

Fakta KPK Geledah Rumah Gubernur Kepri Nonaktif, Bongkar Paksa Pintu hingga Diduga Terima Gratifikasi Senilai Rp 6,1 Miliar

Regional
Pekerjakan WN Filipina, 8 Kapal Ikan Indonesia Ditangkap KKP

Pekerjakan WN Filipina, 8 Kapal Ikan Indonesia Ditangkap KKP

Regional
Penyebab Kebakaran Rumah yang Tewaskan 4 Bocah Masih Simpang Siur

Penyebab Kebakaran Rumah yang Tewaskan 4 Bocah Masih Simpang Siur

Regional
6 Fakta Proyek 'Underpass' Kentungan Yogyakarta Ambles, WNA Australia Jadi Korban hingga Proyek Dihentikan Sementara

6 Fakta Proyek "Underpass" Kentungan Yogyakarta Ambles, WNA Australia Jadi Korban hingga Proyek Dihentikan Sementara

Regional
Duduk Perkara Dokter Gigi Romi Gagal Jadi PNS karena Penyandang Disabilitas

Duduk Perkara Dokter Gigi Romi Gagal Jadi PNS karena Penyandang Disabilitas

Regional
Close Ads X