Ustaz Ghazali: Pelaku Teror Bom di Medan Masuk Jaringan Teroris Internasional - Kompas.com

Ustaz Ghazali: Pelaku Teror Bom di Medan Masuk Jaringan Teroris Internasional

Kompas.com - 31/08/2016, 20:40 WIB
Kontributor Medan, Mei Leandha KOMPAS.com/ Mei Leandha - Ustadz Khairul Ghazali, Mantan Terpidana Perampokan Bank CIMB Niaga Medan dan Dikenal Sebagai Teroris, Rabu (31/8/2016)

MEDAN, KOMPAS.com - Ustaz Khairul Ghazali (50), mantan terpidana perampokan Bank CIMB Niaga Medan yang dikenal sebagai teroris meyakini bahwa IAH (18) bukan pelaku tunggal penyerangan terhadap pemuka agama gereja Katolik Santo Yosep Medan.

Dia mengatakan hal ini berdasarkan hasil pertemuannya dengan pelaku di Polresta Medan. IAH mengaku berguru di Jalan Setia Budi dan media sosial dan menyebut sejumlah nama, termasuk Bahrun Naim.

"Saya yakin dia terlibat jaringan internasional, jaringannya ini masih berkeliaran. Saya melihat rekaman video IAH berbaiat kepada pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi," kata Ghazali, Rabu (31/8/2016).

Baca juga: Ayah Pelaku Teror Bom di Medan Sedih Lihat Anaknya Berbadan Lemah seperti Tape

Dalam rekaman hasil penggeledahan kamar pelaku, IAH terlihat sedang memegang bendera ISIS. Maka, Ghazali tak percaya bahwa pelaku mendapat iming-iming uang.

"Rekaman video itu goyang, artinya ada pelaku lain. Ini kelompok yang besar. Jadi tidak masuk akal ada iming-iming uang. Doktrinnya akhirat, surga dan bidadari," ucap pimpinan Pesantren Darusy Syifa di Desa Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Pria berkaca mata itu khawatir aksi serupa akan dilakukan IAH-IAH lain. Alasannya, banyak individu yang berpotensi bertindak radikal. Melakukan Amaliyat Jihad. Ini lebih tepat disebut aksi teror yang sangat memalukan dan mencemarkan Islam.

Menurutnya, sel-sel jihad di Medan sudah lama beraksi dan masih aktif, mulai dari Komando Jihad 1976, pembajakan Garuda Woyla 1981, peledakan gereja di tahun 2000, perampokan Lippo Bank di 2003, perampokan Bank Sumut pada 2009, perampokan Bank CIMB Niaga dan penyerangan Polsek Hamparan Perak pada 2010.

Dulu, kata Ghazali, sekitar 200-an orang didoktrin dengan paham radikal.

"Sekarang mereka sudah jadi senior, saya tidak tahu lagi di mana mereka berada," ujarnya.

Baca juga: "Jangan Kaitkan dengan SARA dan Mengunggah Foto Pelaku Teror di Medan"

Jaringan inilah yang kemudian medoktrin anak-anak muda, biasanya dari sekolah umum karena lebih mudah dicuci otaknya hingga siap untuk mati.

Dia menduga, IAH didoktrin sekitar setahun lalu saat dia masih duduk di kelas tiga SMA. Kemudian berbaiat kepada pemimpin ISIS setelah menamatkan pendidikannya beberapa bulan lalu.

"Mungkin ini aksi bom bunuh diri pertama di Medan. Tidak tertutup kemungkinan akan ada kejadian serupa dan lebih besar," tegas Ghazali.

Diberitakan sebelumnya, selepas menjalani masa hukumannya, Ghazali mendirikan pesantren untuk memberi kesempatan anak-anak mantan dan korban teroris mendapatkan pendidikan.

Karena setelah orangtua atau keluarganya ditangkap, negara melakukan pembiaran terhadap nasib orang yang ditinggalkan. Ditambah pengucilan dari masyarakat.

Santrinya diberikan pemahaman tentang Islam yang benar supaya tidak mengikuti jejak pendahulunya.

IAH adalah pelaku percobaan bom bunuh diri dan penyerangan terhadap Pastor Albret Pandingan (60) di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep di Jalan Dr Mansur Medan pada Minggu (28/8/2016) lalu.

Warga Jalan Setia Budi Medan ini diamankan polisi dengan tubuh dan wajah penuh luka beserta barang bukti pipa kuning, tas ransel, kabel, kapak, pisau, baterai, kain warna biru, bubuk yang diduga mesiu, serta sepeda motor yang digunakannya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorFarid Assifa

Terkini Lainnya


Close Ads X