Memberi Dampak Ekonomi, Salah Satu Kelebihan Saung Angklung Udjo - Kompas.com

Memberi Dampak Ekonomi, Salah Satu Kelebihan Saung Angklung Udjo

Kompas.com - 26/01/2016, 20:21 WIB
KOMPAS.com/Reni Susanti Direktur Utama Saung Angklung Udjo (SAU), Taufik Hidayat membawa piala Best ASEAN Cultural Preservation Effort. Piala ini sebagai penghargaan atas dedikasi SAU terhadap pelestarian budaya di tingkat ASEAN.
BANDUNG, KOMPAS.com – Saung Angklung Udjo (SAU) kembali memenangkan penghargaan internasional.

Kali ini, SAU berhasil membawa pulang piala Best ASEAN Cultural Preservation Effort dari Asean Tourism Association (ASEANTA) di Manila, Filipina, Jumat (22/1/2016).

Direktur SAU, Taufik Hidayat Udjo mengaku bangga menerima penghargaan tersebut. Apalagi para pesaing sangat kuat dan bagus.

Dari tanah Sunda saja, kata Taufik, terdapat nama ‘Kampung Naga’ dan ‘Baduy’. Kedua nama tersebut merupakan kampung adat yang sangat kental dengan budaya Sunda.

“Kami tidak merasa kami yang terhebat dibanding yang lain. Tapi mungkin ada kelebihan lain yang dilihat juri di SAU,” ujar Taufik kepada Kompas.com, Selasa (26/1/2016).

Taufik menjelaskan, salah satu penilaian yang dilakukan juri dari lima negara adalah dampak pelestarian budaya terhadap lingkungan sekitar.

Jika diterjemahkan lagi, apa dampak angklung bagi masyarakat sekitar SAU. Sedikitnya, sambung Taufik, ada 1.000 orang terlibat aktif di SAU.

Di antaranya 600 orang pemain dan 200 orang perajin. Jumlah itu belum termasuk mitra SAU, seperti perusahaan travel.

“Sedikitnya 1.000 orang merasakan dampak ekonomi secara langsung dari SAU,” imbuhnya.

Hal lainnya yang jadi penilaian adalah kegiatan budaya di tempat tersebut. SAU, lanjut Taufik, sangat aktif.

Dalam sehari, SAU bisa menampilkan delapan kali pertunjukan yang tak hanya angklung, tapi berbagai kesenian Jawa Barat, seperti jaipongan, gamelan dan lainnya.

“Wisatawan lokal yang datang ke SAU setiap harinya mencapai 1.000 orang,” tambah dia.

Serbuan wisatawan ini, sambung Taufik, bukan karena SAU mengundang mereka. Para wisawatan itu datang karena mendengar cerita dari mereka yang pernah datang atau lewat  pemberitaan media massa.

“Promosi SAU dari mulut ke mulut dan lewat pemberitaan. Kami berkegiatan bukan karena turis. Tapi turis datang ke kami karena kami berkegiatan,” ucapnya.

Meski berdampak ekonomi, Taufik mengatakan, bisnis bukanlah tujuan SAU. Tujuan utama SAU adalah menjaga warisan budaya Sunda yang susah payah dibangun sang ayah, Mang Udjo. Baginya, bisnis hanyalah bonus dari kerja keras yang dilakukan seluruh anggota tim SAU.

“Kami juga tidak pernah daftar (ikut) penghargaan. Penghargaan yang kami terima adalah berkat pihak-pihak yang mendaftarkan kami. Seperti yang sekarang. Kami berterima kasih pada Kementerian Pariwisata khususnya pak Arif Yahya yang telah memfasilitasi dari pendaftaran sampai diterimanya penghargaan,” tutupnya.


EditorErvan Hardoko

Close Ads X