Gas Langka, Warga Terpaksa Masak Air Pakai "Rice Cooker"

Kompas.com - 26/05/2015, 02:31 WIB
Operasi Pasar (OP) gas LPG 3 kilogram di Kampung Boton, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Senin (25/5/2015). KOMPAS.com/Ika FitrianaOperasi Pasar (OP) gas LPG 3 kilogram di Kampung Boton, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Senin (25/5/2015).
|
EditorBayu Galih

MAGELANG, KOMPAS.com – Sejumlah warga Kota Magelang, Jawa Tengah, mengeluhkan kelangkaan gas LPG 3 kilogram yang terjadi beberapa hari terakhir. Ada warga yang terpaksa memasak air menggunakan alat penanak nasi listrik (rice cooker), serta ada pula warga yang beralih memakai bahan bakar kayu.

"Sudah tiga hari terakhir saya masak air pakai rice cooker, makanan beli di warung. Saya cari gas di mana-mana kosong," ujar Choriroh, warga Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Senin (25/5/2015).

Ibu lima anak itu mengaku juga terpaksa mengandalkan makanan cepat saji di warung untuk memenuhi kebutuhan makanan keluarganya sehari-hari. Kondisi ini membuat pengeluarannya membengkak dari hari biasanya.

“Saya dijanjikan (oleh pangkalan) dapat gas Senin sore ini. Kalau mau beli gas 12 kilogram mahal,” tuturnya.

Choriroh berharap pemerintah daerah setempat benar-benar melakukan operasi pasar yang bisa sepenuhnya berjalan maksimal. Termasuk bisa melakukan pengawasan berkelanjutan, agar gas tidak lagi sulit didapatkan oleh warga kecil.

Kepala Pusat Koperasi Konsumen (PKK) Kota Magelang, Bambang Setyawan, mengungkapkan bahwa untuk menanggulangi kelangkaan gas melon itu pihaknya bersama Pertamina dan Hiswana Migas menggelar operasi pasar, Senin (25/5/2015) siang. Operasi pasar dilakukan serentak oleh agen LPG PKK dan agen Fatima Kota Magelang untuk 17 kelurahan yang ada.

“OP ini hasil koordinasi kami dengan pemerintah dan pangkalan yang kemudian mengirim surat ke Pertamina. Pertamina menyetujui tambahan 560 tabung dan sekarang kami gunakan untuk OP,” ujarnya, di sela kegiatan di Kantor Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Utara.

Bambang mengatakan, sebagai agen, pihaknya wajib menyampaikan gas operasi pasar ini kepada masyarakat yang saat ini tengah kesulitan memperoleh gas bersubsidi tersebut. Bambang menyebutkan, dalam operasi pasar ini pihaknya menjual gas 3 kilogram seharga Rp 15.500 per tabung sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

"Melalui OP ini sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa harga gas melon pada dasarnya tidak lebih dari Rp 15.500 per tabung. Karena yang terjadi di lapangan banyak yang menjual lebih mahal dari HET," ucap Bambang.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, kelangkaan gas melon belakangan ini merupakan siklus tahunan yang biasa terjadi setiap menjelang bulan Puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Menurutnya, banyak warga, terutama industri rumahan yang mulai memproduksi makanan kecil untuk persiapan bulan Puasa.

"Selain itu kelangkaan juga dipengaruhi oleh faktor psikis konsumen itu sendiri. Konsumen khawatir tidak kebagian gas, sehingga membeli gas lebih dari satu tabung sebagai cadangan. Stok gas di Kota Magelang masih relatif aman dan tidak dikurangi," ujar Bambang.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk ikut melakukan pengawasan terhadap peredaran gas tersebut. Menurutnya, gas bersubsidi hanya diperuntukkan bagi konsumen kelas menengah ke bawah, bukan untuk rumah makan, hotel, industri besar, dan kalangan menengah ke atas lainnya. Hal ini juga untuk mengantisipasi kelangkaan gas yang justru merugikan masyarakat kurang mampu.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jalani 'Rapid Test' Wajib, 40 Anggota Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya Reaktif Covid-19

Jalani "Rapid Test" Wajib, 40 Anggota Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya Reaktif Covid-19

Regional
Cerita Nelayan Benur di Lombok yang Hidupnya Tak Tentu karena Tengkulak

Cerita Nelayan Benur di Lombok yang Hidupnya Tak Tentu karena Tengkulak

Regional
Fakta Seorang Warga Kalsel Diterkam Buaya, Berawal dari Cuci Tangan di Pintu Air Tambak

Fakta Seorang Warga Kalsel Diterkam Buaya, Berawal dari Cuci Tangan di Pintu Air Tambak

Regional
Benteng Hock, Kantor Satlantas Polres Salatiga yang Dikenal Angker, Kini Jadi Spot Foto

Benteng Hock, Kantor Satlantas Polres Salatiga yang Dikenal Angker, Kini Jadi Spot Foto

Regional
Gubernur Banten: Tak Ada Konflik, Jadwal Pilkada Banten Masih Sesuai Agenda

Gubernur Banten: Tak Ada Konflik, Jadwal Pilkada Banten Masih Sesuai Agenda

Regional
Kasus Covid-19 Melonjak di Ciamis, Sebulan Lebih dari 100 Orang Positif

Kasus Covid-19 Melonjak di Ciamis, Sebulan Lebih dari 100 Orang Positif

Regional
Pesan Pensiunan Guru: Kalau Anda Sukses, Tolong Perhatikan Guru...

Pesan Pensiunan Guru: Kalau Anda Sukses, Tolong Perhatikan Guru...

Regional
Modus Ganti Isi Galon dengan Air Biasa tapi Tutup Segel Resmi, 2 Agen Ditahan Polisi

Modus Ganti Isi Galon dengan Air Biasa tapi Tutup Segel Resmi, 2 Agen Ditahan Polisi

Regional
Minuman Literasi, Produk Herbal Kekinian ala Siswa SMK Gresik, Peluang Bisnis Baru di Balik Pandemi

Minuman Literasi, Produk Herbal Kekinian ala Siswa SMK Gresik, Peluang Bisnis Baru di Balik Pandemi

Regional
Main Perahu di Rawa Pening tapi Tiba-tiba Bocor, Pemancing Tewas Tenggelam

Main Perahu di Rawa Pening tapi Tiba-tiba Bocor, Pemancing Tewas Tenggelam

Regional
Diterkam Buaya Usai Panen Bandeng, Anggota Tubuh Pria Ini Belum Ditemukan

Diterkam Buaya Usai Panen Bandeng, Anggota Tubuh Pria Ini Belum Ditemukan

Regional
Niat Memijat Muridnya yang Cedera, Oknum Guru di Kalsel Justru Berbuat Cabul

Niat Memijat Muridnya yang Cedera, Oknum Guru di Kalsel Justru Berbuat Cabul

Regional
Bayar Uang Muka Tagihan Listrik yang Capai Belasan Juta Rupiah, Suratno Harus Jual 7 Pohon Miliknya

Bayar Uang Muka Tagihan Listrik yang Capai Belasan Juta Rupiah, Suratno Harus Jual 7 Pohon Miliknya

Regional
Sosok Mendiang Bupati Situbondo di Mata Khofifah dan Emil Dardak

Sosok Mendiang Bupati Situbondo di Mata Khofifah dan Emil Dardak

Regional
Ini Alasan Putra Amien Rais Dukung Gibran pada Pilkada 2020 Kota Solo

Ini Alasan Putra Amien Rais Dukung Gibran pada Pilkada 2020 Kota Solo

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X