Dampingi 6 Pemilih Difabel, Anggota KPPS Coblos PIlihannya Sendiri

Kompas.com - 15/04/2014, 09:07 WIB
Warga usai melakukan pemungutan suara di TPS 053 Kebon Melati, Jakarta Selatan, Rabu (9/4/2014). Hari ini warga Indonesia melakukan pemilihan umum secara serentak untuk memilih calon anggota legislatif periode 2014-2019.  KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA Warga usai melakukan pemungutan suara di TPS 053 Kebon Melati, Jakarta Selatan, Rabu (9/4/2014). Hari ini warga Indonesia melakukan pemilihan umum secara serentak untuk memilih calon anggota legislatif periode 2014-2019.
|
EditorGlori K. Wadrianto
KEFAMENANU, KOMPAS.com - Nobertus Tubani, calon legislatif (caleg) daerah pemilihan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) III dari Partai Hanura melontarkan protes terhadap kinerja petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 5, Desa Lanaus, Kecamatan Insana Tengah, TTU, NTT.

Protes Nobertus terkait adanya seorang anggota KPPS bernama Marselinus Hanoe, yang mendampingi enam pemilih difabel untuk menggunakan hak suaranya di TPS. Namun tanpa bertanya pada keenam orang itu, Marselinus mencoblos sesuai dengan kehendaknya sendiri pada pemilu Rabu (9/4/2014) lalu.

“Kami anggap itu adalah permainan petugas KPPS untuk memenangkan partai tertentu sehingga mereka menggunakan cara seperti itu. Para saksi yang ada di TPS sempat melakukan protes, tetapi tidak digubris oleh petugas KPPS. Enam orang pemilih yang diwakili itu pun hanya diam saja dan mengikuti kemauan petugas KPPS,” kata Nobertus, Senin (14/4/2014) kemarin.

Dugaan kecurangan juga dilakukan oleh petugas KPPS saat membawa dua surat suara ke rumah dua orang pemilih yang sakit dan dicoblos di sana.

Sayang, Ketua KPPS TPS 5 Desa Lanaus, Izak Bonibais sulit untuk ditemui. Telepon genggamnya tidak aktif ketika dihubungi. Maselinus Hanoe pun belum bisa diminta komentarnya atas tuduhan ini.

Sementara itu, Ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kecamatan Insana Tengah, Oktovianus Oemanas mengatakan, kebijakan yang dibuat petugas KPPS TPS 5 tersebut telah melanggar aturan pemilihan umum.

“Sesuai aturan, pemilih yang difabel hanya bisa didampingi oleh satu orang saja, dan itupun atas permintaan pemilih tersebut. Tetapi di TPS 5 justru satu petugas KPPS mendampingi enam orang pemilih difabel, sehingga kita melihat hal itu adalah pelanggaran pemilu,” kata Oktovianus lagi.

Lalu, terkait dengan surat suara yang dibawa keluar hal itu jelas tidak diperbolehkan. Dalam aturan yang ada, kotak suara yang telah dibuka tidak boleh dipindahkan, baik itu kotak suara maupun surat suara.

“Terhadap pelanggaran itu kita akan koordinasikan dengan petugas KPPS dan Panitia pengawas Lapangan untuk kemudian ditindaklanjuti,” kata Oktovianus.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Diduga Salah Tembak, 2 Petani di Poso Tewas Saat Panen Kopi, Ini Penjelasan Polisi

Diduga Salah Tembak, 2 Petani di Poso Tewas Saat Panen Kopi, Ini Penjelasan Polisi

Regional
50.000 Ribu Butir Obat Batuk Disalahgunakan untuk Mabuk

50.000 Ribu Butir Obat Batuk Disalahgunakan untuk Mabuk

Regional
Ibu Hamil 9 Bulan yang Ditinggal dan Bergantung Tetangga: 'Tolong Jangan Cari Suami Saya'

Ibu Hamil 9 Bulan yang Ditinggal dan Bergantung Tetangga: "Tolong Jangan Cari Suami Saya"

Regional
Ingin Awet Muda dan Cepat Kaya, Oknum Karyawan Tambang Nekat Curi Celana Dalam, Ini Ceritanya

Ingin Awet Muda dan Cepat Kaya, Oknum Karyawan Tambang Nekat Curi Celana Dalam, Ini Ceritanya

Regional
Saat Polisi Kaget Dipergoki Rekan Seprofesinya, Ketahuan Isap Sabu-sabu

Saat Polisi Kaget Dipergoki Rekan Seprofesinya, Ketahuan Isap Sabu-sabu

Regional
Kadis Pariwisata NTB: Konsep New Normal, Hotel Harus Siapkan Klinik

Kadis Pariwisata NTB: Konsep New Normal, Hotel Harus Siapkan Klinik

Regional
Warga Pasuruan Tewas Dilempar Bom Ikan, Pelaku Diduga Masuk dari Jendela

Warga Pasuruan Tewas Dilempar Bom Ikan, Pelaku Diduga Masuk dari Jendela

Regional
Keluarga Ambil Paksa Jenazah Pasien Positif Covid-19 dari Rumah Sakit di Surabaya

Keluarga Ambil Paksa Jenazah Pasien Positif Covid-19 dari Rumah Sakit di Surabaya

Regional
Pasien Covid-19 Tertua dan Bocah 3 Tahun di Sorong Dinyatakan Sembuh

Pasien Covid-19 Tertua dan Bocah 3 Tahun di Sorong Dinyatakan Sembuh

Regional
Penularan Covid-19 Disoroti Presiden Jokowi, Pemprov Kalsel: Kasus Turun di Akhir Juli

Penularan Covid-19 Disoroti Presiden Jokowi, Pemprov Kalsel: Kasus Turun di Akhir Juli

Regional
Berpacaran dengan Orang yang Sama, 3 Oknum TNI Aniaya Pelajar SMA di Depan Rumah si Gadis

Berpacaran dengan Orang yang Sama, 3 Oknum TNI Aniaya Pelajar SMA di Depan Rumah si Gadis

Regional
519 Pasien Covid-19 di Surabaya Sembuh Dalam 5 Hari, Ini Rahasia Risma

519 Pasien Covid-19 di Surabaya Sembuh Dalam 5 Hari, Ini Rahasia Risma

Regional
Viral, Nenek 67 Tahun di Minahasa Menolak BLT, Alasannya Bikin Terharu

Viral, Nenek 67 Tahun di Minahasa Menolak BLT, Alasannya Bikin Terharu

Regional
Filosofi dan Janji Ridwan Kamil Soal Pandemi di Balik Sebuah Rompi..

Filosofi dan Janji Ridwan Kamil Soal Pandemi di Balik Sebuah Rompi..

Regional
Dalam Waktu 3 Hari, 2 Jenazah PDP di Makassar Diambil Paksa Keluarga, Ini Fakta Lengkapnya

Dalam Waktu 3 Hari, 2 Jenazah PDP di Makassar Diambil Paksa Keluarga, Ini Fakta Lengkapnya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X