Harga Tembakau Mahal, Petani Tetap Merugi

Kompas.com - 16/09/2013, 10:47 WIB
Petani di Desa Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan, sedang memanen tembakau. Tahun ini meskipun harga tembakau mahal, petani mengaku tetap rugi karena faktor anomali cuaca. KOMPAS.com/TaufiqurrahmanPetani di Desa Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan, sedang memanen tembakau. Tahun ini meskipun harga tembakau mahal, petani mengaku tetap rugi karena faktor anomali cuaca.
|
EditorGlori K. Wadrianto
PAMEKASAN, KOMPAS.com - Harga pokok penjualan (HPP) tembakau tahun ini oleh Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur dipatok Rp 24.000 per kilogram. Sementara harga pembelian tembakau oleh perwakilan pabrikan rokok yang ada di Pamekasan, mencapai Rp 30.000 sampai Rp 36.000 per kilogram.

Namun ternyata, sekalipun pabrik membeli harga mahal, petani masih mengaku rugi. Kerugian itu disebabkan anomali cuaca yang terjadi di Madura sejak awal masa tanam tembakau. Kondisi itu menyebabkan tanaman tembakau mati terendam banjir.

Bagi petani yang tidak jera, kembali menanam tembakau sampai lima kali di lahan yang sama. Ahmad Fawaid, petani asal Desa Gugul, Kecamatan Tlanakan mengaku sejak tanam awal sudah rugi Rp 4 juta. Pasalnya, empat kali menanam empat kali pula tembakaunya mati.

Satu-satunya yang hidup yakni pada tanaman yang kelima kalinya setelah hujan betul-betul tidak ada lagi sampai hari ini. "Walapun harga tembakau mahal sama sekali petani tidak untung karena harus menanam berulang-ulang," kata Fawaid, Senin (16/9/2013).

Dijelaskan Fawaid, biaya yang dikeluarkan selama menanam tembakau mencapai Rp 9 juta. Rinciannya, Rp 5 juta untuk penanaman yang berulang-ulang, Rp 1 juta biaya penggarapan lahan, Rp 2 juta biaya perawatan, Rp 1 juta biaya pemupukan.

Sementara hasil yang didapatkan dari penjualan tembakaunya hanya Rp 7,5 juta. "Ongkos bekerja selama semusim dan biaya perajangan hingga pengiriman tembakau ke gudang belum dikalkulasi. Artinya tahun ini banyak petani tetap rugi," katanya.

Sementara, stok tembakau di seluruh Pamekasan tahun ini sangat sedikit. Jumlah lahan seluas 31.000 hektar yang ditanami, hanya 5.000 hektar yang bisa diselamatkan. Sisanya mati sia-sia karena terendam banjir dan petani enggan menanam kembali.

"Meskipun tembakau sedikit tidak lantas menaikkan harga, tetapi pihak pabrik rokok tetap melihat kualitas tembakau itu sendiri," kata Ajib Abdullah, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Kabupaten Pamekasan.

Ajib menyadari bahwa tahun ini petani ada menanam tembakau sampai lima kali.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hujan Disertai Angin Kencang di Blitar, Menara Telekomunikasi Roboh Timpa Mushala

Hujan Disertai Angin Kencang di Blitar, Menara Telekomunikasi Roboh Timpa Mushala

Regional
Wali Kota Hendi Pastikan Lapangan Sidodadi Akan Direvitalisasi Jadi Sport Center

Wali Kota Hendi Pastikan Lapangan Sidodadi Akan Direvitalisasi Jadi Sport Center

Regional
Polres Banjarbaru Bongkar Praktik Prostitusi Online, 9 Orang Ditangkap

Polres Banjarbaru Bongkar Praktik Prostitusi Online, 9 Orang Ditangkap

Regional
Kasus Harian Covid-19 Menurun, Penanganan Pandemi di Jateng Terus Membaik

Kasus Harian Covid-19 Menurun, Penanganan Pandemi di Jateng Terus Membaik

Regional
Setelah Bertemu Ganjar, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tegal Kembali Muncul Berdua

Setelah Bertemu Ganjar, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tegal Kembali Muncul Berdua

Regional
Cerita Ponidjo, Warga Suriname yang Mencari Keluarganya di Sleman, Bapak Ibu Tinggalkan Tanah Air Tahun 1931

Cerita Ponidjo, Warga Suriname yang Mencari Keluarganya di Sleman, Bapak Ibu Tinggalkan Tanah Air Tahun 1931

Regional
Satu Tahun Pandemi, Mengingat Kota Tegal yang  Pertama Kali Terapkan 'Local Lockdown' di Tanah Air

Satu Tahun Pandemi, Mengingat Kota Tegal yang Pertama Kali Terapkan "Local Lockdown" di Tanah Air

Regional
Kunjungi Paguyuban Penyandang Disabilitas, Hendi Berikan Kursi Roda yang Pernah Dipakainya

Kunjungi Paguyuban Penyandang Disabilitas, Hendi Berikan Kursi Roda yang Pernah Dipakainya

Regional
Namanya Dicatut untuk FWB, Nora Istri Jerinx Lapor ke Polda Bali

Namanya Dicatut untuk FWB, Nora Istri Jerinx Lapor ke Polda Bali

Regional
Satgas Covid-19 Babel Berlakukan Patroli, Pejabat Tak Taat Prokes Kena Denda hingga Rp 10 Juta

Satgas Covid-19 Babel Berlakukan Patroli, Pejabat Tak Taat Prokes Kena Denda hingga Rp 10 Juta

Regional
Setahun Pandemi,  Pasien Covid-19 di RS Rasidin Padang Menurun, Layanan Umum Kembali Dibuka

Setahun Pandemi, Pasien Covid-19 di RS Rasidin Padang Menurun, Layanan Umum Kembali Dibuka

Regional
172 Tahun Hilang, Burung Pelanduk Kalimantan Kembali Ditemukan Warga, Difoto Lalu Dilepaskan

172 Tahun Hilang, Burung Pelanduk Kalimantan Kembali Ditemukan Warga, Difoto Lalu Dilepaskan

Regional
Gegara Suara Klakson, Devian Basry Dipukul Oknum TNI hingga Babak Belur

Gegara Suara Klakson, Devian Basry Dipukul Oknum TNI hingga Babak Belur

Regional
Tersinggung Ditanyai Kunci Motor, Seorang Kakek Aniaya Pekerja Bangunan Hingga Tewas

Tersinggung Ditanyai Kunci Motor, Seorang Kakek Aniaya Pekerja Bangunan Hingga Tewas

Regional
Rakor Bersama Jajaran Pemkab Luwu Utara, Bupati IDP Paparkan Program Prioritas

Rakor Bersama Jajaran Pemkab Luwu Utara, Bupati IDP Paparkan Program Prioritas

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X