Kriminolog: Saksi Pembunuhan Sisca Harus Dilindungi

Kompas.com - 21/08/2013, 21:15 WIB
Kakak korban tampak menangis di atas peti mati berisi jasad Fransisca Yofie (30) alias Sisca, wanita yang diduga korban penganiayaan saat hendak dibawa dari kamar mayat Rumah Sakit Hasan Sadikin ke rumah duka Nana Rohana, Bandung, Selasa (6/8/2013). TRIBUN JABAR/DICKY FADJAR DJUHUDKakak korban tampak menangis di atas peti mati berisi jasad Fransisca Yofie (30) alias Sisca, wanita yang diduga korban penganiayaan saat hendak dibawa dari kamar mayat Rumah Sakit Hasan Sadikin ke rumah duka Nana Rohana, Bandung, Selasa (6/8/2013).
|
EditorKistyarini

BANDUNG, KOMPAS.com - Kriminolog Universitas Padjajaran Yesmil Anwar berpendapat banyaknya saksi mata yang enggan menolong korban kejahatan adalah karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap penegakan hukum.

Seperti yang terjadi pada terlambatnya pertolongan pada Franciesca Yofie, korban pembunuhan sadis di Cipedes, Bandung, awal Agustus lalu.

"Itu menjurus kepada kesadaran hukum di masyarakat. Kesadaran hukum di masyarakat itu memang masih lemah. Kenapa lemah? Karena hukum juga tidak memberikan banyak manfaat untuk mereka (saksi)," kata Yesmil di Bandung, Selasa (21/8/2013).

Ia juga menilai jika masyarakat takut dan khawatir dengan gangguan berupa teror yang membuat orang menjadi tidak nyaman ketika harus memberikan kesaksian kepada polisi. Apalagi, kata dia, dalam kasus Sisca ada dugaan keterlibatan oknum kepolisian.

"Banyak yang takut, karena banyak membuat orang-orang menjadi terganggu dan merasa tidak nyaman kalau dia (saksi) harus masuk ke pengadilan," ujarnya.

Menurut Yesmil, agar para saksi mau memberikan pernyataan dan kesaksian tanpa harus takut terintimidasi dan harus ada jaminan perlindungan kepada saksi. Baik dari kepolisan maupun Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

"Mestinya LPSK harus menjamin, memberikan perlindungan terhadap saksi dan korban, walaupun tidak diminta," tegasnya.

Sementara itu, Yesmil juga menilai, banyaknya saksi mata pembunuhan Sisca yang lebih memilih memberikan kesaksian ke media massa ketimbang ke pihak kepolisian, disebabkan lantaran masyarakat tidak mau "riweuh" (ribet) berhubungan dengan proses hukum.

"Kalau ke polisi (memberikan keterangan) nanti akan jadi riweuh. Takut jadi masalah," kata Yesmil.

Padahal, kata dia, polisi sebenarnya berhak untuk meminta seseorang menjadi saksi dalam penyidikan. "Itu yang seharusnya dilakukan," ucapnya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BIN Gelar Rapid Test Massal di Kawasan Zona Merah Surabaya, 153 Orang Reaktif

BIN Gelar Rapid Test Massal di Kawasan Zona Merah Surabaya, 153 Orang Reaktif

Regional
Pasien Positif Covid-19 di Sulut Bertambah 17, Terbanyak dari Klaster Pasar Pinasungkulan Manado

Pasien Positif Covid-19 di Sulut Bertambah 17, Terbanyak dari Klaster Pasar Pinasungkulan Manado

Regional
Pilkada Diundur, Bakal Cagub Sumbar Siapkan Dana Ekstra sampai Rp 50 Miliar

Pilkada Diundur, Bakal Cagub Sumbar Siapkan Dana Ekstra sampai Rp 50 Miliar

Regional
Pemprov Sulsel Klaim 12 Kabupaten Sudah Aman dari Covid-19

Pemprov Sulsel Klaim 12 Kabupaten Sudah Aman dari Covid-19

Regional
Honda Jazz Remuk Tertabrak Kereta di Grobogan, Terseret 30 Meter lalu Jatuh ke Sawah

Honda Jazz Remuk Tertabrak Kereta di Grobogan, Terseret 30 Meter lalu Jatuh ke Sawah

Regional
Fakta Ayah Setubuhi 2 Anak Tiri hingga Hamil, Terungkap Saat Diinterogasi Keluarga hingga Pelaku Diamuk Warga

Fakta Ayah Setubuhi 2 Anak Tiri hingga Hamil, Terungkap Saat Diinterogasi Keluarga hingga Pelaku Diamuk Warga

Regional
Pada 31 Mei, Maluku Tak Ada Kasus Positif Corona Baru

Pada 31 Mei, Maluku Tak Ada Kasus Positif Corona Baru

Regional
Pemkot Banjarmasin Putuskan Tak Perpanjang PSBB

Pemkot Banjarmasin Putuskan Tak Perpanjang PSBB

Regional
Penjagaan Ketat Perbatasan yang Didukung Warga, Kunci Lebong Nihil Covid-19

Penjagaan Ketat Perbatasan yang Didukung Warga, Kunci Lebong Nihil Covid-19

Regional
Empat Wilayah di Sumsel Bersiap 'New Normal', Palembang Tak Masuk

Empat Wilayah di Sumsel Bersiap "New Normal", Palembang Tak Masuk

Regional
Petugas Berpakaian APD Diusir dan Nyaris Diamuk Warga, Pejabat Desa: Keluarga Keberatan dan Kurang Nyaman

Petugas Berpakaian APD Diusir dan Nyaris Diamuk Warga, Pejabat Desa: Keluarga Keberatan dan Kurang Nyaman

Regional
Kawasan Wisata Lombok Barat Tutup, Ratusan Kendaraan hendak Berkunjung Dipaksa Putar Balik

Kawasan Wisata Lombok Barat Tutup, Ratusan Kendaraan hendak Berkunjung Dipaksa Putar Balik

Regional
Usai Periksa Pasien Covid-19, Perawat Diancam hingga Trauma, Ganjar: Jangan Aneh-aneh, Kita Lagi Kondisi Sulit

Usai Periksa Pasien Covid-19, Perawat Diancam hingga Trauma, Ganjar: Jangan Aneh-aneh, Kita Lagi Kondisi Sulit

Regional
Dari 62 Kasus Positif Covid-19 di Sukabumi, 59 Pasien dari Klaster Institusi Negara

Dari 62 Kasus Positif Covid-19 di Sukabumi, 59 Pasien dari Klaster Institusi Negara

Regional
3 Warga Ngada NTT Tewas Keracunan Belerang Saat Bakar Sarang Lebah

3 Warga Ngada NTT Tewas Keracunan Belerang Saat Bakar Sarang Lebah

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X