Kompas.com - 02/07/2013, 09:33 WIB
Pengendara sepeda motor melintas diantara pekatnya asap akibat kebakaran lahan di jalan Riau Ujung Pekanbaru, Rabu (19/6/2013). Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Riau menyebabkan kebakaran lahan yang terjadi sulit untuk dipadamkan sehingga menyebabkan kabut asap menyelimuti sebagian kawasan pulau Sumatera hingga ke negara Singapura. TRIBUN PEKANBARU/MELVINAS PRIANANDAPengendara sepeda motor melintas diantara pekatnya asap akibat kebakaran lahan di jalan Riau Ujung Pekanbaru, Rabu (19/6/2013). Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Riau menyebabkan kebakaran lahan yang terjadi sulit untuk dipadamkan sehingga menyebabkan kabut asap menyelimuti sebagian kawasan pulau Sumatera hingga ke negara Singapura.
EditorKistyarini

PEKANBARU, KOMPAS.com — Sebagian warga di Provinsi Riau menolak upaya pemadaman kebakaran lahan dan hutan. Pemadaman dinilai mengganggu proses penyiapan lahan untuk perkebunan mereka.

Juru Bicara Satuan Tugas Pemadaman Kebakaran Lahan, Komisaris Besar Agus Rianto, mengatakan, penolakan terjadi di beberapa tempat di Riau. Mereka menolak tim pemadam bekerja di lahan-lahan yang terbakar. ”Sebagian masyarakat di Riau terbiasa membakar lahan untuk persiapan kebun,” ujarnya, Senin (1/7/2013), di Pekanbaru, Riau.

Penolakan, antara lain, terjadi di Rokan Hilir, Siak, dan Pelalawan. Masyarakat menghadang mobil pemadam mendekati lahan yang terbakar. Mereka beralasan, pemadaman bisa mengganggu penyiapan lahan untuk perkebunan.

Kepala Dinas Kehutanan Riau Zulkifli Yusuf mengakui bahwa teknik bakar lahan paling murah untuk penyiapan lahan. Biayanya tidak sampai 10 persen jika harus menggunakan alat berat dan pemupukan. ”Dengan pembakaran, lahan bisa bersih sekaligus kondisi tanahnya lebih ideal untuk ditanami,” tuturnya.

Tingkat keasaman (pH) lahan gambut rata-rata di level 3. Agar ideal, pH lahan harus dinaikkan menjadi skala 6 hingga 7. Jika menggunakan pupuk, dibutuhkan dana jutaan rupiah. Pemupukan juga hanya bisa dilakukan setelah lahan dibersihkan. Untuk pembersihan, harus digunakan mesin keruk agar cepat selesai. ”Dengan pembakaran, paling banyak habis Rp 1 juta,” ujarnya.

Teknik itu diduga tidak hanya dipakai oleh petani perseorangan. Sejumlah perusahaan diduga menggunakan teknik itu demi alasan efisiensi waktu dan biaya. Karena itu, aparat tengah menyelidiki dugaan keterlibatan perusahaan dalam kebakaran lahan di Riau. Dasar dugaan itu, antara lain, karena 405 titik api terpantau di area hutan tanaman industri (HTI). Selain itu, terpantau pula 225 titik api di hutan produksi di Riau.

Anggaran

Kepala Bidang Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo menuturkan, pemadaman kebakaran di Riau sudah menghabiskan Rp 47,7 miliar dari Rp 70 miliar yang disiapkan. Anggaran itu, antara lain, dipakai untuk hujan buatan Rp 15 miliar, sewa helikopter Rp 1,2 miliar. ”Sewa heli belum termasuk untuk heli Kamov dan pesawat BE-200,” ujarnya.

Untuk sewa dua heli Kamov berkapasitas 4.500 liter air dianggarkan Rp 15 miliar. Dua heli Kamov dan satu pesawat Beriev BE-200 berkapasitas 12.000 liter air akan disiagakan untuk pemadaman kebakaran lahan di provinsi lain. BNPB mencatat empat provinsi di Kalimantan bersama Lampung, Sumatera Utara, dan Jambi melaporkan potensi peningkatan titik api. Tujuh provinsi itu sama-sama memiliki lahan gambut seperti Riau.

”Paradigmanya antisipatif, jadi sebelum ada kebakaran sudah siaga. Kalau bisa, jangan sampai ada kebakaran lahan di provinsi lain,” ujarnya. (RAZ)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

    Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

    Regional
    Genjot Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Optimistis Capai Target

    Genjot Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Optimistis Capai Target

    Regional
    Bertemu DPP GAMKI, Bobby Nasution Didaulat Sebagai Tokoh Pembaharu

    Bertemu DPP GAMKI, Bobby Nasution Didaulat Sebagai Tokoh Pembaharu

    Regional
    Cegah Stunting di Jabar, Kang Emil Paparkan Program “Omaba”

    Cegah Stunting di Jabar, Kang Emil Paparkan Program “Omaba”

    Regional
    Hadapi Digitalisasi Keuangan, Pemprov Jabar Minta UMKM Tingkatkan Literasi Keuangan

    Hadapi Digitalisasi Keuangan, Pemprov Jabar Minta UMKM Tingkatkan Literasi Keuangan

    Regional
    Resmikan SLB Negeri 1 Demak, Ganjar Berharap Tenaga Pendidikan Bantu Siswa Jadi Mandiri

    Resmikan SLB Negeri 1 Demak, Ganjar Berharap Tenaga Pendidikan Bantu Siswa Jadi Mandiri

    Regional
    Jabar Quick Response Bantu Warga Ubah Gubuk Reyot Jadi Rumah Layak Huni

    Jabar Quick Response Bantu Warga Ubah Gubuk Reyot Jadi Rumah Layak Huni

    Regional
    PPKM Diperpanjang, Ridwan Kamil Minta Warga Jabar Lakukan Ini

    PPKM Diperpanjang, Ridwan Kamil Minta Warga Jabar Lakukan Ini

    Regional
    Baru Diresmikan, Jembatan Gantung Simpay Asih Diharapkan Jadi Penghubung Ekonomi Warga Desa

    Baru Diresmikan, Jembatan Gantung Simpay Asih Diharapkan Jadi Penghubung Ekonomi Warga Desa

    Regional
    Disdik Jabar Kembali Izinkan Siswa Gelar Studi Wisata, asalkan...

    Disdik Jabar Kembali Izinkan Siswa Gelar Studi Wisata, asalkan...

    Regional
    Antisipasi Hepatitis Akut, Pemprov Jabar Siapkan Skenario Jitu dengan Teknologi Molekuler Terbaru

    Antisipasi Hepatitis Akut, Pemprov Jabar Siapkan Skenario Jitu dengan Teknologi Molekuler Terbaru

    Regional
    Melalui BLUD, Ridwan Kamil Optimistis Pendidikan di Jabar Bisa Hasilkan Prestasi

    Melalui BLUD, Ridwan Kamil Optimistis Pendidikan di Jabar Bisa Hasilkan Prestasi

    Regional
    Tidak Libur Lebaran, 21 Anggota Jabar Quick Response Bantu Operasi SAR Evakuasi Korban Banjir Bandang Sumedang

    Tidak Libur Lebaran, 21 Anggota Jabar Quick Response Bantu Operasi SAR Evakuasi Korban Banjir Bandang Sumedang

    Regional
    Ramadhan dan Lebaran Usai, Wagub Uu Ajak ASN Semangat Laksanakan Tugas

    Ramadhan dan Lebaran Usai, Wagub Uu Ajak ASN Semangat Laksanakan Tugas

    Regional
    Jadwal Masuk Sekolah Ditunda, Ridwan Kamil: Kami Apresiasi, asal Tidak Mengganggu KBM

    Jadwal Masuk Sekolah Ditunda, Ridwan Kamil: Kami Apresiasi, asal Tidak Mengganggu KBM

    Regional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.