Salin Artikel

Nasi Oyek, Kuliner yang Jadi Saksi Perjuangan Jendral Soedirman Ketika Bergerilya

KOMPAS.com - Nasi oyek adalah makanan tradisional asal daerah Jawa yang terbuat dari singkong.

Karena memiliki kesamaan bahan baku, tidak jarang di beberapa daerah sajian nasi oyek disebut serupa dengan sajian tiwul.

Nasi Oyek biasanya disajikan di atas pincuk daun pisang dengan taburan kelapa parut yang ditambahi garam atau diberi bumbu rempah, atau juga bersama lauk tradisional seperti wader atau pecel.

Sajian nasi oyek sempat dianggap sebagai panganan yang disajikan pada masa susah, seperti saat beras sedang langka karena paceklik atau harganya tidak terjangkau.

Saat ini nasi oyek sudah naik kelas, dengan dijual di berbagai situs toko daring, bahkan menjadi salah satu kuliner tradisional yang diburu penikmat jajanan jadul.

Nasi oyek yang sudah dikemas secara modern banyak dijual di situs toko daring dengan nama nasi singkong atau beras singkong.

Kepopuleran produk kuliner ini cukup beralasan karena nasi oyek adalah karena produk pangan alternatif pengganti beras atau nasi sebagai makanan pokok sehari-hari.

Sejarah Nasi Oyek

Dilansir dari laman indonesia.go.id, sebenarnya tidak diketahui pasti kapan pertama kali nasi oyek ditemukan dan dikonsumsi.

Namun dalam beberapa literasi kuliner tradisional, disebutkan bahwa nasi oyek mulanya berkembang di daerah Kebumen, Cilacap, dan Banyumas di Jawa Tengah.

Namun yang pasti, nasi oyek pernah menjadi makanan pokok pengganti nasi beras di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kondisi sulit yang dihadapi saat itu membuat rakyat kesulitan untuk mendapatkan beras sebagai makanan pokok sehari-hari karena harganya yang sangat mahal dan persediaan yang juga langka.

Singkong pun kemudian dilirik sebagai bahan makanan pokok pengganti nasi karena tanaman ini mudah ditemukan di pekarangan dan kebun.

Singkong yang dijadikan makanan pokok diolah menjadi ragam jenis panganan, salah satunya diolah menjadi nasi oyek.

Nasi oyek juga muncul dalam kisah perjuangan Jendral Soedirman ketika menjalankan taktik perang gerilya untuk menghadapi agresi militer Belanda antara tahun 1948-1949.

Hal ini dikisahkan oleh Abu Arifin, Ajudan II Jenderal Soedirman, dalam buku Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman: Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia; Kisah Seorang Pengawal.

Kisah ini terjadi saat Jenderal Soedirman bersama pasukannya terdesak masuk ke dalam hutan rotan di wilayah Kediri, Jawa Timur, pada Desember 1948.

Arifin yang saat itu berpangkat kapten mengisahkan bahwa kondisi pasukan mengalami kelelahan dan kelaparan luar biasa karena dikepung pasukan Belanda di sekitar hutan.

Bahkan, logistik pasukan sudah tidak mendukung untuk tetap bertahan di dalam hutan tersebut.

Dalam kondisi kelaparan yang luar biasa, pasukan tersebut masih tetap bertahan untuk melakukan perlawanan.

Hingga akhirnya di suatu malam, Kapten Soepardjo Rustam yang menjabat sebagai Ajudan I Jenderal Soedirman, diperintahkan untuk menembus barikade tentara Belanda demi bisa menuju desa terdekat di kawasan hutan rotan.

Abu Arifin mengatakan, waktu itu Kapten Soepardjo Roestam kemudian pergi dengan bermodal sarung dan baju bekas untuk ditukar makanan.

Ia pun sempat harus bersusah payah untuk menembus barikade pasukan Belanda untuk sampai ke desa terdekat.

Misi itu mampu dijalankan dengan baik olehnya, namun ternyata Kapten Soepardjo Roestam tidak kembali dengan membawa nasi, melainkan oyek.

Arifin dan pasukan semula mengira makanan yang dibawa adalah nasi, tetapi belakangan Soepardjo baru menjelaskan bahwa masyarakat di sekitar hutan hanya memiliki oyek.

Berbekal nasi oyek yang dibawa Kapten Soepardjo Roestam, Jenderal Soedirman dan pasukan akhirnya mampu bertahan selama beberapa waktu di dalam hutan rotan.

Arifin menyebut, saat itu nasi oyek bisa menjadi asupan penambah energi dan membuat seluruh pasukan tak merasa kelaparan.

Kandungan Nasi Oyek

Dilihat dari kandungannya, oyek adalah karbohidrat kompleks yang mengandung molekul seperti oligosakarida dan polisakarida.

Kandungan tersebut lebih banyak dibandingkan nasi dengan karbohidrat sederhana seperti monosakarida.

Hal ini membuat karbohidrat pada oyek akan lebih lambat diserap oleh tubuh sehingga energi yang dihasilkan dapat berlangsung secara terus-menerus.

Dengan demikian, nasi oyek bisa membuat orang yang mengkonsumsinya tidak mudah lapar dan terhindar dari kegemukan.

Cara Pembuatan dan Pengolahan Nasi Oyek

Nasi oyek biasanya dibuat dari singkong yang dipanen pada usia 12 bulan, karena teksturnya yang masih lembut dan tidak berserat.

Setelah dikupas dan dibersihkan, singkong akan direndam dalam air selama dua hari.

Singkong yang telah direndam kemudian ditumbuk hingga halus dan dibentuk menjadi pipilan kecil-kecil menyerupai butiran beras.

Hasilnya kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga kering, baru kemudian diolah atau disimpan.

Cara pengolahan nasi oyek cukup mudah, yaitu dengan mencucinya dengan bersih dan membuang serat-serta singkong yang masih terbawa.

Setelah dibersihkan, nasi oyek bisa dikukus hingga matang dan kemudian dihidangkan dengan berbagai lauk pendamping.

Sumber: indonesia.go.id  

https://regional.kompas.com/read/2023/11/19/205144778/nasi-oyek-kuliner-yang-jadi-saksi-perjuangan-jendral-soedirman-ketika

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke