Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Heru Wahyudi
Dosen

Pengurus Indonesian Asscociation for Public Administration (IAPA) Banten, Pengurus Masyarakat Kebijakan Publik (MAKPI) Banten, Pengurus ICMI Kota Serang, Banten, Akademisi di Prodi Administrasi Negara FISIP Universitas Pamulang.

Pilkada 2024 dan Kemiskinan Ekstrem di Banten

Kompas.com - 13/05/2024, 14:17 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KEMISKINAN ekstrem di Provinsi Banten seperti fenomena luas, terjalin erat dari berbagai faktor yang saling berinteraksi. Tingginya angka kemiskinan di wilayah ini menjadi fokus utama perhatian pemerintah dan masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2021, sebanyak 14,3 persen penduduk Banten atau sekitar 1,4 juta jiwa terjerumus dalam jurang kemiskinan ekstrem.

Kendati berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI, angka kemiskinan ekstrem di Provinsi Banten sampai Maret 2023 sebesar 0,43 persen, atau masuk pada kategori daerah di bawah 1,1 persen (Banten.suara.com, 10/11/2023).

Persoalan ini berakar dari laju pertumbuhan penduduk yang tak terkendali. Ledakan populasi menghambat pencapaian tujuan ekonomi, khususnya kesejahteraan rakyat, dan memperparah angka kemiskinan.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang stagnan, tertinggal jauh dari laju pertambahan penduduk, turut memperparah situasi dengan memicu pengangguran dan kemiskinan, (H. Elola, 2019).

Faktor lain yang memperparah kemiskinan ekstrem di Banten adalah rendahnya kualitas pendidikan dan sumber daya manusia (SDM).

Rendahnya tingkat pendidikan dapat menjerumuskan individu ke dalam lingkaran setan ketidakmampuan dan keterbatasan, sehingga mereka terpinggirkan dari dunia kerja dan terjebak dalam kemiskinan, ( Fauzi et.al, 2018).

Pemerintah perlu mengambil langkah strategis meningkatkan investasi di bidang pendidikan dan pengembangan SDM. Masyarakat miskin ekstrem perlu diberdayakan agar memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.

Edukasi publik mengenai pentingnya pendidikan dan kualitas SDM dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem juga harus digencarkan.

Di sisi lain, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan menjadi kunci untuk memutus mata rantai kemiskinan ekstrem.

Pemerintah juga perlu meningkatkan investasi pada infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan sanitasi. Hal ini membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin ekstrem.

Penanggulangan kemiskinan ekstrem di Banten menuntut pendekatan komprehensif dan terstruktur, diwarnai kepemimpinan visioner dan kolaborasi multi-pihak.

Tantangan pertama terletak pada pemahaman akar permasalahan. Kemiskinan bukan hanya soal kekurangan finansial, tetapi juga akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kepemilikan aset.

Pemimpin yang efektif harus mampu menganalisis situasi secara menyeluruh dan merumuskan solusi komprehensif.

Tantangan kedua adalah alokasi sumber daya yang tepat. Dana dan program harus diarahkan secara efektif untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Halaman:
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com