Salin Artikel

Kisah Nenek Rosalia, Bertahan Hidup di Gubuk Reyot, Kerap Hanya Makan Ubi dan Pisang

Sejak sang suami meninggal pada 20 tahun silam, ia hidup bersama putranya Herman Jata (50).

Di gubuk tersebut, keduanya hidup serba kekurangan. Tempat tinggal mereka berlantai tanah, dinding bambu, dan beratapakan seng.

Dinding gubuk itu sudah banyak yang berlubang lantaran termakan usia. Atapnya juga sudah banyak yang bocor. Saat hujan, mereka mencari bagian yang aman agar bisa istirahat.

Nenek Rosalia dan anaknya hidup di gubuk tanpa penerangan listrik. Meskipun jaringan listrik negara sudah masuk di dusun Heso, tetapi mereka tak punya biaya untuk membeli meteran dan intalasi.

Pada malam hari mereka mengandalkan pelita berbahan bakar minyak tanah. Jika minyak tanah habis, mereka terkadang mengandalkan penerangan api dari tungku.

Sementara untuk istirahat, keduanya tidur tanpa penerangan.

Nenek Rosalia tak memiliki kasur. Dia tidur beralaskan tikar yang sudah usang.

Herman Jata, sang anak, mengaku setiap hari ia tidak bisa berbuat banyak. Dirinya tak bisa bekerja di tempat yang jauh karena sang ibu sudah sakit-sakitan.

Setiap hari, ia harus memasak dan memberi makan untuk sang ibu.

"Paling saya keluar pergi cari kayu, ubi, dan sayur ke kebun. Tidak bisa lama juga. Karena, mama tidak bisa buat apa-apa lagi. Semuanya serba dibantu," tutur Herman saat berbincang dengan Kompas.com, di kediaman mereka, Minggu (26/6/2022).


Makan ubi dan pisang

Lantaran tak bisa mencari uang di tempat jauh, Herman dan nenek Rosa pun hidup apa adanya.

Saat ada uang, hasil kerja serabutan, mereka bisa beli beras. Saat tak ada beras, keduanya hanya mengonsumsi pisang dan ubi kayu.

"Seringkali rebus ubi dan pisang saja. Supaya kencang, saya buatkan sayur. Sayur juga tidak pernah yang namanya pakai minyak goreng. Mau beli minyak goreng, uang dari mana. Intinya kami bisa kenyang dan badan sehat," ungkap Herman.

Herman mengaku, meski dia dan ibunya hidup dalam serba kekurangan, tetapi bantuan sosial (Bansos) seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako tidak pernah menyasar keluarga mereka.

"Paling yang dapat ini Bantuan Langsung Tunai (BLT) Covid-19 dari desa. Untuk dari Pemerintah Kabupaten dan Pusat sama sekali belum pernah. Tidak tahu juga apa alasannya," ujarnya.

Ia pun berharap, pemerintah bisa membuka mata dengan kondisi keluarganya. Apalagi, kini sang ibu, sudah sakit-sakitan.

Rindu listrik

Herman dan nenek Rosalia mengaku sangat merindukan penerangan listrik. Apalagi sudah hampir dua tahun listrik negara sudah masuk di kampung itu.

"Yang kami sangat butuh sekarang ini listrik. Jujur, kami sangat merindukan itu. Mau beli uang dari mana. Untuk makan saja kami ini susah," ungkap Herman.

Herman berharap ada orang baik yang bisa membantu mereka.

"Biar meteran kecil saja. Intinya rumah kami tidak gelap gulita setiap malam," pungkasnya.

https://regional.kompas.com/read/2022/06/28/065329678/kisah-nenek-rosalia-bertahan-hidup-di-gubuk-reyot-kerap-hanya-makan-ubi-dan

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke